Prime banner

RIAU – Seperti telah disebutkan dalam pemberitaan Apakabaronline.com beberapa waktu yang lalu, seorang pekerja migran bernama Rosmaria Sitanggang (22) yang oleh Polisi Malaysia ditemukan telah meninggal dunia usai menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan, pelaku sekaligus kronologinya telah berhasil diungkap.

Seperti dituturkan oleh keluarganya, pelaku  dari pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Rosmaria, ternyata bernama Leo, sesama pekerja migran yang berasal dari Palembang.

Menjadi Korban Pembunuhan dan Pemerkosaan, Jenazah RS Terlantar 1,5 Bulan

Leo diduga sengaja menjebak Rosmaria dengan modus bisa memberikan pekerjaan. Namun, bukannya diberi pekerjaan, Rosmaria malah menjadi korban penyekapan dan perkosaan di sebuah lokasi perjudian yang sebenarnya sudah tidak beroperasi lagi alias sudah tutup.

Aksi Leo membunuh Rosmaria tergolong sadis. Selain menjadi korban perkosaan dan penganiayaan, aksi bejat pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap Rosmaria juga direkam menggunakan ponsel pelaku.

Dalam rekaman video dan cctv yang ditemukan aparat kepolisian dari pengungkapan kasus tersebut, terlihat korban melakukan perlawanan terhadap upaya perkosaan yang dilakukan pelaku. Bahkan, dia sempat mendapat tindak penganiayaan ketika lehernya dijerat menggunakan kabel sebelum akhirnya ditemukan tewas dengan kondisi sangat tidak wajar di dalam sebuah koper.

Dari penuturan abang korban, Deddy Deonatus Harianja, yang membawa jasad Romsari Sitanggang dari Malaysia mengungkapkan bahwa jasad Rosmaria ditemukan pihak kepolisian di dalam sebuah koper.Kematian tersebut sungguh tak wajar.

Dikatakan dia, sebelum meninggal dunia, Rosmaria memang mencari pekerjaan untuk ongkos pulang ke tanah air.

“Saat itu, dia  bertemu dengan pelaku bernama Leo asal Palembang, yang juga seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.” terang Dedy sebagaaimana dikutip dari Harian Riau.

“Rosmaria diajak untuk bekerja di sebuah lokasi permainana judi. Tapi, lokasi tersebut sebenarnya tutup. Pelaku menyuruh Rosmaria untuk tinggal dulu di dalam. Setelah dua hari terjadilah penyiksaan dan memasukkan tubuh Rosmaria ke dalam koper,” ujar Dedy seraya mengatakan kejadian terjadi pada tanggal 13 Oktober 2017.

Deddy mengungkapkan sebenarnya Rosmaria hanya bekerja untuk mencari ongkos untuk pulang ke Indonesia saja.

Kata Deddy yang juga seorang PMI, mengungkapkan pembunuhan Rosmaria  itu pun direkam di handphone pelaku.

“Dari video dan CCTV tampak Romsari melakukan perlawanan. Pelaku membunuh Rosmaria dengan menggunakan kabel,”ujar Deddy seraya mengatakan sebelum membunuh pelaku juga melakukan tindakan asusila.

Deddy memastikan bahwa pelaku yang bernama Leo tersebut bukanlah pacar Rosmaria. Mereka baru kenal beberapa hari saja.

Pihak kepolisian pun menemukan jasad Rosmaria pada tanggal 15 Oktober 2017.

Jasad korban tertahan di rumah sakit lantaran keurangan dana untuk biaya pemulangan. Pasalnya, Rosmari berangkat ke Malaysia melalui jalur ilegal.

Jenazah Rosmaria Sitanggang telah tiba dan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) di Kecamatan Siempatnempu Hulu, Dairi, Sumatera Utara.

Karena kondisi jenazah sudah membusuk, pihak keluarga tak lagi membuka penutup peti. Aroma tak sedap juga sudah mulai tercium dari dalam peti.

“Jenazah sudah 55 hari berada di rumah sakit. Jadi, tubuhnya (Romsari) ini kemungkinan sudah tak bagus lagi. Jadi bisa langsung dikebumikan saja. Harus cepat kita kebumikan,” ujar Deddy Deonatus Harianja.

Rosmaria  Permisi Berangkat ke Malaysia saat di Kuala Namu

Dewi Puspa Sitanggang, kakak dari Romaria Sitanggang (22) seperti dilaporkan tribun medan mengatakan sempat menahan Rosmaria untuk pergi bekerja di Malaysia.

Sebelumnya, Rosmaria sudah pernah bekerja di Medan dan Jakarta ketika baru selesai menamatkan SMA.

“Kubilang sama dia, jangan kau ke Malaysia. Kau kan jalur ilegal. Berarti kau gelap. Lebih baik kita di sini saja, kerja ke ladang. Makan juga kita,” kata Dewi sembari mengusap air matanya.

Tekad Rosmaria untuk bekerja dan mengubah kemiskinan pun tetap kuat.

Tahun 2015, sesampai di Bandara Kualanamu, Rosmaria pun mengabari ke kakaknya akan segera terbang ke Malaysia.

“Sempat mau kubilang pulang saja, tetapi hapenya langsung dimatikan. Di Malaysia Rosmaria langsung menghubungi adikku (atau abang Rosmaria) yang juga bekerja di Malaysia. Kerjaan kata abangnya, pembantu rumah tangga,”ujarnya seraya mengatakan tak tahu siapa agen yang membawa dia ke Malaysia.

Rosmaria, anak yatim-piatu anak ke delapan dari sembilan bersaudara ini selama dua tahun di Malaysia baru dua kali memberi kabar. Kabar terakhir diterima Dewi sekitar bulan Agustus.

“Katanya mau pulang dia ke kampung. Dia tanya, sama saya, apa yang mau kubelikan untukmu kak? Aku bilang, pulang saja gak usah bawa apa-apa,”ujarnya. [Asa/Net]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner