January 31, 2023

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Selamat Jalan, Bang Iyan !

3 min read

HONG KONG – Hampir 100 orang memadati ruang Ceremony Area kamar jenazah rumah sakit Tseung Kwan O, Hang Hau, Jumat (16/12) pagi. Di ruangan yang berlokasi di lantai LG rumah sakit tersebut, diadakan ibadah pemberangkatan jenazah almarhum Holiyang alias Iyan.

Kalangan keluarga dan sahabat pria pemilik Toko Iyan, penjual barang-barang elektronik di Causeway Bay Centre, ini berkumpul, memberikan penghormatan terakhir. Saking banyaknya pelayat yang hadir, keluarga sampai menyediakan 2 bus besar untuk membawa mereka mengantarkan jenazah pemilik akun Facebook Iyan Anthony ini ke tempat pembakaran di Chai Wan.

Diantara yang terlihat melayat, beberapa staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong yang merupakan sahabat almarhum, seperti Afdhal Buyung, Zal Aidi, dan Subardiyat. Terlihat pula Manager Operasional Tabloid Apakabar Plus Yuni Sze yang datang bersama suami, Marco Chow. Sedangkan ibadah pemberangkatan jenazah dalam tata cara agama Kristen tersebut dipimpin oleh Pdt. Selamet Yip.

“Terima kasih kepada semua yang sudah hadir. Saya meminta maaf atas nama Koko, kalau Koko ada salah. Terima kasih banyak,” ujar A Chi, adik Iyan, sambil terbata-bata menahan tangis, saat memberikan sambutan, mewakili keluarga.

Iyan meninggal dunia di rumah sakit Tseung Kwan O, pada tanggal 29 November, jam 16.39, akibat serangan jantung yang menderanya secara tiba-tiba. Pria kelahiran 4 Maret 1973 yang dikenal ramah ini meninggalkan seorang istri bernama Susan alias Lim Chai Lang serta 2 anak: Chan Yuen Ching dan Holiyang Tsz Him Anthony.

Hampir 100 orang menghadiri ibadah pemberangkatan jenazah Iyan

Tentang Bang Iyan

Sosok Holiyang lahir 4 Maret, 43 tahun silam. Ia lebih sering dipanggil dengan nama akrab “Bang Iyan”. Namanya cukup dikenal oleh kalangan warga Indonesia di Hong Kong sejak 2006 silam. Holiyang adalah sosok yang mudah berbaur dengan orang di sekelilingnya, berdedikasi tinggi, humoris dan sangat mencintai keluarganya.

Awal mula datang dan tinggal di Hong Kong, Holiyang membangun rumah tangga dengan Susan, istri tercinta. Kehidupan mereka berawal dari sebuah kamar kos kecil di daerah Mong Kok. Di situlah perjuangan di Negeri Beton ini mereka mulai.

Berawal dengan usaha mengisi lagu-lagu di HP dengan menggelar lapak di Victoria Park, Iyan memulai perjuangan demi membahagiakan orang tua dan istrinya. Setiap hari sebelum berangkat kerja, almarhum selalu memasak dan mengantar sendiri makan siang buat istrinya yang saat itu masih bekerja pada orang lain.

Ketekunannya dari hasil mengisi lagu dan hasil kerja sang istri mereka kumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa pindah ke apartemen yang agak besar di To Kwa Wan. Iyan pun akhirnya mampu membawa orang tuanya jalan-jalan ke Hong Kong dan Shanghai, sekaligus melihat indahnya kota metropolitan di mana ia berjuang.

Impian Iyan yang pertama adalah membahagiakan orang tuanya, mengangkat kehidupan mereka supaya lebih baik dan nyaman. Dan dia sudah lakukan itu semua.

Tuhan memberkati sosok Iyan yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Rejekinya pun makin lancar setelah membahagiakan orangtuanya. Hingga pada akhirnya Iyan-Susan mampu membuka usaha sendiri, yakni Toko HP dan Laptop kecil-kecilan.

Usahanya pun berjalan lancar. “Toko Iyan” pun makin besar dan lengkap.

Beberapa tahun kemudian pasangan Iyan-Susan dikarunia pangeran kecil buah dari cinta kasih mereka. Anak semata wayangnya, Holiyang Tze Him Anthony atau biasa dipanggil Him-him.

Bagi almarhum Iyan, Him-Him adalah malaikat kecil yang begitu memberikan segala energi positif, memberikan pencerahan dan penerangan di dalam hidupnya. Semua yang dia lakukan, tak elak hanya demi putra tercintanya. Hidupnya terasa lebih hidup dengan kehadiran Him-Him. Almarhum begitu bangga atas apapun tentang putranya yang cerdas itu.

Kini, malaikat kecil itu almarhum titipkan sebagai penjaga hati istri tercintanya atau ibunda dari Him-Him, Susan. Andai almarhum sempat berpesan kepada putranya, dia pasti akan amanahkan “Jagalah Bunda, Anakku! Jagalah hati Bundamu! Engkaulah wakil Papa!” Engkaulah kebanggaan dan penerus semangat Papa!”

Him-Him (tengah) memegang foto mendiang ayahnya

Almarhum Iyan di Mata Sahabat dan Teman

Dalam hubungan pekerjaan, almarhum Iyan sama sekali tak pernah menganggap pegawai adalah pekerja. Dia menganggap mereka adalah bagian dari keluarganya. Bagian dari kehidupannya. Ia tak segan-segan berbagi dalam hal apapun, bahkan urusan makan siang saja sering Iyan tak keberatan menjadi “delivery man” buat karyawannya.

Bahkan, ia sangat paham apa makanan kesukaan mereka. Tak jarang ia jauh-jauh membeli “lai cha” favorit mereka dari Kowloon. Makan bersama, bercanda, curhat satu sama lain, itulah hari-hari semasa almarhum di Toko Iyan bersama rekan tercinta. Tak ada jarak sama sekali mana bos, mana Pegawai. Semua sama. Semua adalah keluarga. Tuhan selalu memberkati Almarhum Iyan dengan orang-orang yang baik karena ia adalah sosok yang sangat baik.

Selamat jalan, Bang Iyan! Damailah Kau di Surga, Holiyang! Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik buatmu! [Yuni/Razak]

Advertisement
Advertisement