June 14, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

90 Tahun Sumpah Pemuda, Sudahkan Menjadi Pemuda Indonesia Sesuai Sumpahnya ?

3 min read

Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Namun nasionalisme yang pernah dicetuskan dengan sumpah yang amat terkemuka: “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” mulai kehilangan daya gugah. Peringatan hanya berhenti pada peringatan. Inspirasinya tidak lagi kuat. Pilar-pilar penting Sumpah Pemuda sudah kehilangan inspirasinya sebagai penggerak nasionalisme kebangsaan.

Padahal, menurut Asvi Warman Adam (2010) Sumpah Pemuda untuk pertama kalinya mampu menyatukan pergerakan perjuangan kemerdekaan yang semula bersifat kesukuan, kedaerahan serta menonjolkan indvidu menjadi komitmen kebangsaan.

Berbicara sumpah pemuda tidak mungkin melupakan kiprah pemuda. Namun gegap gempita peran pemuda itu di masa lalu kini banyak digugat dan dipertanyakan. Peran pemuda yang menonjol pada masa perjangan kemerdekaan kini terasa luntur. Pemuda makin kehilangan panggilan sucinya untuk membela bangsa dan negara.

Peran pemuda sebagai agen perubahan justru menunjukkan cermin retak yang memprihatinkan. Jangankan menjadi motor penggerak untuk pembebasan bangsanya, sedikit kiprah pemuda yang dapat dirasakan. Tampak ke permukaan belakangan ini kesatuan dan persatuan pemuda justru kian tercerai berai.

Idealisme sebagai pemuda yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa justru kian pudar. Dan pemuda sendiri kian merasakan krisis kiprah atau peran di tengah masyarakat, bangsa dan negara. Pada dataran ini pemuda semakin kehilangan jati dirinya di tengah-tengah kehidupan bangsa yang sebenarnya memiliki banyak tantangan yang memanggil peran dan kiprah pemuda.

Dalam kondisi ini terjadi dilematis. Pemuda yang tengah dalam usia tumbuh kembang memiliki banyak wajah dalam dirinya. Di satu sisi pemuda menunjukkan wajah perkembangan yang belum selesai. Karena itu masih melekat agresivitas, semangat yang menyala-nyala namun sering mentalnya masih lemah dan kurang dalam pengendalian diri. Pada kondisi ini pemuda lebih mudah terombang-ambing antara realitas dengan idealisme.

Pemuda juga lebih mudah menerima pengaruh buruk dari lingkungannya. Pemuda meski mempunyai sejumlah kerentanan namun juga memiliki karakter kritis, semangat bernyalanyala dan belum terkontaminasi oleh berbagai kepentingan, sejatinya dapat diberdayakan untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Sayangnya, tidak banyak akses tersedia bagi kaum muda untuk berkiprah. Ketegangan ini muncul karena di satu sisi sebagai agen perubahan di sisi yang lain berhadapan dengan realitas yang buntu karena kuatnya politik kepentingan kekuasan.

Celakanya, kondisi pemuda seperti ini justru sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu seperti partai politik, elite kekuasan, elite agama untuk menjalankan agenda-agendanya. Akhirnya pemuda gagal menjadi agen perubahan. Pemuda digoda elite politik untuk masuk dalam kancah politik praktis. Sebagian terjebak dalam pragmatisme atas nama uang seperti menjadi pelaku unjuk rasa bayaran, menjadi pendemo berbayarkan atas nama pengusaha. Banyak pemuda kehilangan idealisme kebangsaan untuk kepentingan pragmatisme jangka pendek. Sebagian lain menjadi penikmat hedonisme dan terperangkap dalam gaya hidup pragmatis.

Yang lebih tragis lagi banyak pemuda justru bersedia “diperalat” dan diprovokasi atas nama politik kekuasan untuk melakukan aksi-aksi tertentu. Kondisi ini kian diperburuk oleh rendahnya kesadaran pemuda untuk berkontribusi bagi bangsanya.

Kepentingan itu hanya dipersempit sekadar menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan dan mendapatkan jodoh. Ikatan sosial nasionalisme kian menyempit hanya pada kelompok kepentingan mereka sendiri seperti sebatas mahalnya biaya pendidikan, sulitnya mencari lapangan kerja, serta kemiskinan yang kian menganga.

Pada hakikatnya pemuda tetap perlu diberikan tempat untuk lebih banyak berkiprah demi kepentingan dan masa depan bangsa secara keseluruhan. Semangat pemuda adalah ruh yang menghidupkan jiwa bangsa. Daya kritis dan idealisme pemuda adalah agen perubahan sosial yang penting.

Sejarah membuktikan peran itu di masa lalu. Sadar bahwa pola nasionalisme sudah berbeda dengan era merebut dan mempertahankan kemerdekaan maka diperlukan cara baru dalam memandang pemuda. Di era baru pergerakan pemuda ini perlu model-model pemberdayaan pemuda yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang. Nasionalisme tidak cukup hanya bermodalkan kebanggaan sebagai bangsa dan negara. Mereka pun membutuhkan wadah untuk berkiprah sesuai konteks zaman.

Nasionalisme harus memberi tempat kepada pemuda untuk berperan. Pemuda harus diberi kerangka dan cara pandang baru di tengah banyaknya tantangan. Pemuda harus tetap ditempatkan dalam motor perubahan bangsa di masa depan. Mereka harus dijadikan bagian dari solusi, bukan sumber persoalan.[P Mujiran]

Advertisement
Advertisement