Agar PMI Lebih Siap Kerkompetisi di Pasar Global, Begini yang Dilakukan Kementrian Perlindungan Pekerja Migran
2 min read
JAKARTA – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mendorong penguatan ekosistem vokasi guna meningkatkan daya saing pekerja migran Indonesia di pasar global. Langkah ini dilakukan lewat kolaborasi dengan berbagai lembaga pelatihan dan asosiasi.
Direktur Kelembagaan Vokasi KP2MI, Abri Danar Prabawa, mengatakan penguatan sistem vokasi menjadi kunci dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan pasar internasional.
“Forum ini menjadi momentum strategis untuk menyatukan langkah dalam membangun sistem vokasi yang terarah, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan pasar kerja global,” kata Abri dalam Rapat Pengembangan E-Vokasi di Kantor Kementerian P2MI, Senin 13/4/2026.
Forum tersebut dihadiri sejumlah asosiasi dan lembaga pelatihan, seperti P4MI, OP3I, P3VOKASI, API-IWS, FKP-KPI, ASLI, PELITA, HIPKI, hingga lembaga bahasa internasional seperti Japan Foundation Indonesia dan Goethe-Institut Indonesien.
Abri menambahkan, Indonesia saat ini berada dalam fase bonus demografi dengan jumlah usia produktif yang besar. Namun, kondisi ini perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, permintaan tenaga kerja global di sektor caregiver, hospitality, manufaktur, dan jasa terus meningkat. Sayangnya, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
“Pemerintah pun menargetkan penyiapan dan penempatan sekitar 500 ribu Pekerja Migran terampil sebagai bagian dari strategi peningkatan kontribusi tenaga kerja Indonesia di tingkat global,” jelasnya.
Dalam upaya tersebut, sambung Abri, pendidikan dan pelatihan vokasi dinilai menjadi pintu masuk utama. Penguatan dilakukan melalui peningkatan sertifikasi kompetensi, kemampuan bahasa asing, serta penguatan soft skills.
KP2MI juga mengembangkan sejumlah program, seperti Migrant Center, Kelas Migran, sekolah vokasi berbasis sektor prioritas, hingga platform digital e-Vokasi.
Ke depan, pemerintah akan fokus pada pendataan nasional lembaga vokasi, standarisasi pelatihan, serta pemetaan kapasitas pelatihan di seluruh Indonesia.
“KP2MI mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam membangun sistem penyiapan tenaga kerja yang terkoordinasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor, pemerintah optimistis dapat mencetak Pekerja Migran Indonesia yang profesional, terlindungi, dan mampu bersaing di pasar global.[]
