December 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ajaran Toleransi dari Surah Al-Kafirun

2 min read

ApakabarOnline.com – Toleransi beragama merupakan sebuah hal yang harus dijunjung tinggi oleh umat Islam. Meskipun umat Islam meyakini bahwa hanya Islam agama yang benar, bukan berarti boleh menyalahkan atau mengkafirkan pemeluk agama lain.

Toleransi beragama tepat dalam konteks beragama di Indonesia di mana tidak hanya dihuni oleh satu agama saja, akan tetapi enam agama, yaitu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Protestan, dan Kong Hucu.

Tauladan toleransi menemukan relevansi ketika Nabi Muhammad menjadi kepala negara di Madinah. Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang beragam agama, namun Nabi Muhammad mentoleransi semua pemeluk agama.

Surah Al-Kafirun adalah salah satu surah dalam Al-Qur’an yang memberikan pesan-pesan toleransi yang mendalam. Pada surah tersebut misalnya terdapat ayat yang berbunyi; laa a’budu maa ta’budun; aku tidak menyembah apa yang mereka sembah.” Ini memberi pesan bahwa bertoleransi dengan agama lain memang harus meyakini secara total kebenaran agama sendiri.

Pada akhir ayat surah Al-Kafirun disebutkan ayat berbunyi, “lakuk dinukum wa liyadin; bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Ini memberi pesan bahwa tidak selayaknya antarumat beragam bertikai, atau saling menyalahkan satu sama lain.

Toleransi dijunjung tinggi oleh Al-Qur’an dan salah satunya melalui surah Al-Kafirun ini. Sebab seandainya tidak ada toleransi, maka tidak ada ketenangan dalam beragama, satu dengan yang lain antar-umat beragama sibuk dengan menyalahkan dan klaim kafir pada yang berbeda.

Oleh hal demikian dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” QS. Al-Hujurat: 11.

Al-Qur’an melarang keras perilaku menyalahkan, intoleransi, atau mengolok kelompok lain yang berbeda. Sebab Al-Qur’an adalah kitab toleransi.[]

Advertisement
Advertisement