April 17, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Akibat yang Dibawa Pemimpin Dzalim

4 min read

JAKARTA – Al-Qur’an dan hadis menjelaskan akibat dari menjadi pemimpin yang zalim. Salah satunya adalah pemimpin tersebut akan diharamkan masuk surga jika meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya.

Dalam Islam, pemimpin adalah figur yang memiliki otoritas dan kekuasaan pada suatu wilayah atau komunitas. Pemimpin dapat berupa seorang raja, presiden , atau kepala organisasi.

Sedangkan zalim dalam Islam adalah meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Secara sederhana, kata zalim adalah tidak adil dan kejam.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian zalim adalah tidak memiliki belas kasih. Dengan artian seorang individu atau kelompok yang menyakiti perasaan orang lain secara lahir maupun batin.

Sifat zalim ini termasuk dalam sifat tercela yang dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim harus menjauhi sifat zalim.

Allah SWT telah menegaskan bahwa orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa alasan yang benar, akan mendapatkan siksa yang pedih.

Dikutip dari Dream.co.id, Rasulullah SAW juga menyebutkan bahwa orang yang membenarkan kebohongan dan membantu kezaliman seorang pemimpin, bukanlah bagian dari golongannya dan tidak akan datang ke Telaga Surga.

Dalam hadis juga disebutkan bahwa para penghafal Al-Qur’an yang mengunjungi para pemimpin adalah yang paling dibenci oleh Allah SWT. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa ulama adalah pemegang amanah para Rasul atas hamba-hamba Allah, namun mereka harus berhati-hati dan menjauhi pergaulan dengan para pemimpin.

Jika mereka bergaul dengan pemimpin zalim, mereka dianggap telah berkhianat kepada para Rasul. Dalam Islam, pemimpin yang zalim sangat dilarang dan perlu dihukum. Agama ini mengajarkan agar pemimpin memiliki sifat dan akhlak yang terpuji serta bertanggung jawab dalam menjalankan kekuasaannya.

Pemimpin yang zalim tidak hanya merugikan rakyatnya, tetapi juga berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memilih pemimpin yang adil dan bertanggung jawab demi kesejahteraan umat dan masyarakat.

Mengutip kalam.sindonews.com, ciri-ciri pemimpin zalim yang disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW di antaranya adalah:

 

  1. Pemimpin yang sesat

Diriwayatkan dari Aus RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Aku tidak takut (ujian yang akan menimpa) pada umatku, kecuali (ujian) para pemimpin sesat.” (HR. Ibnu Hibban).

Sufyan as-Tsauri menggambarkan mereka dengan mengatakan: “Tidaklah kalian menjumpai para pemimpin sesat, kecuali kalian mengingkari mereka dengan hati, agar amal kalian tidak sia-sia.”

 

  1. Pemimpin yang bodoh

Dari Jabir bin Abdillah RA bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Ka’ab bin Ajzah:

Artinya: “Aku memohon perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh.” (HR Ahmad).

 

Dalam hadis riwayat Ahmad di atas dikatakan bahwa maksud pemimpin yang bodoh adalah pemimpin yang tidak menerapkan nilai-nilai syariah Islam.

 

  1. Pemimpin yang menolak kebenaran dan menyeru pada kemungkaran

Dari Ubadah bin Shamit RA berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mentaatinya.” (HR Ibnu Abi Syaibah).

 

  1. Pemimpin yang memerintah dengan mengancam dan menekan rakyatnya

Dari Abu Hisyam as-Silmi RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (berjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak suka dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji mereka) dengan keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi kepada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani).

 

  1. Pemimpin yang mengangkat pembantu orang-orang jahat

Dari Abu Hurairah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Akan datang di akhir zaman nanti para penguasa yang memerintah dengan sewenang-wenang, para pembantunya (menteri-menterinya) fasik, para hakimnya menjadi penghianat hukum, dan para ahli hukum Islam (fuqaha’nya) menjadi pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pemungut cukai (kerana khawatir akan bersubahat dengan mereka).” (HR. Thabrani).

 

  1. Pemimpin diktator

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya seburuk-buruknya para penguasa adalah penguasa al-huthamah (diktator).” (HR. Al-Bazzar).

Pemimpin al-huthamah (diktator) adalah pemimpin yang menggunakan politik tangan besi terhadap rakyatnya dengan memaksakan rakyat meskipun tidak disukai oleh rakyatnya.

Dari Abu Layla al-Asy’ari bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Artinya: “Dan akan datang para pemimpin, jika mereka diminta untuk mengasihani (rakyat), mereka tidak mengasihani; jika mereka diminta untuk menunaikan hak (rakyat), mereka tidak menunaikannya; dan jika mereka disuruh berlaku adil mereka menolak keadilan. Mereka akan membuat hidup kalian dalam ketakutan; dan memecah-belah tokoh-tokoh kalian. Sehingga mereka tidak membebani kalian dengan suatu beban, kecuali mereka membebani kalian dengan paksa, baik kalian suka atau tidak. Serendah-rendahnya hak kalian, adalah kalian tidak mengambil pemberian mereka, dan tidak kalian menghadiri pertemuan mereka.” (HR. Thabrani).

 

  1. Pemimpin zindik (berpura-pura beriman)

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Dua golongan umatku yang keduanya tidak akan pernah mendapatkan syafa’atku: pemimpin yang bertindak zalim (terhadap rakyatnya), dan orang yang berlebihan dalam beragama hingga sesat dari jalan agama.” (HR. Thabrani).

 

  1. Pemimpin yang menipu rakyatnya

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Akan datang kepada masyarakat tahun-tahun yang penuh tipuan dan kebohongan. Pada tahun-tahun itu pembohong dipandang jujur, yang orang yang jujur dianggap pembohong, pada tahun-tahun tersebut para penghianat dianggap orang yang amanah, sedangkan orang yang amanah dianggap penghianat. Pada saat itu yang berbicara adalah ruwaibidhah.” Lalu ada sahabat bertanya, “Apakah ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab, “Orang bodoh yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik.” (Dalam riwayat lain disebutkan, ruwaibidhah itu adalah “orang fasik yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik” dan “al-umara (pemerintah) fasik yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik”) (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Bazzar). []

Advertisement
Advertisement