April 24, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Angka Kasus Covid Diprediksi Akan Alami Lonjakan Usai Libur Natal dan Tahun Baru

3 min read

JAKARTA – Pakar epidemiologi memperkirakan jumlah kasus Covid dapat melonjak menjadi 1.000 hingga 2.000 per hari setelah liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan menggunakan masker saat berpergian maupun berkumpul bersama.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko, memprediksi jumlah kasus Nataru tahun ini akan melampaui jumlah kasus pada Lebaran kemarin.

“Kenaikan kasusnya akan lebih banyak dari yang lalu. Tapi tidak sebanyak pada waktu pandemi. Terjadinya kenaikan kasus di mana-mana, menunjukkan imunitas negara manapun itu sedang menurun,” ujarnya kepada BBC News Indonesia, Jumat (22/12/2023).

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kasus aktif hingga Jumat (22/12/2023) mencapai 2.761, dengan 453 kasus baru dan sembilan orang di antaranya meninggal. Ia mengatakan angka itu masih relatif rendah jika dibandingkan dengan standar level 1 WHO.

“Kalau sekarang 2.800 per minggu masih jauh di atas level 1 WHO yang 56.000 kasus per minggu. Jadi masih dalam kondisi yang tidak terlalu mengkhawatirkan,” kata Budi dalam konferensi pers pada Jumat (22/12/2023).

Meski begitu, ia memperkirakan Covid dengan varian baru JN.1 akan mencapai puncaknya pada Januari mendatang, hingga mendominasi varian-varian lain sebelum akhirnya menurun pada Februari 2024.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan virus Covid-19 varian JN.1 sebagai varian of interest (varian yang diperhatikan) pada Selasa (19/12) dan mengatakan bukti saat ini menunjukkan risiko terhadap kesehatan masyarakat dari jenis tersebut rendah.

Para epidemiolog dan Kementerian Kesehatan mengimbau agar masyarakat tetap taat menjalani protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan menggunakan masker, dan melengkapi dosis vaksinasi, serta menjaga daya tahan tubuh

 

‘Ternyata Covid tidak benar-benar sepenuhnya hilang’

Jemima, 23, seorang peneliti sektor transportasi, sempat dirawat di rumah sakit selama empat hari karena tertular Covid-19 dari keluarganya. Ia baru menyelesaikan isolasi mandiri selama 10 hari dan dinyatakan sembuh total pada Senin (18/12/2023).

“Tante saya yang tinggal satu rumah kena Covid, tapi tidak tahu tertular dari mana. Karena kami juga tidak ke luar negeri atau jalan-jalan. Dan saya yang pertama ketularan,” kata Jemima.

Pada awalnya, gejala yang timbul menyerupai flu, seperti radang, batuk-pilek dan demam, sehingga Jemima tidak terlalu khawatir. Ia memutuskan ke dokter setelah merasa sesak napas dan mual-mual.

“Dari Senin sampai Kamis, saya dirawat di rumah sakit dan satu ruangan dengan pasien-pasien lain yang [menderita] Covid. Tapi kami cuma berdua di ruangan itu,” ungkapnya.

Meskipun ia sudah sembuh, Jemima merasakan napasnya menjadi lebih pendek dibandingkan sebelum terkena Covid dan indra penciumannya masih belum kembali. Sehingga, ia menganjurkan agar masyarakat tetap waspada.

“Ternyata Covid tidak benar-benar sepenuhnya hilang. Meskipun dia lebih ringan daripada sebelumnya, itu tetap ada dan membuat tidak enak badan hingga menganggu hari-hari kita. Jadi lebih baik jaga diri,” ujar Jemima.

Walau ia baru sembuh, ia tetap akan datang ke acara kumpul keluarga dalam rangka perayaan Natal, kendati satu anggota keluarganya sempat terkena Covid setelah dia.

Berbeda dengan Jemima, Tunggal Pawestri dan suaminya terkena Covid saat berlibur di Taipei, Taiwan pada akhir November. Ia menduga penyakit itu menjangkitinya saat menghabiskan waktu di Singapura sebelum berangkat ke Taipei.

Tunggal pun juga mengira ia hanya terkena flu biasa karena gejala Covid yang mirip dengan flu. Namun, setelah ia mulai merasakan demam dan sakit perut, ia dan suaminya memutuskan untuk periksa ke rumah sakit di Taipei.

“Saya tes PCR yang satu jam keluar, dan langsung hasilnya positif Covid. Dan di sana tidak ada karantina, jadi memang kita disuruh kembali ke hotel untuk isolasi mandiri. Saya istirahat selama tiga sampai lima hari dan nanti periksa lagi dengan antigen,” kata Tunggal.

Tunggal mendapatkan dua jenis obat, satu yang mengandung Paracetamol dan yang kedua untuk meredakan sakit tenggorokan.

Sayangnya, ia terpaksa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya obatnya, sebab di Taiwan tes PCS dan obat-obatan tak disubsidi oleh negara – seperti di Indonesia.

“Jadi pengobatan saya habis biaya kurang lebih Rp4 juta. Untuk tes PCR, periksa dokter dan obat. Dan itu saya pikir tidak mungkin semahal itu kalau di Indonesia,” katanya. []

Sumber VOA

Advertisement
Advertisement