April 1, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Balasan dalam Kehidupan di Dunia

3 min read

JAKARTA – Dalam perjalanan hidup manusia, sering kali kita melihat kejadian yang tampak kebetulan, padahal sesungguhnya ia adalah bagian dari sunnatullah yang pasti.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Kebaikan melahirkan kebaikan, keburukan mendatangkan keburukan. Inilah hukum ilahi yang bekerja halus, namun pasti, dalam kehidupan setiap insan yang beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 7:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7)

Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan prinsip hidup. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun amal yang sia-sia. Setiap sikap, ucapan, dan niat akan kembali kepada diri kita —cepat atau lambat, tampak atau tersembunyi.

Kebaikan Dibalas Kebaikan dan Sebaliknya

Dalam realitas kehidupan, kita menyaksikan bagaimana orang yang membantu orang lain justru mendapatkan pertolongan dari arah yang tak disangka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Maka benar adanya, yang membantu akan terbantu. Bukan semata oleh manusia, tetapi oleh Allah yang menggerakkan hati dan keadaan.

Sebaliknya, siapa yang menghina orang lain, sejatinya ia sedang menanam benih kehinaan bagi dirinya sendiri. Allah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

“Wahai orang orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Karena sering kali, yang direndahkan justru lebih mulia di sisi Allah. Dan kehinaan akan berputar, kembali kepada pelakunya dalam bentuk yang menyakitkan.

Orang yang bersyukur tidak selalu diberi lebih dalam bentuk materi, tetapi hatinya dilapangkan, hidupnya dicukupkan. Allah berjanji:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Sebaliknya, kerakusan tidak pernah membawa kecukupan. Ia justru menjerumuskan pada kekurangan yang tak berujung, karena hati yang tamak tidak pernah merasa cukup.

Dunia Berputar dengan Keadilan

Dalam pergaulan, kejujuran adalah pondasi kepercayaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka siapa yang berbohong, sejatinya sedang membuka pintu agar dirinya dibohongi. Dunia ini berputar dengan keadilan yang sering tak terlihat, namun nyata dirasakan.

Begitu pula dengan menyakiti orang lain. Luka yang kita torehkan tidak hilang begitu saja. Ia akan kembali, entah melalui orang lain atau melalui keadaan. Karena setiap rasa sakit yang kita sebabkan, akan menemukan jalannya kembali kepada kita.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Kecurangan, penipuan, dan meremehkan orang lain juga tidak akan pernah berakhir dengan kemenangan. Allah Maha Adil. Apa yang kita lakukan kepada orang lain, akan menjadi cermin bagi diri kita. Bahkan dalam hal yang kecil sekalipun, balasan itu tetap berjalan.

Orang yang curang akan dicurangi. Yang menipu akan tertipu. Yang merendahkan akan direndahkan. Semua itu bukan sekadar pepatah, tetapi hukum kehidupan yang ditegaskan oleh wahyu.

Dalam hati seorang mukmin, keyakinan ini melahirkan kehati hatian. Ia tidak mudah meremehkan, tidak ringan menyakiti, dan tidak berani berlaku curang. Ia sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang akibat yang akan datang.

Ia memilih untuk berbuat baik, bukan karena ingin dipuji, tetapi karena yakin bahwa kebaikan itu akan kembali kepadanya dalam bentuk yang lebih indah.

Pada akhirnya, kehidupan adalah ladang amal. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai esok hari. Maka berhati-hatilah dalam bersikap, karena setiap perbuatan adalah benih. Dan Allah tidak pernah lalai dalam menghitungnya.

Semoga kita termasuk orang orang yang menanam kebaikan, memanen keberkahan, dan dijauhkan dari balasan yang menyakitkan akibat perbuatan kita sendiri. []

Penulis : Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply