July 24, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Bentuk Bentuk Perbuatan Dzalim yang Harus Dijauhi

3 min read

JAKARTA – Dalam pelajaran agama Islam pasti kita akan menemukan pelajaran akhlak terpuji dan akhlak tercela. Ada berbagai contoh mengenai akhlak terpuji dan akhlak tercela.

Dzalim artinya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Perilaku dzalim adalah salah satu perilaku yang Allah haramkan kepada kita di setiap keadaan. Baik itu dzalim terhadap Allah SWT, dzalim terhadap sesama manusia, dan bahkan dzalim terhadap diri kita sendiri.

Dalam suatu riwayat hadits qudsi disebutkan, Allah SWT berfirman:

“Wahai hamba-hambaKu, Aku haramkan kedzaliman pada diriku sendiri, dan jadikan suatu hal yang diharamkan pada kalian, oleh karena itu janganlah kalian saling mendzalimi.” (HR. Ahmad)

Di dalam hadits qudsi di atas, Allah SWT telah menegaskan kepada kita semua untuk menjauhkan perilaku dzalim tersebut, karena Allah SWT telah mengharamkannya. Mengapa Allah SWT mengharamkan kita sebagai hambaNya berbuat dzalim?

Selain perbuatan dzalim itu adalah perilaku yang tercela, Allah SWT Dzat pemilik alam semesta saja tidak pernah dzalim dan menganiaya manusia ataupun makhluk yang lainnya.

Jadi, kita yang hanya sebagai seorang hamba menuduh Allah SWT sudah berbuat dzalim kepada kita dengan menimpakan musibah kepada kita itu suatu kesalahan yang besar. Karena Allah SWT telah berfirman, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak mendzalimi manusia sedikitpun, tetapi manusia itulah yang mendzalimi dirinya sendiri.” (QS. Yunus:44).

Ada tiga tingkatan bentuk kedzaliman berdasarkan hadits Nabi. Rasulullah SAW bersabda:

“Kedzaliman dibagi tiga. (1) Dzalim yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT, (2) Kedzaliman yang akan diampuni olehNya, (3) Kedzaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah. Adapun dzalim yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah perbuatan syirik. Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang amat besar.’ Adapun kedzaliman yang diampuni oleh Allah adalah dzalimnya manusia pada dirinya sendiri, yakni lalainya pada hak antara mereka dan Tuhannya. Adapun kedzaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah dzalimnya manusia pada saudaranya yang lain sampai mereka saling memaafkan. (HR. Thoyalisi, dari Anas Bin Malik Ra, Mukhtarul Ahadist).

Jadi dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa terdapat 3 macam bentuk kedzaliman:

Pertama, dzalim yang tidak akan Allah ampuni. Contoh dzalim yang pertama ini adalah manusia yang berbuat syirik kepada Allah dan menduakan Allah sebagai Tuhannya. Jadi syirik adalah bentuk kedzaliman yang paling besar. Karena dia memposisikan Allah bukan pada tempat yang sebenarnya.

Kedua, kedzaliman yang akan diampuni olehNya. Contoh dzalim yang kedua ini adalah kita mengabaikan hakNya. Kedzaliman ini dapat diampuni oleh Allah jika kita bertaubat dan kita sangat menyesali atas perbuatan yang telah kita perbuat.

Ketiga, kedzaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah. Contoh dzalim ketiga ini adalah kita berbuat dzalim kepada saudara kita sendiri, sesama manusia. Syarat kedzaliman ini diampuni oleh Allah, jika kita meminta maaf pada orang yang bersangkutan, dengan catatan orang yang terzalimi ini juga memaafkan kita.

Akan tetapi, apabila orang yang terzalimi meminta balasan yang setimpal, maka Allah mensyariatkan membolehkan orang itu membalasnya. Bahkan jika orang dizalimi ini benar-benar terdzalimi dan dia berdoa untuk Allah membalas semua perbuatan yang orang itu telah perbuat, maka Allah SWT akan langsung mendengar permohonan hamba tersebut. Karena bahwasanya doa seseorang yang terdzalimi itu bisa langsung menembus ArsyNya, dan Allah mengabulkan permohonannya.

Semoga setelah mengetahui macam-macam bentuk dzalim, kita dijauhkan dari perbuatan dzalim di atas. []

Sumber Islamic Base

Advertisement
Advertisement