November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Berbelak Ilmu dari Majikan, Mantan PMI Hong Kong Asal Wonogiri Sukses Kembangkan Bakpao Lancip

3 min read
-

WONOGIRI – “Saya sebelumnya tidak kenal kuliner termasuk jajanan China. Karena 8 tahun bekerja di Hong Kong, kebetulan majikan saya seorang pengusaha kuliner, dari sana saya banyak menyerap ilmunya” tutur Sri Marsini (33) combatan Negeri Beton saat mengawali percakapan dengan ApakabarOnline.com pada Kamis (23/09/2021) kemarin.

Ibu satu anak ini mengaku beruntung lantaran dengan jajanan khas China buatannya, kepulangannya di Kampung halaman terasa semakin menemukan jalan untuk memutar roda perekonomian tanpa harus berpikir untuk kembali lagi ke Hong Kong seperti rencananya saat baru pulang kampung 3 tahun silam.

“Dulu awalnya, setelah menikah dan punya anak, saya maunya kembali ke Hong Kong. Sama sekali tidak terpikir untuk membuat beginian” kenang perempuan warga Jalan Gunung Bening Kelurahan Joho Lor Kota Wonogiri ini.

Sri menambahkan, dirinya menemukan jalan membuat usaha kuliner berupa Bak Pao saat tanpa sengaja, ibu-ibu PKK di lingkungan tempat tinggalnya membuat pelatihan membuat Bak Pao pada tahun 2018 silam.

“Saat itu, saya melihat apa yang disampaikan di pelatihan kok beda ya dengan yang saya dapatkan dari majikan. Terus saya nelpon majikan bertanya-tanya tentang membuat Bak Pao. Akhirnya majikan malah mengirimi saya video tutorial yang dia buat. Kemudian video tersebut saya jadikan rujukan” tutur Sri.

Berbekal mengkreasi apa yang diajarkan majikan, dengan dibantu oleh suami, akhirnya Sri memberanikan diri membuat Bak Pao, dan dijadikan kue suguhan saat pertemuan ibu-ibu di lingkungannya.

“Ibu-Ibu banyak yang memuji Bak Pao buatan saya. Malah Cik Yin, salah satu tetangga yang seorang keturunan Chines memesan ke saya agar dibuatkan setelah di pertemuan tersebut saya asal ngomong kalau menerima pesanan” kenang Sri.

Berawal dari melayani pesanan Cik Yin tersebut, Bak Pao lancip buatan Sri Marsini kemudian populer di kalangan warga Chinese di kawasan Wonogiri.

“Akhir tahun 2018, saya mengajukan ijin P-IRT agar saya bisa menjual lebih serius lagi. Selain lewat jaringan warga keturunan, saya juga menawarkan melalui sosial media. Dan Alhamdulilah, sebelum pandemi, atau tepatnya sepanjang tahun 2019, setiap bulan rata-rata saya mampu meraih omset jualan Bak Pao hingga 20 juta, dengan keuntungan bersih rata-rata 10 juta” lanjutnya.

Sri mengaku, selama ini dirinya menjual Bak Pao dalam empat varian andalan yang berbeda dengan kebanyakan Bak Pao yang beredar di masyarakat, yakni Bak Pao isi telur tebus plus sayur, Bakpao isi Daging sapi plus sayur, Bapkao isi daging ayam plus sayur, serta Bak Pao isi ikan .

Diterpa pandemi, Sri sempat berhenti membuat Bak Pao selama tiga bulan lamanya yakni pada April hingga Juni 2020 silam.

Tak ingin berlarut dalam suasana pandemi yang membuat usahanya terhenti, Sri mencoba bangkit kembali meskipun omsetnya saat ini tidak sebesar sebelum pandemi.

“Alhamdulilah, pelanggan setia tetap ada yang pesan. Meskipun sekarang omset saya sulit untuk menembus 10 juta perbulan, tapi saya harus bertahan dan mempertahankan usaha ini. Siapa tahu saat pandemi berakhir, situasi kembali normal, omset dagangan saya kembali bisa seperti sebelumnya.” harap Sri.

Awal menjalani usaha tersebut, Sri mengaku  sempat mendapat kesulitan saat gosip yang beredar menyebutkan bahwa Bak Pao buatan Sri mengandung unsur babi. Hal tersebut diduga karena banyak pelanggan Sri yang berlatar warga keturunan.

“Kesulitan tersebut sangat menganggu, mulut orang lebih tajam dari pisau. Alhamdulilah, semuanya perlahan menghilang, terlebih saat label halal saya dapatkan” pungkasnya. []

 

Advertisement
Advertisement