August 4, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Candi Cetho, Eksotika Peninggalan Hindu di Karangayar

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

KARANGANYAR – Candi Cetho yang berada di lereng Gunung Lawu menyimpan sejarah yang cukup panjang.

Candi yang berada di ketinggian 1.496 mdpl ini, menurut Juru Pelihara Candi BPCB Jawa Tengah UPT se-Eks Karesidenan Surakarta, Winarno pertama kali diketahui dari laporan penelitian Van Der Vilis tahun 1842.

Ia menambahkan, menurut perkiraan, candi Cetho dibangun pada 1451-1470, yakni saat Raja Brawijaya V di Majapahit berkuasa.

Kemudian, pada 1970 pemugaran dilakukan oleh Humardhani, asisten Presiden Soeharto.

“Jika diukur komplek bangunan memiliki panjang 190 meter dan lebar 30 meter,” imbuhnya.

Candi Cetho berlatarbelakang agama Hindu. Maka tak heran jika candi tersebut masih digunakan oleh umat Hindu sekitar untuk jadi tempat ibadah.

“Maka sebelum masuk candi, pengunjung diharuskan menggunakan kain corak kotak hitam putih yang diikatkan pada pinggang. Ini sebagai wujud penghormatan karena candi masih digunakan untuk tempat ibadah umat Hindu,” ucapnya.

Candi ini melambangkan penciptaan atau kelahiran kembali. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bentuk Lingga yang melambangkan laki-laki, dan Yoni yang melambang perempuan di teras puncak candi.

“Di bawah lingga dan yoni tersebut dibuat untuk pemujaan oleh masyarakat. Jadi di sekitar lingga dan yoni pasti akan selalu ditemukan banyak dupa dan sesajian,” ujarnya.

Untuk bisa masuk ke candi ini, pengunjung dikenai tarif Rp 7 ribu per orang. Sedangkan wisatawan mancanegara Rp 25 ribu per orang.

Untuk bisa ke tempat ini, pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi. Sebab belum ada angkutan umum yang melewati komplek candi tersebut.

“Untuk menuju ke tempat ini bisa melalui Karanganyar Jawa Tengah maupun Magetan Jawa Timur,” terang Winarno.

Rute jika dari Karangnya bisa menuju ke arah Ngargoyoso, kemudian melewati tanjakan khas pegunungan Jenawi ke arah Candi Cetho.

“Waktu tempuhnya sekitar 1 jam. Namun pengemudi harus sangat hati-hati karena tanjakan yang cukup curam dan berkelok,” tuturnya.

Apabila melalui Magetan, pengunjung bisa menuju ke arah Plaosan melewati tanjakan menuju Telaga Sarangan, lalu Cemoro Sewu, Cemoro Kandang.

“Setelah itu masuk Tawangmangu, ambil arah Ngargoyoso melewati jalan pengunungan menuju Jenawi ke arah candi. Waktu tempuh sedikit lebih lama, sekitar 2,5 jam,” tegasnya.

Rahayu Sari Subekti (30), mengatakan sangat suka dengan pemandangan dari Candi Cetho.

 

Terlebih udaranya yang sejuk membuatnya betah berlama-lama menikmati candi yang baru pertama ia kunjungi ini.

“Saya dari Madiun kebetulan sedang liburan bersama keluarga. Di sini pemandangannya bagus. Cocok untuk foto-foto. Tapi rutenya memang agak berat. Puaslah jika sudah sampai sini,” bebernya.

Ia menambahkan, harga tiket yang bersahabat dan lokasi yang bersih membuatnya nyaman.

Ia juga mengaku tak kesulitan untuk menemukan penjaja makanan di sekitar candi.

“Tempatnya nyaman, bersih, tidak banyak sampah berserakan. Kalau lapar di sekitar sini juga banyak penjual makanan. Sesuai untuk wisata keluarga,” pungkasnya.[tri]

Advertisement
Advertisement