August 3, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Cara Imam Al-Ghazali Mengendalikan Emosi

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

ApakabarOnline.com – Terkadang amarah bisa datang pada saat seseorang sedang merasa kecewa, sedih, gelisah ataupun galau. Bagi beberapa orang menahan emosi merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk ditahan dan dikendalikan. Akan tetapi sebaiknya kita bisa menahan segala bentuk emosi yang datang agar tidak merusak hati kita.

Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi memaparkan bahwa ketika amarah memuncak, ada dua cara luapan emosi itu bisa diredam. Pertama, dengan ilmu. Kedua, dengan amal.

Dari sisi ilmu, al-Imam al-Ghazali menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya yaitu:

“Pertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersikap ramah dan menahan diri, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.”

“Kedua, menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.”

Sedangkan dari sisi amal cara menahan amarah adalah dengan berdzikir membaca ta’awudz, kemudian berusaha menenangkan diri. Carilah posisi yang lebih rileks. Bila dalam keadaan berdiri, maka bisa berganti posisi dengan duduk. Jika dalam keadaan duduk, bisa berganti posisi dengan tidur miring. Dianjurkan pula berwudhu dengan air dingin.

Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:

“Adapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu, A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Bila engkau berdiri, duduklah. Bila engkau duduk, tidurlah miring. Disunahkan berwudhu dengan air yang dingin, sesungguhnya kemarahan adalah dari api, sedangkan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.” (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’ihhah al-Mu’mini min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 208).

Barangkali ekspresi kemarahan menurut sebagian kalangan adalah sebuah perbuatan yang menunjukan ketegasan, keberanian, dan keperkasaan. Mereka tidak sadar bahwa yang demikian tersebut timbul dari kebodohannya, pelakunya tidak mengerti bahwa untuk menunjukan keberanian tidak harus bersikap demikian. Bahkan menurut al-Ghazali perbuatan tersebut menunjukan sakitnya hati dan kurangnya akal. Orang yang bodoh tentang hal ini bisa diobati dengan dibacakan kepadanya hikayat-hikayat tentang ahli pemaaf dan kebaikan-kebaikan yang didapatkan dari mereka.

Demikian penjelasan mengenai tips menahan amarah yang dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali. Semoga kita bisa mengamalkannya.[]

Sumber NU Online

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply