January 27, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Dalam Hadits Rasulullah Menerangkan Pecahnya Umat Islam Menjadi 73 Golongan, Hanya Satu yang Selamat

2 min read
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa manusia di muka bumi ini diciptakan berbeda-beda supaya saling mengenal. Perbedaan itu di antaranya seperti warna kulit, bentuk fisik, bahasa sampai pada perbedaan pemikiran.

Untuk poin terakhir di atas, perbedaan pemikiran melahirkan berbagai tantangan termasuk dalam hal beribadah. Wajar, meski sama-sama bersumber pada Al-Qur’an dan hadis, terkadang antara ulama satu dan ulama lainnya melahirkan beda pemahaman dan penafsiran.

Akibatnya, di dalam Islam khususnya, muncul aliran-aliran, organisasi, serta tarekat yang lahir dari ijtihad para ulama.

Munculnya aliran-aliran dalam Islam tersebut sejatinya sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad saw dalam salah satu hadisnya.

“Orang-orang Yahudi bergolong-golong terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, orang Nasrani bergolong-golong menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan bergolong-golong menjadi 73 golongan. Yang selamat dari padanya satu golongan dan yang lain celaka.

Kemudian ditanyakan, “Siapakah yang selamat itu?”

Rasulullah saw menjawab, “Merekalah Ahlusunnah wal Jama’ah.”

Dan kemudian ditanyakan lagi, “Apakah Ahlusunnah wal jama’ah itu?”

Beliau menjawab, “Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, dan beserta para sahabatku (diajarkan oleh Rasulullah saw dan diamalkan beserta para sahabat).” (HR. Imam Thabrani)

Hadis di atas memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan golongan yang dimaksud Nabi Muhammad saw.

Pertama, makna angka 73 golongan tersebut, apakah benar jumlah totalnya adalah 73 atau hanya kiasan yang menunjukkan bahwa golongan Islam pada kenyataannya sangat banyak.

Para ulama dalam memahami hadis di atas berbeda pendapat bahwa ada yang menyebut jika angka itu dapat dipahami secara tekstual, yakni angka itu pasti 72 atau 73.

Namun, dapat pula diartikan bahwa angka tersebut hanyalah mengindikasikan banyaknya golongan yang akan muncul di tubuh umat Islam.

Kedua, adalah tentang makna Ahlusunnah wal Jama’ah yang memunculkan berbagai penafsiran di kalangan ahli hadis.

Imam Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi kemudian melakukan kristalisasi dan memopulerkan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Hasilnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah adalah ajaran yang mengikuti dan mengamalkan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw, baik itu perkataan, perbuatan, tingkah laku, kebiasaan, termasuk penyampaian Al-Qur’an dan hadis.

Tidak hanya itu, mereka juga mengikuti apa yang dikatakan para sahabat dan tabiin yang mendengar sabda Rasulullah saw sebagai orang-orang yang dekat dengan Nabi Muhammad saw.

Meski masih memunculkan perdebatan, tapi yang pasti, karena Ahlusunnah wal Jama’ah disebutkan oleh Rasulullah sebagai golongan yang akan masuk surga, maka tidak mengherankan apabila saat ini semua golongan dalam agama Islam mengklaim bahwa mereka adalah Ahlusunnah wal Jama’ah. Wallahu a’lam.[]

Penulis Nafilah

Advertisement
Advertisement