November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Demi Masa Depan, PMI Hong Kong Asal Magetan Terpaksa Tidur Sekamar dengan Majikan Laki-Laki

7 min read
-

JAKARTA – Ruang tamu Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) di Pancoran, Jakarta, pada Rabu siang, 20 Oktober 2021, terlihat sepi. Deretan kursi di ruang tamu, kosong. Figo Paroji, staf bidang Media dan Komunikasi SBMI, sambil menyesap kopi panas menceritakan ruang tamu itu pernah penuh sesak oleh para pekerja migran Indonesia (PMI) yang sedang menunggu keadilan bagi kasus hukum yang mereka alami.

Salah satu dinding ruang tamu kantor SBMI, ditempeli spanduk raksasa bertuliskan Serikat Buruh Migran Indonesia beserta logonya. Ada satu rak penuh buku di ruang tamu itu.

Eka Wahyuni, 41 tahun, keluar dari sebuah ruangan di kantor SBMI menyambut Tempo. Pada 2015 – 2016, Eka pernah mengadu nasib ke Hong Kong sebagai pekerja rumah tangga (PRT).

Pada empat bulan pertama, Eka bekerja sebagai pekerja rumah tangga, yang bertugas menjaga satu anak dan seorang nenek. Namun kontraknya diputus sepihak.

Eka lalu ditawari oleh agen pengerah tenaga kerja di Hong Kong untuk bekerja menjaga seorang lansia. Yang membuat Eka melongo, lansia tersebut seorang laki-laki dan mereka akan tidur dalam satu tempat tidur yang sama (ranjang bertingkat).

Di Indonesia, majikan laki-laki dan pekerja rumah tangga yang bukan muhrim, lalu tidur dalam kamar yang sama, adalah hal yang tidak wajar. Untuk meyakinkan dirinya, Eka bertanya satu hal pada anak majikan, apakah ada jaminan kalau majikan laki-laki yang akan dirawatnya itu, tidak akan berbuat kurang ajar padanya. Anak majikannya pun langsung menyanggupi.

“Kalau ayah saya colak-colek, langsung kabari saya. Saya akan tanggung jawab,” kata Eka menceritakan kesepakatan dia dengan anak majikan sebelum tanda-tangan kontrak kerja.

Awalnya, Eka gugup dan waswas. Tidur berdekatan dengan majikan, jelas hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Apalagi di apartemen yang sempit itu (3 x 7 meter), hanya ada dia dan sang kakek.

“Anak-anak kakek, tinggalnya berjauhan. Mereka hanya datang ke rumah kalau saya minta libur,” kata Eka.

Orang tua Eka di Magetan, Jawa Timur, ikut gelisah anak perempuannya satu kamar dengan majikan laki-laki. Namun Eka memberi penjelasan, mereka tidur di ranjang tingkat, kakek di tempat tidur bagian bawah dan dia di atas.

Ranjang atas itu, juga menjadi tempat bagi Eka meletakkan pakaian dan barang pribadinya. Sebab dia tidak diberi fasilitas lemari penyimpan. Prihatin memang, namun Eka dan keluarga akhirnya menerima kondisi tersebut.

Eka menceritakan kakek yang dirawatnya sakit stroke hingga lumpuh separuh badan. Setiap mau bergerak, kakek harus dibantu. Mandi hingga buang air besar pun dibantu oleh Eka.

Badan kakek cukup besar, tinggi 170 cm dan berat 80 kilogram. Eka ngos-ngosan setiap kali membantunya bergerak.

Tantangan lain yang harus dihadapi Eka, yakni satu kamar dengan kakek. Apartemen yang mereka tempati adalah yang tersempit di Hong Kong, yakni sekitar 3 x 7 meter. Tak ada sekat. Satu-satunya ruang tertutup hanya kamar mandi.

Walhasil, setiap hendak telepon keluarga, Eka tak bisa bersuara keras karena akan mengganggu si kakek. Ganti baju hanya bisa dilakukan di dalam kamar mandi, kerja nyaris 24 jam karena kakek bebas membangunkannya setiap kali dibutuhkan. Ketika ada tamu, Eka berdiri di pojok dapur karena tak ada ruangan lain.

“Yang saya syukuri ketika itu, kakek enggak colak-colek. Tidak ada pelecehan seksual,” kata Eka.

PMI lainnya di Hong Kong, D.M. Ratih, 31 tahun, punya cerita berbeda. Dia pernah bekerja pada sebuah keluarga yang terdiri dari satu kakek, satu anak laki-laki kakek dan dua cucu laki-laki kakek. Dengan begitu, Ratih adalah satu-satunya perempuan di apartemen itu dan dia terpaksa tidur di ruang tamu karena kamar di apartemen itu hanya ada dua.

Ratih tidur di ruang tamu yang hanya diberi sekat kain korden. Ruang tamu tersebut merangkap sebagai ruang menonton TV. Walhasil, jika keluarga majikannya menonton acara pertandingan sepak bola pada dini hari, Ratih tak bisa tidur karena bising suara televisi.

Kendati penuh keterbatasan dan tantangan, yang membuat Ratih bertahan adalah keluarga majikan menghormatinya. Tidak ada yang berani melakukan tindakan senonoh padanya.

Eka dan Ratih boleh dibilang cukup beruntung selamat dari tindak pelecehan seksual di tengah kondisi tak adanya ruang privacy. Gendis, 40 tahun, PMI perempuan di Hong Kong, menceritakan pengalaman yang dialami rekan sejawatnya.

Lantaran tak punya kamar sendiri, temannya mengalami tindak pelecehan seksual dari kakak majikan. Korban yang tak mau dipublikasi identitasnya, dicium saat sedang tidur.

“Kawan saya menolak (dicium) yang berakibat dia di putus kontrak secara sepihak,” kata Gendis, yang tak mau ditulis nama lengkapnya. Kasus pelecehan seksual ini tidak dilaporkan ke pihak berwenang oleh korban.

Gendis menceritakan, PMI perempuan tidur dalam satu kamar dengan majikan bukan hal yang baru. Pasalnya, rumah di Hong Kong memang sempit-sempit.

PMI perempuan ada yang tidur di sofa ruang tamu, satu ranjang dengan majikan (tempat tidur tingkat), satu kamar dengan anak majikan yang diasuh, bahkan ada yang tidur di sela-sela mesin cuci dan kolong meja makan.

 

Harga properti mahal

Harga properti di Hong Kong adalah yang termahal di dunia. Dengan harga rata-rata rumah 19,4 kali lebih besar dari rata-rata pemasukan masyarakat Hong Kong.

Hong Kong memiliki populasi 7,5 juta jiwa dengan luas wilayah 1.106 km². Wilayah Hong Kong tersebut, harus dibagi antara pemukiman warga, kawasan hijau, taman, hutan dan lahan basah.

Setiap kali ada rencana pembangunan di Hong Kong, hampir selalu mendapat penolakan dari kelompok pecinta lingkungan hidup.

Sejak Hong Kong diserahkan oleh Inggris ke Cina pada 1997, otoritas Hong Kong telah berusaha menyediakan tempat tinggal yang terjangkau bagi masyarakat Hong Kong, kendati memiliki rumah sendiri masih menjadi mimpi sulit digapai oleh banyak warga Hong Kong.

Reuters mewartakan Hong Kong saat ini juga mengalami krisis kekurangan lahan parkir kendaraan. Walhasil, biaya parkir di Hong Kong pun sangat mahal. Media setempat mewartakan, The Peak, yakni sebuah kawasan perumahan di Hong Kong yang sedang dibangun, menjual sebuah lahan parkirnya senilai HK$10,2 juta (Rp 1,1 triliun).

Sebagai bagian dari upaya mengatasi kebutuhan perumahan bagi masyarakatnya, Hong Kong berencana membangun sejumlah pulau buatan, yang diperkirakan menelan biaya setidaknya HK$ 624 miliar (Rp 1.136 triliun). Mengingat masih tingginya permintaan rumah, maka berinvestasi bidang real estate di Hong Kong masih menjadi investasi yang paling aman di sana.

 

Perlindungan PMI

Menanggapi kondisi lingkungan PMI perempuan di Hong Kong, yang bahkan harus tidur sekamar dengan majikan laki-laki karena properti yang sempit, Judha Nugraha Direktur Perlindungan WNI dan BHI dari Kementerian Luar Negeri RI mengatakan majikan wajib menyediakan kamar sendiri untuk PMI di sektor domestik

“Sudah seharusnya majikan menyediakan kamar tersendiri untuk menjaga privacy pekerja migran sektor domestik. Silakan, PMI bisa melaporkan kondisi tersebut kepada KJRI Hong Kong untuk dapat ditindaklanjuti dengan otoritas setempat,” kata Judha kepada Tempo, Sabtu, 23 Oktober 2021.

Media yang mewawancara para PMI tersebut telah melayangkan surat permohonan wawancara ke Kedutaan Besar Cina di Jakarta soal kondisi yang dialami PMI, namun tak berbalas hingga 11 November 2021. Pesan yang dikirim ke staf Kedutaan Besar Cina juga tak direspons.

Lalu, bagaimana warga Hong Kong menanggapi kondisi PMI yang tak punya kamar sendiri, bahkan ada yang sampai harus tidur di toilet. Joy, mantan PMI Hong Kong, yang tak mau disebut nama lengkapnya, menunggah sebuah video ke akun YouTube-nya pada 4 Januari 2019, mengenai komentar majikannya bernama Tong, soal video viral PMI perempuan tidur di toilet.

“Memang sih tempat terbatas, tapi haruskah di toilet? Ada orang mengakali (keterbatasan ruang) dengan membuat tempat tidur tingkat. Mungkin majikan itu (yang meminta PMI tidur di toilet) tidak suka dengan pekerja rumah tangga (PRT) tersebut, jadi disuruh tidur di toilet,” kata Tong, yang hanya ingin ditulis nama marganya saja.

Menurut Tong, tidak ada orang yang mau tidur di toilet, tidak nyaman. Kalau pun bener-bener tak ada tempat untuk seorang PMI tidur, mungkin bisa di dapur.

Sedangkan Joy menyebut hal paling menyebalkan saat mengadukan kondisi ini ke agen pengerah tenaga kerja adalah mereka tidak mengambil tindakan apapun atau pasrah karena kondisi properti Hong Kong yang memang sempit.

Menurut Joy, ketika seorang PMI terpaksa harus tidur di toilet karena rumah majikan yang sempit, maka tidak ada solusi lain selain ganti majikan. Sebab mengadu ke KJRI Hong Kong, menurut Joy, kadang kurang ditanggapi.

“Mereka (KJRI Hong Kong) sibuk entah ngurusin apa, heran saya juga. Percuma. Tanggapan lama,” kata Joy dikutip dari Tempo.

Sedangkan Ratih mengatakan, PMI pemula atau yang baru pertama kali tiba di Hong Kong umumnya tidak tahu kondisi rumah majikan, yang kadang suka tidak sesuai dengan gambaran yang termaktub di kontrak. Namun PMI yang sudah beberapa bulan di Hong Kong, bisa datang langsung untuk melihat kondisi rumah calon majikannya.

Untuk menghindari pelecehan seksual dari majikan karena ruangan kerja yang sempit atau tanpa sekat, Ratih menyarankan para PMI perempuan memperhatikan cara berpakaian, etika dan cara menyapa majikan (tidak dengan suara manja). Bukan hanya itu, PMI pun diminta untuk aktif ikut komunitas supaya bertambah pintar.

Adapun Gendis menyarankan kepada sesama PMI perempuan di Hong Kong agar memahami isi kontrak sebelum menandatanganinya. Tanyakan apa yang tidak tahu, tanyakan fasilitas apa yang didapatkan, tanyakan PMI tersebut tidur dengan siapa, jam berapa harus bangun tidur, bagaimana pengaturan makan PMI sampai hak untuk charger ponsel (karena menggunakan listrik yang dibayar majikan).

“Jangan takut dibilang pemilih sama agen. Sebab agen akan berpegang pada apa yang termaktub di kontrak,” kata Gendis.

Dalam Konvensi ILO 189 termaktub bahwa pekerja rumah tangga berhak mendapatkan lingkungan kerja yang aman dan sehat (Pasal 13) dan berhak atas kondisi hidup layak yang menghormati privasi pekerja (Pasal 6). Konvensi ILO itu menekankan pula adanya kebebasan untuk mencapai kesepakatan dengan majikan atau calon majikan mereka apakah akan tinggal di rumah tangga tersebut ataukah tidak (Pasal 9).

Bekerja dalam satu apartemen mungil, bahkan satu kamar dengan majikan, lebih banyak membawa mudarat bagi PMI di sektor domestik. Namun apa yang membuat mereka bertahan? Eka menjawab singkat, desakan ekonomi. []

Sumber Tempo

 

Advertisement
Advertisement