Di Kantong PMI Terdampak “Sulit” Masker, Harga Naik Untuk Mendapatkan Sulit

Prime Banner

MADIUN – Meluasnya dampak wabah virus corona dari China saat ini berdampak ke berbagai hal dan berbagai kawasan. Salah satunya kampung halaman PMI. Dalam sepekan belakangan, dalam pantauan ApakabarOnline.com, di kawasan kantong-kantong PMI khususnya di kawasan Madiun Raya, Karisidenan Kediri, serta Malang Raya dihebohkan dengan perburuan masker dan larutan cuci tangan antiseptik.

“Informasi yang kami dapatkan, sebagian besar dikirim ke Hong Kong. Ini berdasarkan pengakuan mereka yang memesan. ” tutur Ari, salah seorang staf distributor produk Alkes yang memegang kawasan Jawa Timur.

Ari mengaku, pesanan masker mengalami peningkatan tajam hingga 10 kali lipat dari waktu sebelumnya di beberapa titik.

“Awalnya saya tidak tahu, ternyata klien kami (apotik dan agen) pada kebanjiran pesanan dari Hong Kong oleh keluarga TKW” lanjutnya.

Beberapa pembeli yang kebetulan bertemu dengan ApakabarOnline.com menyampaikan pengakuan senada. Seperti Wahyudi misalnya, pria asal Kare Madiun ini disuruh istrinya yang bekerja di Hong Kong untuk membelikan masker serta cairan antiseptik dalam jumlah banyak.

“Istri saya disuruh majikannya, ini masker jasa saya beli 4 karton (160 box) yang dan satu karton cairan cuci tangan (antiseptik gel)” jelasnya.

Lebih mencengangkan lagi, saat ApakabarOnline.com bertandang ke beberapa agen ekspedisi yang mengirim barang ke Hong Kong. Di salah satu agen Ekspedisi, beberapa mobil box barang yang akan mereka kirim didominasi masker dan alkes lainnya berupa antiseptik serta pakaian antiseptik.

Dampak yang mau tidak mau harus di telan oleh warga lokal di kampung halaman PMI adalah mahalnya harga dan langkanya masker. Basuki, salah seorang pengguna masker rutin yang seminggu sekali membeli beberapa box lantaran dia memiliki usaha penggilingan padi mengaku kaget.

“Kaget mas, kok tiba-tiba apotik apotik pada kehabisan masker. Ini saya nemu masker, harganya sudah tiga kali lipat harga biasanya saya beli. Biasanya saya beli 25 ribu satu box, sekarang saya harus membeli dengan harga 70 ribu satu box nya” keluh basuki sembari menunjukkan empat box masker untuk memenuhi kebutuhan dia dan beberapa karyawannya.

Sementara itu, pihak apotik, maupun toko yang biasanya menjual produk masker mengaku serba salah dengan fenomena sepekan belakangan.

Dian, salah seorang pemilik Apotik di kawasan Kota Madiun menyatakan, sebagai pemilik apotik, dia tetap menjual apapun dengan label sesuai dengan harga saat mendapatkan barang.

“Banyak yang menuduh kami memanfaatkan situasi, padahal tidak sama sekali. Masker dari sales yang biasa ngedrop ke kami harganya sudah naik dari harga normal sebelumnya. Kami di drop dengan harga lebih dari dua kali lipat. Mana mungkin kami menjual dengan harga normal seperti sebelumnya bukan ? ” terang Dian.

Kebutuhan masker di Hong Kong sepertinya masih akan menyedot stok masker yang ada di kantong PMI sampai beberapa waktu mendatang. Terlebih lagi, banyak pesanan masker dari Hong Kong ke Indonesia yang belum bisa dipenuhi lantaran ketersediaan barang.

Disamping mengirim masker untuk memenuhi pesanan majikan istrinya, Wahyudi yang melihat situasi saat ini sebagai peluang untuk mendapat keuntungan, langsung menyediakan diri melayani orderan masker untuk dikirim ke Hong Kong.

“Total sampai malam ini (30/01/2020) pesanan masker yang masuk ke saya sudah 68 karton.” pungkas Wahyudi sembari menunjukkan catatannya. []

 

 

You may also like...