February 25, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Diduga Stres, PMI Ngamuk Saat Hendak Dipulangkan

2 min read
Informasi Pendaftaran Pemilih

HONG KONG – Saat ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong sedang menangani kasus seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang transit dari Dubai, Uni Emirat Arab, dan diduga mengalami gangguan kejiwaan atau stres. PMI tersebut bernama Katini Sarim Wasman, kelahiran Indramayu, Jawa Barat, 4 Mei 1974.

“Saat ini Katini dirawat di ranjang 26, lantai 10 B, rumah sakit Ruttonjee, Wan Chai, sejak 22 November,” kata staf Fungsi Tenaga Kerja KJRI Hong Kong Subardiat, saat ditemui di ruang kerjanya di Indonesian Building, Causeway Bay, Kamis (1/12).

Sebelumnya, Katini dirawat di rumah sakit Princess Margaret, Kwai Chung. “Dia transit dari Dubai,” ujarnya.

Di paspor Katini, tertulis bahwa dia berangkat dari Indonesia pada tanggal 2 Juni dan tiba di Dubai sehari setelahnya, 3 Juni, untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Di paspor itu juga terekam bahwa dia keluar Dubai pada tanggal 6 November, menggunakan pesawat Cathay Pacific penerbangan jam 00:05, pada tanggal 7 November, dan tiba di Hong Kong pada hari yang sama.

Malamnya, berdasarkan tiket yang dipegangnya, Katini dijadwalkan terbang ke Jakarta. Seharusnya, dia boarding untuk memasuki pesawat pada jam 23:05, namun tak kunjung datang.

Esoknya, pada tanggal 8 November, dia ditemukan petugas sedang termenung di bandara seorang diri. Karena diduga sakit, petugas bandara mengantarkannya ke rumah sakit Princess Margaret.

Dua hari kemudian, dokter rumah sakit menyatakan Katini dalam keadaan normal dan dinyatakan sehat untuk terbang. “Kami sudah siapkan tiket pemulangan pada tanggal 19 November. Pada tangal 18 November, kami jemput dia dari rumah sakit untuk persiapan pulang. Saat diajak ke bandara, dia bersikap agresif, menyerang staf KJRI Hong Kog yang ingin mengantarnya ke bandara,” kata Subardiat.

“Maka pada tanggal 22 November kami bawa dia ke rumah sakit Ruttonjee,” ujarnya.

KJRI Hong Kong sudah menghubungi keluarganya di kampung. Menurut penuturan ibunya, sebelum berangkat perempuan yang juga pernah bekerja di Malaysia ini sudah mengalami stres. “Dia dipaksa bekerja ke luar negeri oleh suaminya, sedangkan suaminya kawin lagi. Itu kata ibunya,” tegas Subardiat. [Razak]

Advertisement
Advertisement