Dihempas Banjir Bandang, 17 Meninggal 9 Orang Hilang

Prime Banner

Tiga hari setelah banjir menerjang sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, jumlah korban jiwa terus bertambah. Hingga Minggu (28/4/2019) pukul 19.00 WIB, 17 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, 2 orang luka berat, dan 2 orang luka ringan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran pers yang dikutip Senin (29/04/2019).

Korban meninggal terbanyak ada di Kabupaten Bengkulu Tengah (11 orang). Berikutnya di kota Bengkulu dan Kabupaten Kepahiang masing-masing 3 orang.

Dengan begitu, sejak Sabtu (27/04/2019), terdapat penambahan 2 orang meninggal akibat bencana alam ini. Jumlah itu seolah mengafirmasi bahwa banjir adalah bencana alam paling mematikan seperti tercatat pada 2016-2018.

Banjir di Bengkulu terjadi sejak Jumat dini hari (26/04/2019) setelah hujan sangat deras tak henti mengguyur. Air pun naik begitu cepat mulai pukul 01.00 WIB setelah Sungai Ketahun, Sungai Musi, Sungai Manna, dan Sungai AIr Bengkulu tak cukup menampung.

“Saya ingat kejadiannya itu jam 01.00, semuanya begitu cepat. Kami tak sempat menyelamatkan apa pun,” ujar Budi Raharjo, warga Kelurahan Tanjung Agung, Kota Bengkulu, kepada Viva.

Selain permukiman; banjir juga merendam jalan raya jembatan, dan memicu longsor kecil di seantero Provinsi Bengkulu yang luasnya lebih kecil dari Kotamadya Jakarta Pusat itu. Banjir setinggi maksimal 2,5 meter, menurut Sutopo; merusak 184 rumah, 40 titik prasarana infrastruktur, dan 7 fasilitas pendidikan.

“Ada 12 ribu warga mengungsi. Jumlah korban ternak terdampak mencapai 102 ekor kambing dan 4 ekor kerbau,” katanya.

Ini bukan banjir besar pertama di Provinsi Bengkulu, bahkan nyaris setiap tahun selalu terjadi ketika hujan deras turun –terutama di kota Bengkulu. Aktivis lingkungan menuding kegiatan penambangan batu bara jadi penyebab kerusakan Hutan Lindung Bukit Daun yang menjadi daerah tangkapan air hulu Sungai Air Bengkulu.

Dalam keterangan tertulis Kanopi Bengkulu, kawasan daerah aliran sungai (DAS) Sungai Bengkulu di Kabupaten Bengkulu Tengah sudah habis digunakan untuk pertambangan batu bara dan perkebunan sawit. Menurut Direktur Kanopi, Ali Akbar, ada delapan perusahaan tambang batu bara di hulu sungai.

Delapan perusahaan itu adalah yaitu PT. Bengkulu Bio Energi, PT. Kusuma Raya Utama, PT. Bara Mega Quantum, PT. Inti Bara Perdana, PT. Danau Mas Hitam, PT. Ratu Samban Mining, PT. Griya Pat Petulai, PT. Cipta Buana Seraya. Luas wilayahnya 19 ribu hektare.

Sedangkan perkebunan sawit milik PT Agriandalas juga berada di daerah tangkapan air Sungai Bengkulu. Ali juga menyebut pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Teluk Sepang yang melanggar Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) karena awalnya direncanakan di Napal Putih, Bengkulu Utara.

“Pembangunan yang terlalu sembrono dan menihilkan dampak ekologis harus segera diakhiri, jangan jadikan hanya syarat di atas kertas karena saat bencana datang seluruh masyarakat yang akan menanggung akibatnya,” ujar Ali di Bengkulu, Minggu (28/04/2019).

Hal itu dibenarkan oleh Walhi Bengkulu. Banjir parah yang melanda Bengkulu ini adalah bukti kerusakan hulu sungai akibat aktivitas pertambangan batu bara.

Sementara Ketua BNPB, Doni Monardo, saat mengunjungi Bengkulu mengatakan bahwa banjir adalah bencana hidrometeorologi yang memang masih mengancam Indonesia. Doni juga menyebut ada faktor ulah manusia atau antropogenik yang dominan menyebabkan bencana hidrometeorologi.

“Deforestasi, degradasi hutan dan lingkungan, berkurangnya kawasan resapan air, lahan kritis, tingginya kerentanan, tata ruang yang tidak mengindahkan peta rawan bencana dan lainnya telah menyebabkan makin rentannya daerah-daerah terhadap banjir,” tukas Doni yang menyerahkan dana siap pakai untuk penanggulangan banjir senilai Rp2,5 miliar kepada Gubernur Bengkulu.

Di bagian lain, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan hujan ekstrem yang melanda Bengkulu disebabkan oleh aktivitas iklim Osilasi Madden-Julian (OMJ) yang secara ilmiah mampu meningkatkan suplai massa udara basah.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG R Mulyono Rahadi Prabowo menjelaskan, OMJ bukan cuma mengancam Bengkulu, tapi di sebagian besar wilayah Indonesia –termasuk kawasan Jabodetabek yang membuat Jakarta banjir pekan lalu.

Mulyono mengungkapkan aktivitas OMJ bisa terjadi kapan saja karena bentuk osilasi punya periode ulang 30-90 hari. Kemunculan OMJ diawali di bagian barat Samudra India dan kemudian berjalan merambat ke arah barat melewati daratan Indonesia dan bergerak ke bagian barat Samudra Pasifik.

Adapun mulai Senin (28/04/2019) hingga Kamis (02/05/2019), hujan ekstrem berpotensi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan daratan Papua.

“Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin,” katanya dalam siaran pers.[]

You may also like...