May 15, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Duka Overstayer di Negeri Beton (1): “Saya Jadi Gelandangan dan Sempat Kepikiran Bunuh Diri”

4 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

HONG KONG – Tragis benar nasib Kry, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Malang, Jawa Timur. Gara-gara tertipu, paspor dan HKID miliknya digunakan untuk meminjam uang di sebuah lembaga finance (bank), janda beranak 1 ini terpaksa kabur dari rumah majikannya dan menjadi overstayer hampir 2 tahun.

Sambil kerap meneteskan airmata, Kry menceritakan dukanya selama menjalani hidup sebagai overstayer di Negeri Beton. Kepada Apakabar Plus yang menemuinya di kantor Christian Action di Kwun Tong, Rabu (31/8), perempuan kelahiran 1976 ini mengaku hidup laksana gelandangan dan pernah terpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Berikut ini penuturannya…

Saya pertama kali datang untuk bekerja di Hong Kong pada tahun 2013 bulan 5 (Mei), bekerja hanya di satu majikan. Waktu itu saya bertugas bersih-bersih rumah di keluarga yang terdiri dari dhai-dhai, singsang, dan mui-mui berusia 12 tahun, di daerah To Kwa Wan.

Suatu waktu, saya mau disuruh ke China. Majikan menyuruh saya menunggu dulu. Saya pun main ke Causeway Bay, paspor dan KTP (HKID) saya bawa. Lah, tiba-tiba ada orang yang mengajak saya untuk pinjam uang ke bank (finance company). Sepulang dari China, saya baru kepikiran, “loh kok saya tadi mau saja diajak ke bank?”

Saya tidak tahu orang itu itu siapa, saya tidak kenal. Saya terasa dihipnotis, menurut saja. Saya ketemunya di Victoria Park, di dekat air mancur. Setelah kejadian, saya cari lagi orang itu, tapi tidak ketemu.

Hal itu terjadi hampir 2 tahun lalu. Waktu itu pinjam uangnya 35 ribu uang sini (HK$35,000). Saat itu saya diajak ke bank untuk pinjam uang, tapi saya tidak dibagi sama sekali. Uangnya dia ambil semua. Dia bilangnya, “uangnya aku pinjam, nanti tiap bulan aku yang bayar.” Aku hanya bilang, “iya, iya.”

Waktu itu saya sangat ketakutan. Apalagi, tak lama kemudian, bapak saya meninggal dunia. Saya ketakutan karena orang bank selalu telepon saya dan mengirimi surat ke rumah majikan, meneror saya. Saya kebingungan. Saya juga bingung dan stres karena bapak meninggal dunia, berbarengan dengan orang bank sering telepon saya. Waktu itu saya tidak tahu, kenapa orang itu tega membohongi saya.

Jujur, saya kepikiran bunuh diri. Tapi saya balik mikir, nanti malah nyusahin ibu saya di Indonesia. Apalagi, bapak saya baru meninggal dunia.

Saya kepikiran mau bunuh diri soalnya saya betul-betul kebingungan. Bapak saya meninggal dunia saya tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengirim uang untuk ibu saya.

Akhirnya, setelah sebulan dari waktu diajak pinjam uang ke bank, saya memutuskan untuk kabur dari rumah majikan, berusaha mencari orang (yang menipu saya) itu. Saya diteleponin orang bank karena sejak bulan pertama itu orang itu tidak bayar cicilan utang.

Saya ke mana-mana, berusaha mencari orang itu, tapi tidak pernah ketemu. Orangnya gendut, berpenampilan seperti perempuan biasa, bukan tomboy. Dia mengaku bernama Wendy, berasal dari Tulungagung atau dari mana gitu.

Selama kabur dari rumah majikan, saya tinggal di mana-mana, tidak menentu. Kadang saya tidur di bawah jembatan dekat Victoria Park. Saya juga pernah tidur di kamar mandi Victoria Park. Saya tidur di mana saja yang saya anggap aman, karena saya selalu ketakutan. Saya takut ketahuan polisi.

Waktu itu akhirnya saya ganti nomor telepon, soalnya diteror terus. Setelah lama, akhirnya saya telepon ke Indonesia. Katanya, orang bank sudah mencari saya ke rumah ibu saya. Ada 3 orang meneror ibu saya. Ibu saya sampai nanyain saya, “apakah Kamu pinjam uang buat orang laki-laki?”

Selama mencari orang itu hampir 2 tahun, saya sudah seperti orang gelandangan. Selama 2 tahun saya tidur di sembarang tempat. Makan juga sembarangan. Soal makan, alhamdulillah mbak-mbak yang libur selalu ada saja yang mengajak saya makan bareng. Saya nimbrung saja, tidak merasa malu. Soalnya, saya lebih baik meminta makan, daripada kelaparan.

Kepada mereka saya terpaksa berbohong, tidak berani curhat tentang keadaan saya yang sesungguhnya. Saya takut mereka tahu kalau saya overstay. Kalau mereka bertanya, “Kamu libur, Mbak?” saya jawab saja, “iya,” berpura-pura (libur).

Saya pernah bekerja hampir 8 tahun di Taiwan. Kakek yang saya jaga meninggal dunia, lalu saya bekerja ke Hong Kong.

Waktu overstay, yang ada di hati saya selalu perasaan ketakutan. Akhirnya saya putus asa, saya nekad menyerahkan diri, ingin pulang saja. Saya ingin menghadapi masalah yang di Indonesia. Soalnya, saya takut orang bank mesti tahun depan nyariin saya lagi ke rumah di Indonesia. Kemarin itu, ibu saya ditelepon terus. Pihak bank (penagih) di Indonesia sudah bilang, utang saya sekarang sudah menjadi HK$50,000. Waktu bulan 1 (Januari 2016) kemarin mereka bilang ke ibu saya, tahun depan utang saya akan menjadi hampir HK$100,000, membengkak terus bunganya. Soalnya, oleh orang itu tidak dibayar-bayar.

Dengan menjadi overstay selama ini, saya juga tidak mendapatkan solusi apa-apa dari masalah saya ini. Selama overstay saya juga tidak pernah mencari kerja-kerja sampingan karena takut. Takutnya, orang tempat saya kerja parttime, kalau ketahuan polisi dendanya lebih besar.

Yang paling menyedihkan bagi saya saat hidup overstay di luaran sana, tidak punya tempat tinggal, tidur sembarangan. Sebenarnya saya takut, tapi saya tak ada pilihan, untuk bisa menemukan orang itu, tapi tidak dapat-dapat sampai sekarang, sampai saya putus asa.

Alhamdulillah, pada tanggal 11 Agustus (2016) ada orang yang menyuruh saya ke sini (Christian Action). Setelah ditampung Christian Action sekarang saya menjadi lebih tenang. Tidak punya rasa ketakutan lagi. Ada tempat tidur, dikasih makan.

Alhamdulillah, saya sudah mau pulang sekarang. Insyaallah, hari Senin (5/9) saya sudah ada tiket pulang.

Soal utang saya, mau bagaimana lagi? Daripada saya di sini berlama-lama dan tidak menyelesaikan masalah juga, lebih baik saya pulang saja, akan saya hadapi. Jujur, saya tidak pernah pakai uang (hasil pinjam di bank) itu.

Sekarang, kasihan ibu saya. Beliau hidup sendirian. Adik-adik saya tinggal jauh-jauh, di Trenggalek dan Ponorogo. Tidak ada yang tinggal bersama ibu.

Pesan saya untuk orang yang menipu saya hampir 2 tahun lalu itu, mudah-mudahan dia cepat sadar. Jangan menipu orang lain lagi. Cukup saya saja. Jangan semua orang ditipu kayak begini. [razak]

Advertisement
Advertisement