August 3, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Hasil Penelitian Pakar Hong Kong University : Vaksin Pfizer Lebih Manjur dari Sinovac, Begini Penjelasannya

2 min read
Feature image Hasil Penelitian Pakar Hong Kong University , Vaksin Pfizer Lebih Manjur dari Sinovac (Foto Istimewa)

Feature image Hasil Penelitian Pakar Hong Kong University , Vaksin Pfizer Lebih Manjur dari Sinovac (Foto Istimewa)

Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

HONG KONG – Vaksin Tiongkok kembali dibandingkan dengan vaksin Barat. Kali ini vaksin Pfizer-BioNTech dinilai lebih manjur 10 kali lipat daripada vaksin Sinovac. Hal itu terbukti dari penelitian University of Hongkong (HKU).

Dalam penelitian disebutkan orang yang menerima vaksin Pfizer menunjukkan tingkat antibodi rata-rata hampir 10 kali lebih tinggi dibanding yang menerima vaksin Sinovac. Hal ini seperti dilansir dari Hongkong Free Press.

Sekolah Kesehatan Masyarakat HKU mempelajari tingkat rata-rata antibodi dari 1.442 petugas kesehatan dari rumah sakit umum dan swasta serta klinik medis di Hongkong setelah mereka menerima vaksin Covid-19. Kelompok peneliti menerbitkan hasil tes laboratorium awal studi pada Kamis (15/07/2021), yang mempresentasikan data yang dikumpulkan dari 93 orang.

Di antara kelompok 93 orang berusia antara 26 hingga 65 tahun, 63 divaksinasi dengan vaksin Pfizer dan 30 diberi vaksin Sinovac. Hasil dari tes ELISA yang mengukur antibodi yang mengikat virus dan tes sVNT untuk mengukur antibodi yang menetralisir virus hasil dari vaksinasi, menunjukkan tingkat antibodi untuk penerima vaksin Pfizer meningkat secara substansial setelah dosis pertama. Dan, kemudian meningkat lagi setelahnya.

Sementara itu, tingkatan bagi mereka yang menerima vaksin Sinovac masing-masing naik dari rendah ke sedang setelah dosis pertama dan kedua.

Penelitian ini kemudian menguji sampel yang diambil dari 12 peserta di setiap kelompok vaksin menggunakan uji penetralan pengurangan plak (PRNT). PRNT adalah tes serologis yang mengukur konsentrasi antibodi yang dapat menetralkan virus dengan mengukur berapa kali sampel serum dapat diencerkan dan masih mencegah persentase tertentu sel yang terinfeksi oleh virus hidup. Tingkat antibodi yang tinggi dikaitkan dengan tingkat perlindungan yang lebih tinggi terhadap infeksi di masa depan.

Tes PRNT menunjukkan bahwa penerima dua dosis vaksin Pfizer menunjukkan tingkat antibodi rata-rata 269, sebulan setelah vaksinasi. Ini 9,8 kali lebih tinggi daripada mereka yang menerima Sinovac, yang memiliki tingkat 27. Hasil pengujian menunjukkan bahwa serum dari penerima Pfizer dapat diencerkan hingga 269 kali dan masih menetralkan 50 persen virus Covid-19 yang hidup. Sedangkan serum dari penerima Sinovac dapat diencerkan hingga 27 kali.

Dalam tes PRNT lain yang mengukur tingkat pengenceran untuk menetralkan 90 persen virus hidup, penerima vaksin Pfizer menunjukkan tingkat 113, yaitu 13,5 kali lebih banyak daripada mereka yang menerima Sinovac pada 8,4.

“Namun, salah satu batasan penelitian ini adalah tidak mencakup respons antibodi terhadap varian Covid-19,” tulis salah satu peneliti, ahli epidemiologi penyakit menular Benjamin Cowling di Twitter.

Tak disebutkan terkait varian Delta. Meski ada perbandingannya, namun kedua vaksin tetap diyakini dapat mencegah seseorang mengembangkan gejala yang lebih berat jika akhirnya terinfeksi oleh vaksinasi Covid-19.

“Tetapi vaksin Pfizer-BioNTech akan lebih cocok untuk mengurangi risiko infeksi bagi orang-orang di sekitarnya,” kata Cowling.

Komite Ilmiah Pusat Perlindungan Kesehatan Hongkong akan bersidang minggu depan untuk membahas apakah perlu suntikan booster ketiga. Namun, menurut Ketua Komite Lau Yu-long menilai kebanyakan orang yang divaksinasi dengan Pfizer-BioNTech tidak membutuhkan booster. []

Advertisement
Advertisement