Healing Sejati
3 min read
JAKARTA – Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan hidup modern, istilah healing menjadi semakin akrab di telinga. Ketika lelah melanda, banyak orang memilih pergi ke tempat wisata, menikmati alam, atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas.
Aktivitas ini diyakini mampu menjadi terapi untuk meredakan stres. Benarkah healing menyembuhkan, atau hanya menunda kegelisahan yang sebenarnya belum selesai?
Dalam perspektif ilmiah, kebutuhan untuk beristirahat memang tidak bisa diabaikan. Tubuh dan pikiran manusia memiliki batas. Paparan terhadap alam terbuka, waktu istirahat yang cukup, serta aktivitas yang menyenangkan terbukti dapat menurunkan hormon stres dan memperbaiki suasana hati.
Tidak heran jika seseorang merasa lebih segar setelah kabur sejenak dari rutinitas. Namun banyak penelitian juga menunjukkan bahwa efek ini sering kali bersifat sementara. Ketika seseorang kembali pada rutinitas yang sama, dengan pola pikir yang sama, maka stres pun mudah datang kembali.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa kelelahan tidak selalu bersumber dari aktivitas, tetapi sering kali dari cara kita memaknai aktivitas tersebut.
Seseorang bisa memiliki jadwal yang padat, tetapi tetap tenang. Sebaliknya ada yang tidak terlalu sibuk, tetapi mudah gelisah. Artinya, persoalan utama bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi pada apa yang terjadi di dalam diri.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt mengingatkan, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak semata-mata lahir dari perubahan suasana, tetapi dari kedekatan hati kepada Allah.
Allah juga berfirman bahwa tidur dijadikan sebagai istirahat (QS. An-Naba: 9), yang menunjukkan Islam mengakui pentingnya jeda dan pemulihan secara fisik.
Islam tidak berhenti pada pemulihan fisik. Ia mengarahkan manusia untuk menemukan ketenangan yang lebih dalam.
Al-Ghazali menjelaskan, kegelisahan manusia sering kali berasal dari hati yang kosong dari makna. Ketika hati tidak terisi dengan nilai spiritual, maka ia akan terus mencari pelarian, tetapi tidak pernah benar-benar menemukan ketenangan.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa berpindah tempat tidak selalu menyelesaikan masalah. Seseorang bisa pergi ke tempat yang indah, tetapi tetap membawa kegelisahan yang sama. Karena itu, yang perlu diperbaiki bukan hanya suasana di luar, tetapi kondisi di dalam diri.
Dalam kehidupan Nabi Muhammad, keseimbangan ini tampak jelas. Beliau menjalani aktivitas yang sangat padat, namun tetap meluangkan waktu untuk beribadah, bermunajat, dan menenangkan hati.
Ini menunjukkan bahwa pemulihan sejati tidak hanya terjadi dengan menjauh dari kesibukan, tetapi juga dengan mendekat kepada Allah.
Di era media sosial, healing sering kali mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi juga menjadi gaya hidup, bahkan ajang pencitraan.
Tidak jarang seseorang merasa harus pergi untuk sembuh, padahal yang dibutuhkan justru berhenti sejenak untuk merenung.
Lebih jauh lagi, jika tidak disadari, healing yang berlebihan justru bisa menjadi beban baru—baik secara finansial maupun emosional.
Healing bukanlah sesuatu yang salah. Ia adalah bagian dari kebutuhan manusia. Namun ia tidak boleh berhenti pada level permukaan. Jika hanya tubuh yang beristirahat, maka kesegaran itu mungkin hanya sementara. Tetapi jika hati juga dipulihkan, maka ketenangan akan bertahan lebih lama.
Mungkin yang perlu kita renungkan bukanlah seberapa sering kita pergi untuk healing, tetapi seberapa dalam kita kembali kepada diri sendiri dan kepada Allah. Karena bisa jadi, yang kita cari bukan sekadar tempat untuk beristirahat, tetapi hati yang benar-benar tenang. []
Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.
