December 1, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Helmi Yahya : PMI Kalah Bersaing dengan Pekerja Filipina

2 min read

JAKARTA – Pekerja migran Indonesia (PMI) rupanya kalah saing dengan Filipina. Pasalnya, sepanjang 2021 saja pekerja migran Indonesia hanya mengirim devisa sebesar Rp130 triliun atau setara USD 8,52 miliar.

Sementara, pekerja migran asal Filipina mampu mengirim dengan angka yang lebih besar atau hampir empat kali lipat yakni USD 31,4 miliar, pada tahun yang sama. “Devisa yang dibawa pekerja migran Filipina, jauh dibandingkan yang dibawa oleh pekerja Indonesia, walaupun secara kuantitas kita lebih banyak,” kata mantan Direktur Utama TVRI Helmi Yahya, di Jakarta, Rabu (05/10/2022).

Menurutnya, penyebab devisa pekerja migran Indonesia dan Filipina sangat jomplang karena penguasaan bahasa asing terutama Bahasa Inggris yang minim. Ia menyayangkan fakta tersebut, untuk skill yang sama namun gajinya lebih rendah.

Berdasarkan rilis salah satu lembaga bahasa internasional, Indonesia berada di peringkat 80 dari 112 negara dalam hal pengusaan bahasa asing. Jauh di bawah Singapura yang berada di peringkat 4 dan Filipina di peringkat 18.

“Sekarang ini untuk menguasai dunia, meningkatkan karir, gaji, investasi, karena terkadang harus berinteraksi dengan orang luar, Bahasa Inggris maupun Mandarin, kemampuan bahasa asing jadi keharusan untuk kita bisa sukses,” kata Helmy.

Menanggapi hal itu, CEO & Co-Founder Cakap Tomy Yunus mengatakan, dari hasil testimonial dan riset menyatakan orang Indonesia memiliki skill hospitality yang sangat bagus, dan pekerja keras. “Melayaninya bagus terutama di Hong Kong, Taiwan. Teman-teman saya di sana bilang mereka sangat comfortable punya pekerja dari Indonesia,” Ujar Tomy.

Namun, Tomy juga menyoroti keterampilan yang tidak merata di antara anak bangsa. Banyak pekerja kreatif terpusat hanya di Pulau Jawa. Bahkan, pekerja di bidang hospitality di daerah wisata super prioritas saja, masih didominasi atau “kiriman” dari Jawa.

“Di hotel-hotel masih banyak (pekerja) dari Pulau Jawa, seharusnya bisa lebih lokal. Persoalannya, kembali lagi ke Bahasa asing. Akan lebih bagus kita lakukan training secara cepat dan merata sehingga ada penyerapan yang lebih masif,” ujar Tomy. []

 

Advertisement
Advertisement