April 16, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Jane Goodall: COVID-19 adalah Produk Hubungan Tidak Selaras Manusia dengan Satwa dan Lingkungan

8 min read
Informasi Pendaftaran Pemilih

ApakabarOnline.com – Dunia menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat artikel ini ditulis, coronavirus COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 3,57 juta orang di seluruh dunia, dan pada 4 Mei 2020 250.134 orang telah meninggal, berdasarkan data dari John Hopkins University.

Saat ini, orang-orang di sebagian besar negara di dunia melangsungkan isolasi mandiri di rumah (baik sendiri atau bersama keluarga), menjaga jarak sosial, dan mengurangi pergi ke luar rumah seminimal mungkin.

Beberapa bisnis telah benar-benar ditutup, beberapa yang lain berjalan dengan staf yang bekerja dari rumah, beberapa orang diberhentikan sementara, dan jutaan orang di seluruh dunia telah kehilangan pekerjaan mereka. Kerugian ekonomi dari pandemik ini masif dan berskala besar.

Kita semua mengikuti berita dan berdoa agar lock down akan berakhir di negara demi negara saat jumlah infeksi dan tingkat kematian mencapai angka tertinggi dan kemudian secara bertahap turun.

Hal ini sudah terjadi di Tiongkok, – negara di mana virus corona COVID-19 berasal, berkat langkah-langkah ketat yang dilakukan oleh pemerintah. Kami berharap bahwa vaksin akan segera dikembangkan dan bahwa hidup kita semua dapat kembali normal secara bertahap.

Namun, kita tidak boleh melupakan apa yang telah kita lalui dan bersegera untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah pandemi semacam ini terjadi lagi di masa depan.

Ironisnya, pandemi semacam ini telah lama diprediksi oleh mereka yang mempelajari penyakit-penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia, seperti COVID-19). Hampir dapat dipastikan bahwa pandemi ini dimulai dengan limpahan muatan di pasar makanan laut Wuhan di Tiongkok yang juga menjual satwa liar darat untuk dijadikan bahan makanan, bersama dengan ayam dan ikan.

 

Potensi Penularan Penyakit Zoonosis

Ketika hewan liar dijual di pasar, seringkali ia dijalankan secara ilegal. Mereka biasanya disimpan di kandang kecil, berdesak-desakan bersama, dan sering disembelih di tempat itu juga.

Manusia, baik penjual maupun pelanggan, dengan demikian dapat dengan mudah terkontaminasi dengan tinja, urin, darah, dan cairan tubuh lainnya dari beragam spesies, seperti musang, trenggiling, kelelawar, anjing, rakun, dan ular. Hal ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi virus untuk menyebar dari hewan inangnya ke manusia. Penyakit zoonosis lain, SARS, juga berasal dari pasar hewan lain di Guangdong.

Sebagian besar pasar basah di Asia tidak berbeda dengan pasar petani di Eropa dan AS. Ada ribuan pasar basah di Asia dan di seluruh dunia di mana produk segar seperti sayuran dan buah; dan kadang-kadang juga daging dari hewan peliharaan, dijual dengan harga yang terjangkau. Ribuan orang lebih memilih untuk berbelanja di sana daripada di supermarket.

Tidak hanya terjadi di Tiongkok, pasar satwa liar telah menyediakan kondisi ideal bagi virus dan patogen lain untuk melintasi penghalang antar spesies dan mentransfer dari inang hewan kepada manusia. Ada berbagai pasar semacam ini di banyak negara Asia.

Di pasar daging di Afrika, – tempat hewan hidup dan mati dijual untuk makanan, perburuan, pemotongan, dan penjualan simpanse untuk makanan menyebabkan dua persebarang dari kera ke manusia yang mengakibatkan pandemi HIV-AIDS. Ebola adalah penyakit zoonosis lain yang berpindah dari reservoir hewan ke kera dan manusia di berbagai bagian di Afrika.

 

Perdagangan satwa liar dan penyebaran penyakit

Kekhawatiran utama lainnya adalah perdagangan hewan liar dan bagian tubuh mereka lainnya di seluruh dunia. Sayangnya, hal ini telah menjadi bisnis multi-milyar dolar yang sangat menguntungkan, dan sering dijalankan oleh kartel kriminal.

Tidak hanya hal itu sangat kejam dan pasti berkontribusi pada kepunahan spesies secara mengerikan, tetapi juga dapat menyebabkan kondisi yang cocok untuk munculnya berbagai penyakit zoonosis. Hewan liar atau dan bagian tubuh mereka diekspor, – seringkali secara ilegal, dari satu negara ke negara lain membawa serta virus yang dimiliki hewan tersebut.

Perdagangan hewan peliharaan yang terjadi secara mengejutkan pada monyet dan kera liar muda, burung, reptil dan hewan liar lainnya adalah salah satu yang menjadi perhatian. Gigitan atau cakaran dari hewan liar yang dibawa ke rumah dapat menyebabkan sesuatu yang jauh lebih serius dan bukan hanya infeksi ringan.

Begitu COVID-19 diakui sebagai penyakit zoonosis baru, pemerintah Tiongkok memberlakukan larangan penjualan dan konsumsi makanan yang berasal dari hewan liar, pasar satwa liar juga Wuhan ditutup, dan peternakan hewan liar untuk makanan dilarang.

Ada ribuan operasi kecil di seluruh Asia dan bagian lain dunia di mana hewan liar dibiakkan untuk makanan sebagai cara mencari nafkah di daerah pedesaan.

Kecuali jika sumber pendapatan alternatif untuk orang-orang ini, serta orang lain yang mengeksploitasi satwa liar untuk mencari nafkah, dapat ditemukan dan mereka dapat memperoleh bantuan dari pemerintah mereka selama transisi mereka ke cara-cara lain untuk menghasilkan uang. Ada pula kemungkinan bahwa operasi ini akan dijalankan secara diam-dian dan menjadi lebih sulit untuk diregulasi.

Namun, apa pun masalahnya, jelas sangat penting bahwa larangan perdagangan, makan, dan pengembangbiakan hewan liar untuk makanan harus ditegakkan secara permanen, demi kesehatan manusia dan pencegahan pandemi lainnya di masa depan.

Untungnya, mayoritas warga Tiongkok dan warga Asia lainnya dalam survei mengisyaratkan setuju bahwa satwa liar tidak boleh dikonsumsi, maupun digunakan dalam pengobatan ataupun penggunaan bulu mereka untuk produksi barang lain.

 

Terdapat celah dalam produk obat dan empedu beruang

Penggunaan beberapa produk hewan liar untuk pengobatan tradisional sejauh ini masih legal di Tiongkok (meskipun cula badak dan tulang harimau dilarang). Situasi ini menciptakan celah yang akan dengan cepat dimanfaatkan oleh mereka yang ingin terus berdagang hewan liar seperti trenggiling yang sangat terancam punah, badak, harimau, dan beruang hitam asia atau umumnya dikenal sebagai beruang bulan, karena tanda putih berbentuk bulan sabit di bagian dadanya.

Beruang asia lainnya – beruang coklat dan beruang madu – juga dieksploitasi untuk empedu mereka. Dan selama perternakan untuk empedu mereka masih legal, dan produk yang mengandung empedu beruang tersebut terus dipromosikan, dan ini akan merangsang permintaan empedu.

Penting untuk mempertimbangkan kesejahteraan hewan yang tanpa disadari bertanggung jawab atas penyakit zoonosis. Hari ini kita tahu bahwa semua hewan yang disebutkan adalah makhluk hidup, yang mampu merasakan ketakutan, keputusasaan, dan rasa sakit.

Apalagi banyak dari mereka yang menunjukkan kecerdasan luar biasa. Mengizinkan aktivitas perdagangan satwa liar untuk tujuan pengobatan dapat menyebabkan perlakuan tidak manusiawi yang sangat keji terhadap beberapa makhluk hidup ini.

Misalnya kasus yang terkait dengan beruang yang diternakkan untuk empedu mereka di Asia. Mereka mungkin diletakkan hingga tiga puluh tahun di dalam kandang yang sangat kecil, -kadang-kadang mereka bahkan tidak bisa berdiri atau berbalik. Kandang kecil ini melarang semua perilaku alami untuk hewan yang cerdas dan hidup, yang dapat menanggung rasa takut dan penderitaan.

Empedu biasanya diekstraksi, sekali atau bahkan dua kali sehari, dengan memasukkan kateter, pipa atau jarum suntik ke dalam kantong empedu, -prosedur yang sangat mengganggu dan menyakitkan. Beruang dapat menderita dehidrasi, kelaparan, dan berbagai infeksi dan penyakit.

Mereka berpotensi terkena kanker hati (yang disebabkan oleh ekstraksi empedu), tumor, borok, kebutaan, peritonitis, radang sendi dan penyakit lainnya. Gigi mereka juga aus atau hilang karena terus-menerus, putus asa, menggerogoti jeruji yang memenjarakan mereka.

Tidak hanya karena ternak beruang dengan cara seperti ini dianggap sangatlah kejam, tapi juga menjadi perhatian karena alasan kesehatan masyarakat. Kondisi higienis yang buruk, luka terbuka permanen pada beruang, kontaminasi empedu dengan tinja, bakteri, darah dan cairan tubuh lainnya adalah alasan yang perlu mendapat perhatian serius.

Akhirnya, banyak beruang secara terus menerus diberikan antibiotik untuk menjaga mereka tetap hidup dan ini berkontribusi pada resistensi antibiotik dan munculnya bakteri super, yang resisten terhadap antibiotik yang paling umum. Hal yang sama berlaku dengan pemeliharaan hewan peliharaan di peternakan. Bakteri super ini telah menyebabkan kematian banyak pasien di rumah sakit di seluruh dunia.

Sayangnya, Tan Re Qing, sebuah produk yang mengandung empedu yang diambil dari beruang hitam asia dan dikatakan membantu meringankan gejala yang terkait dengan infeksi pernapasan, direkomendasikan sebagai pengobatan untuk pasien yang terinfeksi COVID-19. Dan ini akan mendorong berlanjutnya praktik peternakan empedu beruang.

Untuk mengakhiri digunakannya komponen aktif empedu beruang, asam ursodeoksikolat atau UDCA, telah tersedia sebagai varian sintetis selama bertahun-tahun, dan merupakan sebagian kecil dari ganti rugis atas empedu yang dipanen secara tidak manusiawi dari beruang. Sayangnya banyak orang menganggap empedu dari beruang liar lebih berharga.

Pengobatan tradisional Tiongkok memiliki nilai yang besar tetapi, bahkan jika empedu dari beruang liar adalah obat yang berharga, mengingat kekejaman dan risiko yang terlibat, itu tidak boleh lagi digunakan – terutama karena produk sintetis memiliki sifat yang sama.

Faktanya, sebuah survei yang dilakukan oleh Animals Asia pada tahun 2011 menunjukkan bahwa 87% responden Tiongkok mendukung larangan pertanian empedu beruang, dan ratusan apotek Tiongkok telah berjanji untuk tidak pernah menjual produk empedu beruang.

Akan luar biasa jika semua peternakan empedu beruang di seluruh Asia dapat ditutup dan beruang dilepaskan ke cagar alam yang telah dibuat di Tiongkok, Vietnam, Malaysia dan Laos.

Di alam liar mereka akan bisa berjalan di atas rumput, memanjat, mandi di kolam dan menikmati sinar matahari dan rombongan beruang yang diselamatkan lainnya.

Dan penurunan permintaan untuk sisik trenggiling dan cula badak di banyak negara Asia untuk nilai obat yang seharusnya akan memberikan kesempatan bagi hewan-hewan yang sangat terancam ini untuk bertahan hidup di masa depan. Seperti halnya larangan bertani binatang liar untuk penggunaan bulu mereka.

 

Penyakit yang Berasal dari Peternakan

Penyakit zoonosis bukan hanya berasal dari hewan liar. Kondisi yang tidak manusiawi dari peternakan skala besar, – di mana sejumlah besar hewan peliharaan berkumpul bersama, juga menciptakan kondisi yang kondusif bagi virus yang menyebar ke manusia. Penyakit yang biasa dikenal sebagai ‘flu burung’ dan ‘flu babi’ dihasilkan dari peternakan unggas dan babi.

MERS berasal dari kontak dengan unta punuk satu yang didomestikasi di Timur Tengah, penyakit ini mungkin berasal dari konsumsi produk unta yang terinfeksi, seperti daging atau susu yang kurang matang.

 

Kesimpulan

Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika kita terus mengabaikan penyebab penyakit zoonosis seperti ini, kita mungkin dapat terinfeksi virus yang menyebabkan pandemi bahkan lebih parah daripada COVID-19.

Banyak orang percaya bahwa kita telah mencapai titik balik dalam hubungan kita dengan dunia alami. Kita perlu menghentikan deforestasi dan perusakan habitat alami di seluruh dunia. Kita perlu menggunakan alternatif organik yang ramah alam dan mengembangkan yang baru, untuk memberi makan diri kita sendiri dan juga untuk menjaga kesehatan kita.

Kita perlu menghilangkan kemiskinan sehingga orang dapat menemukan cara alternatif untuk mencari nafkah selain dengan berburu dan menjual hewan liar dan menghancurkan lingkungan.

Kita perlu memastikan bahwa masyarakat lokal, yang hidupnya bergantung langsung dan dipengaruhi oleh kesehatan lingkungan, untuk memiliki keputusan konservasi yang baik dalam komunitas mereka sendiri, agar mereka dapat diajak berupaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Akhirnya, kita perlu menghubungkan otak kita dengan hati. Sehingga dengan tepat dapat menggunakan pengetahuan, ilmu sains, dan teknologi inovatif  untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana tentang manusia, hewan, dan lingkungan kita bersama.

Sementara ada fokus yang diutamakan untuk mengendalikan COVID-19, kita juga tidak boleh melupakan krisis dengan efek bencana jangka panjang yang berpotensi pada planet ini dan generasi mendatang – krisis iklim.

Perlu ada gerakan global yang terus menyerukan kepada industri dan pemerintah untuk memberlakukan pembatasan pada emisi gas rumah kaca, untuk melindungi hutan-hutan tersisa, dan membersihkan lautan.

Pandemi ini telah memaksa industri untuk sementara waktu tutup di banyak bagian dunia. Akibatnya, banyak orang untuk pertama kalinya mengalami nikmatnya menghirup udara bersih dan melihat bintang-bintang di langit malam.

Harapan saya, belajar dari pengalaman pandemik COVID-19 ini, dunia dan masyarakatnya perlu didorong untuk menghargai alam. Bisnis dan pemerintah perlu menempatkan lebih banyak sumber daya dalam pengembangan energi bersih, terbarukan, mengurangi kemiskinan dan membantu orang menemukan cara alternatif mencari nafkah yang tidak melibatkan eksploitasi alam dan hewan.

Mari kita sadari bahwa kita adalah bagian dan bergantung pada dunia alami untuk makanan, air, dan udara bersih. Mari kita akui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung. Mari kita saling menghormati satu sama lain, untuk makhluk hidup lainnya, dan untuk alam. Demi kesejahteraan hidup anak-anak kita, dan demi kesehatan planet Bumi yang indah ini, satu-satunya rumah kita. []

Penulis : Jane Goodall

Advertisement
Advertisement