Jangan Sampai Kesedihan Menghapus Nikmat Allah
5 min read
JAKARTA – Ada masa ketika hati manusia terasa sempit, seolah seluruh dunia runtuh hanya karena satu ujian yang menimpa. Kesedihan datang seperti gelombang besar, menenggelamkan pikiran, membuat kita lupa bahwa Allah masih menurunkan banyak karunia. Padahal nikmat yang mengelilingi kita jauh lebih banyak daripada luka yang menyayat.
Karena itu, seorang mukmin harus belajar menata hati agar tetap bersyukur.
لا تجعل هما واحدا ينسيك ألفا من النعم فالحمد لله على نعمه دائما وأبدا
“Jangan biarkan satu kesedihan membuatmu lupa akan ribuan nikmat. Maka senantiasalah memuji Allah atas segala karunia-Nya, sepanjang waktu dan selamanya.”
Kalimat ini bukan sekadar motivasi biasa, tetapi hakikatnya adalah pelajaran iman. Sebab hidup di dunia memang tidak pernah lepas dari ujian.
Allah menciptakan tawa dan tangis, lapang dan sempit, bahagia dan sedih, agar manusia kembali kepada-Nya. Kesedihan bukan tanda Allah membenci hamba-Nya, melainkan cara Allah mendidik hati agar lebih kuat. Lebih bersandar, dan lebih mengenal siapa yang sebenarnya mengatur segalanya.
Allah telah menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan orang beriman. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
(البقرة: 155-157)
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah 155-157).
Awas Terjebak Kesedihan
Perhatikan, Allah tidak mengatakan hidup ini bebas dari sedih. Bahkan Allah menegaskan: “Kami akan menguji.” Tetapi Allah juga memberi jalan keluar: sabar, kembali kepada Allah, dan yakin bahwa semua musibah bukan sia-sia.
Orang yang mampu mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dengan hati yang tunduk, berarti ia sedang menyaksikan bahwa hidup ini bukan miliknya. Dan semua yang hilang pun hakikatnya sedang kembali kepada pemilik sejatinya.
Namun manusia sering terjebak dalam satu kesedihan. Kesedihan itu membesar di kepala, membusuk dalam pikiran, lalu perlahan menghapus rasa syukur. Padahal syukur adalah cahaya yang menjaga hati tetap hidup. Syukur membuat kita tetap melihat nikmat yang Allah berikan meski air mata masih mengalir. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(إبراهيم: 7)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7)
Ayat ini mengandung rahasia besar. Syukur bukan hanya ucapan, tetapi sikap batin yang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Dan ketika syukur itu tumbuh, Allah menambah nikmat. Baik berupa rezeki, ketenangan, kesehatan, maupun kelapangan hati. Sebaliknya, ketika seseorang tenggelam dalam keluh kesah tanpa henti, ia sedang menutup pintu tambahan nikmat itu.
Kesedihan sering membuat kita lupa pada nikmat paling besar: iman. Banyak orang diberi harta, diberi kedudukan, diberi keluarga, tetapi kehilangan iman, lalu hidupnya kosong. Sedangkan seorang mukmin, meski diuji, tetap memiliki pegangan: Allah. Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
(التغابن: 11)
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Kehidupan Mukmin Selalu Baik
Inilah janji yang menenangkan: musibah tidak datang liar tanpa kendali. Semuanya di bawah izin Allah. Lalu Allah mengatakan, siapa yang beriman, Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Artinya, Allah mampu menurunkan ketenangan bahkan ketika keadaan belum berubah.
Kadang masalah masih ada, tetapi hati sudah tidak meledak. Luka masih terasa, tetapi jiwa tidak putus asa. Itulah hidayah yang Allah turunkan kepada orang yang menjaga iman.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin selalu baik. Dalam hadis sahih disebutkan:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
(رواه مسلم)
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.”
Hadis ini seperti pelita bagi orang yang sedang gelap. Seorang mukmin tidak kehilangan kebaikan, karena dua pintu selalu terbuka. Pintu syukur ketika lapang, dan pintu sabar ketika sempit.
Pandang Luasnya Nikmat
Kesedihan memang ada, tetapi kesedihan itu tidak boleh menjadi raja yang memerintah hati. Kesedihan hanya tamu, bukan pemilik rumah.
Satu kesedihan sering terasa sangat besar karena kita hanya menatap satu titik luka, sementara kita lupa memandang luasnya nikmat. Padahal Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
(إبراهيم: 34)
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Nikmat Allah bukan hanya rezeki besar, tetapi juga napas yang masih berjalan, mata yang masih melihat, tangan yang masih bisa menggenggam, air yang masih bisa diminum, waktu yang masih bisa dipakai untuk taubat.
Bahkan kesedihan itu sendiri bisa menjadi nikmat jika ia mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah. Banyak orang baru mengenal sajadah setelah hatinya remuk. Banyak orang baru menangis dalam doa setelah dunia menamparnya. Dan pada saat itulah Allah sedang membuka pintu kedekatan.
Kesedihan akan berbahaya jika membuat kita su’uzhan kepada Allah. Padahal Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Allah berfirman:
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
(غافر: 31)
“Dan Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.”
Jika Allah menguji, itu karena Allah tahu kita mampu melewatinya, atau Allah ingin menaikkan derajat kita. Dalam hadis disebutkan:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
(رواه الترمذي)
“Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barang siapa murka, maka baginya kemurkaan.”
Putus Asa Racun Iman
Bukan berarti setiap ujian adalah tanda cinta, tetapi ujian bisa menjadi jalan menuju cinta Allah jika kita meresponsnya dengan ridha dan sabar. Karena itu, jangan biarkan satu kesedihan membuat kita jatuh ke dalam keluhan yang berlebihan, apalagi putus asa.
Putus asa adalah racun iman. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
(الزمر: 53)
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat ini seolah turun untuk orang yang sedang patah. Bahkan bagi orang yang penuh dosa pun, Allah melarang putus asa. Maka bagaimana mungkin orang yang sedang diuji justru merasa Allah meninggalkannya? Tidak. Allah selalu dekat. Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
(البقرة: 186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
Lebih Dekat Allah ketika Sedih
Karena itu, saat sedih datang, jangan menjauh dari Allah. Justru mendekatlah. Salatlah walau hati berat. Berdoalah walau air mata jatuh. Bacalah Al-Qur’an walau suara bergetar. Sebab di situlah obat. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(الرعد: 28)
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Kesedihan akan mengecil jika kita memperbesar dzikir. Sebaliknya, kesedihan akan membesar jika kita memperbesar keluhan. Maka jadikan lisan ini terbiasa mengucap alhamdulillah. Karena alhamdulillah bukan hanya ucapan syukur, tetapi pengakuan bahwa Allah tidak pernah salah dalam memberi takdir.
Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa ketika tertimpa kesusahan:
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ… أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
(رواه أحمد)
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Berlaku padaku ketetapan-Mu. Adil padaku keputusan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki… agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghapus kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.”
Lihatlah, obat kesedihan bukan sekadar hiburan dunia, tetapi Al-Qur’an. Jika hati ini rapuh, maka ia butuh wahyu. Jika jiwa ini lelah, maka ia butuh kembali kepada kalimat-kalimat Allah.
Jangan biarkan satu kesedihan membuat kita lupa bahwa Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan menata hidup menuju akhirat.
Maka ketika ujian datang, tarik napas, tundukkan hati, dan katakan dengan keyakinan: Alhamdulillah. Karena mungkin yang kita sebut musibah hari ini adalah jalan keselamatan kita esok hari.
Jangan biarkan satu kesedihan menenggelamkan ribuan nikmat. Ingatlah, selama iman masih ada, doa masih bisa dipanjatkan, dan sujud masih bisa dilakukan, berarti Allah belum selesai menolong kita. Alhamdulillah, sepanjang waktu dan selamanya. []
Penulis : Dwi Taufan Hidayat, penulis tinggal di Semarang – Jawa Tengah
