Jauhi “Silent Killer” dengan Pap Smear
6 min read
JAKARTA – Kanker serviks acap kali disebut sebagai ‘silent killer’ atau pembunuh diam-diam bagi perempuan. Pasalnya, tidak ada gejala penyakit ini pada stadium awal kanker yang mudah dideteksi atau diketahui pengidapnya.
Tubuh individu yang mengalaminya merasa sehat dan baik-baik saja. Namun, bisa mendadak drop kapan saja, jika penyakit sudah masuk ke stadium lanjut.
Tak heran, kondisi itu membuat penderita baru merasakan sakit setelah kondisi sudah makin parah. Akibatnya, penanganan terlambat dan sulit disembuhkan. Fatality yang disebabkannya nyaris tak terdeteksi pada fase-fase awal.
Kanker serviks atau bisa disebut dengan kanker leher rahim adalah kanker yang muncul di bagian bawah rahim yang terhubung langsung ke vagina. Semua perempuan bisa terkena, terutama yang aktif secara seksual, tanpa memandang usia. Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), yang sangat umum menular melalui kontak seksual.
Sebagai peringkat ke-3 tertinggi dunia untuk kasus kanker serviks, Kemenkes mencatat setidaknya ada sekitar 36 ribu perempuan Indonesia terdiagnosa penyakit ini setiap tahun. Mirisnya, sekitar 21 ribu di antaranya meninggal dunia. Artinya, hampir 3 dari 5 wanita yang terkena kanker serviks berakhir fatal.
Meskipun gejala awal sering bias karena tak terasa atau disadari, pencegahan dan pemeriksaan rutin berperan sangat penting bagi perempuan. Kabar baiknya, kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang bisa dicegah dan disembuhkan apabila dapat terdeteksi sedini mungkin.
Tak mau menyesal di akhir, Awita (30) mencoba mendeteksi lebih dini keberadaan kanker serviks di tubuh. Salah satunya, lewat screening pap smear.
Buat awam, pap smear berfungsi sebagai metode skrining untuk mendeteksi kelainan sel pada leher rahim yang berpotensi berkembang menjadi kanker serviks. Dengan pemeriksaan ini, perubahan sel dapat diketahui sejak tahap prakanker sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat, sederhana, dengan peluang kesembuhan jauh lebih tinggi.
“Saya melakukan pap smear karena ingin lebih peduli sama kesehatan diri sendiri, khususnya kesehatan reproduksi. Saya juga tahu kalau kanker serviks itu sering datang tanpa gejala, jadi saya merasa lebih aman kalau periksa dari awal,” terang Awita kepada Validnews di Jakarta, Senin (2/2).
Pada 2022 silam, ibu beranak satu ini bertekad untuk melakukan vaksinasi HPV untuk melindungi diri dari risiko terinfeksi virus tersebut. Atas rekomendasi tenaga kesehatan, dia pun menuruti untuk melakukan pap smear terlebih dahulu, meski mengakui awalnya sempat takut dan tegang.
Selama proses berlangsung yang cukup cepat, rasa sakit yang terasa masih terbilang ringan dan masih bisa ditoleransi. Usai skrining, Awita hanya mengalami efek samping ringan dan berangsur normal, bahkan langsung bisa beraktivitas seperti sedia kala.
“Rasanya cuma agak enggak nyaman dan sedikit ngilu, tapi masih bisa ditahan. Setelah selesai, saya bisa langsung beraktivitas seperti biasa,” tuturnya.
Total biaya untuk skrining pap smear tersebut sekitar ratusan ribu rupiah. Untungnya, Awita menggunakan asuransi kantor/pribadi kala itu sehingga semuanya sudah otomatis ter-cover.
Pap Smear dengan BPJS Kesehatan
Sebagai upaya mempercepat deteksi dini dan menurunkan angka keterlambatan penanganan kanker serviks, BPJS Kesehatan memanfaatkan pelayanan kesehatan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencakup pelayanan kesehatan perorangan, termasuk pemeriksaan skrining kesehatan, seperti IVA dan pap smear.
Sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2024 Pasal 48 ayat (4), pelayanan penapisan atau skrining kesehatan tertentu diberikan secara selektif melalui Skrining Riwayat Kesehatan (SRK) terlebih dahulu. “Ketentuan ini ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini dan mencegah terjadinya dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu,” jelas Ali.
Nantinya, apabila hasil pemeriksaan dokter menunjukkan indikasi medis, peserta dapat diberikan pelayanan pemeriksaan IVA atau pap smear sesuai dengan hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Ali kembali memastikan, skrining pap smear ditanggung oleh Program JKN dan dapat dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 3 Tahun 2023, penjaminan layanan skrining pap smear menggunakan skema pembayaran nonkapitasi, sehingga biaya pemeriksaan dibayarkan berdasarkan pelayanan yang diberikan.
“Dengan skema tersebut, peserta tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan selama mengikuti alur pelayanan yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Pemeriksaan BPJS vs. Non-BPJS
Sejalan dengan itu, menurut Indriyanti, pemeriksaan pap smear di Prodia juga sudah dapat menggunakan pilihan BPJS. Pasien dapat memanfaatkan pemeriksaan pap smear di Prodia melalui program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis), yang mana pasien tidak dikenakan biaya tambahan.
Untuk dapat memperoleh manfaat Prolanis, pasien akan diidentifikasi terlebih dahulu melalui rekam medis di FKTP, baik di puskesmas maupun klinik. Jika pasien telah memenuhi syarat dan kriteria untuk menerima manfaat Prolanis, maka pasien wajib mengikuti rangkaian prosedur rutin. Mulai dari edukasi hingga pengawasan berkala dan tindak lanjut medis dari tim kesehatan.
Kendati demikian, sebagian besar pasien di Prodia justru memilih layanan non-BPJS untuk pap smear, namun Prodia tetap menyediakan opsi pemeriksaan melalui BPJS Kesehatan.
Sayangnya, Prodia tidak menyebutkan secara rinci berapa persentase pasien di Prodia yang memilih layanan non-BPJS untuk melakukan pemeriksaan pap smear.
“Hal ini memastikan pemeriksaan (pap smear) dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat sesuai kebutuhan masing-masing peserta,” tutur Indriyanti.
Adapun, biaya pemeriksaan pap smear yang ditawarkan Prodia relatif masih terjangkau, yakni berkisar di Rp600 ribu, dengan menggunakan metode Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC). Metode SBBC merupakan teknik pemeriksaan modern yang memproses sampel sel serviks secara khusus, sehingga kualitas preparat lebih baik, hasil lebih akurat, dan memungkinkan deteksi dini kelainan sel serviks secara optimal.
Rata-rata peserta skrining pap smear di Prodia mulai dari usia dewasa hingga lanjut usia (lansia) antara 21-65 tahun, sesuai dengan rekomendasi deteksi dini kanker serviks.
“Rentang usia ini merupakan kelompok yang disarankan untuk rutin menjalani pemeriksaan agar risiko kanker serviks dapat terdeteksi lebih awal,” jelasnya.
Untuk melakukan pemeriksaan pap smear melalui SSBC di Prodia, pasien perlu mempersiapkan pra-test, antara lain pertama, pasien tidak diperbolehkan menggunakan obat-obatan yang diberikan melalui vagina. Kedua, tidak melakukan pencucian (douche) vagina selama 2-3 hari sebelum melakukan pemeriksaan. Ketiga, tidak disarankan menggunakan tampon, jeli atau krim vaginal selama tiga hari sebelum melakukan pemeriksaan.
Keempat, pasien memastikan kondisinya sedang tidak dalam masa menstruasi., Sedang waktu terbaik untuk pemeriksaan adalah 14 hari setelah menstruasi berakhir. Kelima, tidak melakukan hubungan seksual selama dua hari sebelum melakukan pemeriksaan.
Pemanfaatan Program JKN
Secara tren, Ali Ghufron mengungkapkan, pemanfaatan layanan skrining pap smear meningkat dari tahun ke tahun. BPJS Kesehatan menilai, pertumbuhan ini didorong oleh penguatan layanan kesehatan primer, perluasan kerja sama dengan fasilitas kesehatan, serta peningkatan literasi kesehatan masyarakat.
“BPJS Kesehatan melihat tren ini sebagai sinyal positif dalam upaya menekan angka kejadian kanker serviks melalui deteksi dini,” katanya.
Pihaknya mencatat, jumlah peserta yang melakukan skrining pap smear menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada 2021 misalnya, tercatat sebanyak 14.497 kasus pemeriksaan. Angka ini kemudian meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2022 menjadi 36.960 kasus pemeriksaan.
Kemudian, tren peningkatan tersebut berlanjut secara tajam pada 2023 dengan jumlah mencapai 90.893 kasus pemeriksaan. Memasuki 2024, pemanfaatan layanan skrining pap smear kembali melonjak hingga 179.396 kasus pemeriksaan, atau hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Tercatat, jumlah pemeriksaan telah mencapai 95.274 hingga November 2025. Ini terang menunjukkan bahwa minat dan kesadaran peserta JKN untuk melakukan deteksi dini kanker serviks tetap terjaga dan berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun. Skrining pap smear masuk dalam klaim Program JKN sebagai bagian dari layanan promotif dan preventif. Layanan ini dijamin sepanjang dilakukan sesuai indikasi medis dan mengikuti alur pelayanan yang berlaku di FKTP, dengan mekanisme pembayaran nonkapitasi.
Dari sisi pembiayaan, peningkatan ini terlihat jelas. Pada 2021, klaim pembiayaan skrining pap smear tercatat mencapai lebih dari Rp1 miliar. Nilai ini menjadi fondasi awal penguatan layanan skrining kanker serviks dalam skema promotif dan preventif Program JKN.
Memasuki 2022, nilai klaim naik menjadi lebih dari Rp4 miliar. Peningkatan ini menunjukkan mulai tumbuhnya pemanfaatan layanan skrining pap smear oleh peserta JKN, seiring dengan meningkatnya kesadaran deteksi dini. Kemudian, pada 2023, tren kenaikan makin terlihat dengan nilai klaim yang telah mencapai lebih dari Rp11 miliar. Angka ini mencerminkan perluasan akses layanan serta makin optimalnya peran fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam memberikan layanan skrining.
Selanjutnya pada 2024, nilai klaim kembali meningkat signifikan hingga mencapai lebih dari Rp22 miliar. Lonjakan ini menjadi indikator kuat bahwa layanan skrining pap smear semakin dimanfaatkan sebagai upaya pencegahan kanker serviks.
Di sektor kesehatan, kanker serviks tetap menjadi salah satu kanker paling umum pada perempuan di dunia. Perkiraan WHO, secara global, ada sekitar 600.000 kasus baru pertahunnya. Dan, yang meninggal sekitar 340.000 per tahun. Angka lebih tinggi terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah karena keterbatasan skrining dan pengobatan.
Di tanah air, kanker serviks termasuk kanker paling sering terjadi pada perempuan, setelah kanker payudara. Untunglah kini pemeriksaan perempuan di Indonesia bisa dilakukan dengan BPJS.
Dari paparan hal ini, kita bisa menyimpulkan, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Ya, skrining pap smear adalah solusi pencegahan yang mumpuni, sekaligus ‘hadiah’ dan bentuk menghargai diri sendiri. []
