May 18, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Jelang Aksi Masa Besar-Besaran, Dua Aktifis Muda Hong Kong Ditangkap Aparat

4 min read

HONG KONG – Polisi Hong Kong menangkap aktivis pro-demokrasi Joshua Wong dan Agnes Chow pada hari Jumat (29/8/19). Kedua milenial yang masih berusia 22 tahun itu ditangkap setelah dianggap terlibat tindakan yang melanggar hukum dalam demo anti-pemerintah.

“Dia tiba-tiba didorong ke mobil pribadi di jalan,” ujar partai politik Joshua Wong, Demosisto, yang mengadvokasi demokrasi besar di Hong Kong, di akun resmi Twitter-nya seperti dilansir dari Reuters, Jumat (30/08/2019). “Dia sekarang telah dikawal ke markas polisi di Wan Chai,” tulis akun tersebut.

Anggota partai Demosisto yang juga milenial lain, Agnes Chow juga ditangkap. Melalui cuitannya, Demosisto mengatakan penangkapan berdalil tuduhan yang tidak jelas. Kini, pengacara Demosisto sedang menangani kasus ini.

Sementara itu penangkapan juga dilakukan kepolisian pada Andy Chan. Pendiri Partai Nasional Hong Kong pro-kemerdekaan yang dilarang September lalu ini mengatakan di halaman Facebook-nya pada Kamis malam bahwa ia ditangkap di Bandara Internasional Hong Kong.

The South China Morning Post melaporkan bahwa Wong ditangkap atas tiga tuduhan yaitu mengatur pertemuan ilegal, menghasut pendemo dan menjadi bagian dalam pertemuan ilegal selama pengepungan di markas polisi Wan Chai pada 21 Juni. Sementara itu, Chow ditahan atas dua tuduhan, yaitu menghasut dan menghadiri pertemuan ilegal yang sama dengan Wong.

Penangkapan mereka dilakukan menjelang diadakannya kembali demo anti pemerintah yang sudah berlangsung hampir tiga bulan terakhir di Hong Kong. Awalnya, demo di wilayah yang masih menjadi bagian dari China itu adalah untuk menentang diberlakukannya Rancangan Undang-Undang Ekstradisi pelaku kriminal ke daratan China. Namun kini, demo telah berubah menjadi tindakan anti pemerintah.

Lalu, siapa sebenarnya kedua milenial yang bisa menggerakkan ratusan ribu orang untuk turun ke jalan dalam demo tersebut?

 

Joshua Wong

Sebagaimana pernah diunggah dalam pemberitaan sebelumnya, terlahir sebagai seorang anak yang menderita disleksia yang menyebabkannya kesulitan membaca dan menulis, Joshua Wong Chi-fung telah menjelma menjadi salah seorang politisi. Wong merupakan salah satu pemimpin Demosisto, sebuah partai yang mendukung perubahan demokrasi di Hong Kong (pro-demokrasi).

Pada 2014 lalu, Wong juga pernah terjun dan memimpin demo Yellow Umbrella Movement yang berlangsung selama 79 hari lamanya. Dia didakwa dan dijatuhi hukuman beberapa kali sehubungan dengan demo itu, dan mendekam di penjara sebanyak tiga kali karenanya. Pada 16 Mei 2019, Wong kembali dipenjara atas keterlibatannya dalam demo itu dan dianggap menghina pengadilan.

Ia dibebaskan dari penjara Lai Chi Kok pada 17 Juni setelah menjalani hukuman selama lima minggu. Setelahnya, ia kembali terjun ke dalam demo anti pemerintah. Pembebasan itu dilakukan lebih cepat dari semestinya, seperti dilaporkan QZ.

Namun, tidak jelas apa yang menyebabkan Wong dibebaskan lebih awal. Di bawah peraturan Hong Kong, terpidana dengan masa penjara lebih dari satu bulan dapat dikurangi masa hukumannya sebagai imbalan atas perilaku baik setelah dikurung minimal 31 hari.

“Dilahirkan di masa yang tidak pasti memiliki tanggung jawab tertentu.” Tulis Wong di Twitter pada malam sebelum penangkapannya saat itu.

Sebelumnya pada 5 Oktober 2016, Wong pernah dideportasi dari Thailand karena keterlibatannya dalam Umbrella Movement. Padahal ia sudah tiba di bandara Suvarnabhumi Bangkok. Kedatangannya ke negara itu karena diundang untuk berbagi pengalaman tentang gerakan Umbrella Movement di dua universitas di Bangkok dan berbicara tentang menjadi politisi muda, demikian dilaporkan The Guardian.

“Dan segera setelah saya mengakui identitas saya, mereka mengumumkan perintah dari otoritas Thailand untuk menahan saya dan meminta saya untuk menyerahkan paspor saya. Saya sangat gugup. Saya tidak pernah menyangka ini terjadi setelah baru saja turun dari pesawat.” Katanya saat itu.

Wong yang memperoleh gelar Ilmu Politik dan Administrasi Publik di sebuah universitas terbuka Hong Kong mulai terjun ke dunia politik sejak usia 14 tahun, menurut BBC News. Pada saat itu ia memulai dengan ikut berdemonstrasi menentang rencana untuk membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi antara Hong Kong dan daratan China.

Dua tahun kemudian, ia mendirikan kelompok aktivis mahasiswa pro-demokrasi, bernama Scholarism. Ia berhasil menantang pemerintah dan sejak saat itu mulai dikenal secara luas.

Pada 2012 ia berhasil menghasut lebih dari 100.000 orang untuk memprotes rencana Hong Kong untuk menerapkan sistem pendidikan patriotik wajib di sekolah-sekolah.

 

Agnes Chow

Sama seperti Wong, Chow juga merupakan salah satu pimpinan partai Demosisto. Pada awal tahun 2018, Chow pernah ikut serta dalam pemilihan Dewan Legislatif. Namun ia didiskualifikasi karena merupakan seorang pro-demokrasi yang juga pernah terjun dalam demo anti pemerintah Umbrella Movement pada tahun 2014.

“Larangan terhadap saya bukan masalah pribadi, ini menargetkan seluruh generasi muda yang memiliki pandangan berbeda dari pemerintah,” katanya pada saat itu. “Pemerintah hanya menginginkan orang-orang muda yang akan menunjukkan kasih sayang mereka kepada China dan partai Komunis. Setiap penyimpangan pemikiran sekarang tidak dapat diterima.”

Wanita bernama asli Agnes Chow Ting ini ditangkap di rumah pada Jumat pagi tak lama setelah Wong ditangkap.

Bersama dengan Wong, Chow rencananya akan melakukan perjalanan ke Washington, Amerika Serikat (AS) bulan depan. Di sana mereka akan bertemu dengan anggota parlemen dan berpartisipasi dalam Komite Eksekutif Kongres untuk melakukan dengar pendapat tentang China tentang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong

RUU yang akan dibacakan itu ditujukan untuk menghukum pihak yang menekan kebebasan di Hong Kong termasuk melalui penggunaan sanksi dan larangan visa ke AS. RUU ini telah mendapat dukungan dua partai, termasuk dari ketua DPR Nancy Pelosi dan Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell.

“Kami akan menggunakan pengaruh dan koneksi kami dengan komunitas internasional untuk memberi tahu dunia tentang apa yang terjadi,” kata Chow dalam wawancara sebelumnya dengan The Washington Post. “Itu masih sangat penting.” []

Advertisement
Advertisement