May 26, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Jepang Bangun Radar Tsunami di Purworejo

2 min read

PURWOREJO – Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan gempa dan Tsunami. Namun Indonesia belum memiliki peralatan pemindai tsunami dengan tingkat akurasi terkini.

Pemerintah Jepang melalui Japan Radio Company (JRC) perusahaan teknologi negara itu, membangun radar oseanografi di pantai Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo. Radar itu mampu mendeteksi gelombang, termasuk kedatangan tsunami secara akurat dengan jarak jangkauan 80 kilometer.

Mengutip Harian Kedaulatan Rakyat, pejabat JRC Tokyo Takanobu Kadoya dan direktur perwakilan Indonesia Yoshihiya Takagawa, didampingi pejabat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo, meninjau calon lokasi di desa itu, Senin (01/07/2019) sore. Selain di Keburuhan, radar serupa juga akan dirakit di Pantai Samas Bantul Yogyakarta.

“Radar tipe tersebut merupakan yang pertama kali di Indonesia, instalasi di Keburuhan dan Samas akan jadi percontohan,” ujar Kasi Observasi BMKG Budiarta.

Pembangunan tersebut diperkirakan mulai akhir Juli 2019. Antena pemancar dan penerima sinyal sedang proses pembuatan di Jepang dan diperkirakan selesai, kemudian dikirim untuk dipasang di Indonesia akhir tahun.

Setelah perakitan, JRC melakukan riset dan ujicoba selama enam bulan. “Apabila sukses, perkiraannya radar diserahkan untuk dioperasikan BMKG pada Maret 2020. Peralatan dan pembangunannya murni hibah Jepang,” ucapnya.

Menurutnya, keberadaan radar tersebut sangat penting untuk mitigasi bencana tsunami pesisir selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Lempeng tektonik di bawah Samudera Hindia menyimpan potensi gempa megathrust yang disimulasikan bisa mencapai 8,5 – 8,8 Skala Richter (SR) dan berpotensi tsunami.

Radar, katanya, berfungsi menyediakan data tinggi gelombang, arah arus dan kecepatan, radar juga memiliki sensivitas tinggi merekam gelombang tsunami. “Apabila ada gempa bumi, otomatis radar akan merekam pergerakan gelombang lalu dikirim ke server dalam bentuk data mentah. Kami olah data itu, apabila terbaca ada tsunami, BMKG segera informasikan BPBD untuk nyalakan Early Warning System (EWS) sehingga dilakukan evakuasi,” terangnya. [Jas/KRJ]

Advertisement
Advertisement