December 4, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Juru Kunci Merapi : Sering Terdengar Dentuman dan Cuaca Semakin Panas

2 min read
Prime Banner

SLEMAN – Beberapa hari belakangan, aktifitas gunung Merapi menjadi headline pemberitaan media-media nasional. Pasalnya, gunung yang terletak di perbatasan dua provinsi tersebut terpantau mengalami peningkatan aktifitas vulkanik.

BPPTKG menyatakan, status Siaga untuk gunung merapi. Menyusul beberapa daerah sekitar seperti Sleman, Magelang, Klaten serta Boyolali mulai melakukan langkah antisipasi menyelamatkan warganya, terutama di kawasan terdampak.

Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau yang biasa dipanggil Mas Asih pun merasakan tanda-tanda peningkatan aktivitas yang begitu cepat.

“Kalau Merapi menurut saya ada satu peningkatan agak cepat. Jadi (masyarakat) harus hati-hati untuk menjaga keselamatan jangan sampai lengah untuk memperhatikan Merapi itu sendiri,” kata Mas Asih saat ditemui di kediamannya Huntap Karang Kendal, Pelem Sari, Umbulharjo, Cangkringan,dikutip dari Detik.com,  Sabtu (07/11/2020).

Mas Asih mengungkapkan saat ini banyak sekali tanda alam terkait peningkatan Merapi. Bunyi suara guguran dari Merapi pun sering terdengar.

“Tanda khusus memang secara umum ada, sering ada guguran dan sinyal (kegempaan) selalu meningkat. Sering mendengar suara guguran,” ungkapnya.

“Guguran suaranya gludug-gludug mungkin ada batu yang jatuh suaranya gembludug atau sinyal itu meliuk-liuk karena getaran dari guguran tersebut,” sambungnya.

Selain itu ia merasakan cuaca di lereng Merapi terasa panas beberapa waktu terakhir.

“Memang ada peningkatan suhu. Hari ini panasnya agak semlengit. Sejak kemarin panas itu ada peningkatan,” ungkapnya.

Sebagai juru kunci Merapi, Mas Asih menyatakan tidak ada ritual khusus semacam upacara selamatan. Namun, yang ada hanyalah doa bersama untuk meminta keselamatan.

“Tidak ada selamatan, hanya ada doa bersama memohon kepada Tuhan semoga warga masyarakat di kawasan bencana mudah mudahan bisa selamat dan tidak ada korban,” paparnya.

Menurutnya, masyarakat saat ini sudah paham dengan kondisi Merapi. Apalagi dengan kejadian erupsi 2010, masyarakat sudah paham dan sudah menyesuaikan.

“Jadi memang warga masyarakat sudah sadar bahwa kondisi merapi meningkat dan masyarakat menyesuaikan karena sudah pengalaman 2010 sehingga tidak disuruh mereka sudah sadar bahwa itu memang berbahaya jika Merapi erupsi,” ucap Mas Asih.

Kendati demikian dia tetap mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati. Masyarakat juga diminta agar tidak masuk dalam radius bahaya 5 km.

“Masyarakat untuk menyikapi status ini harus hati-hati. Karena warga masih ada aktivitas di Merapi tapi karena sekarang peningkatan status yang dulu radius bahaya 3 km sekarang 5 km (semua) harus kosong,” pungkasnya.[]

Advertisement