Kebahagiaan Bagi Orang yang Berpuasa
2 min read
JAKARTA – Di balik rasa lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari, Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa puasa menyimpan dua kebahagiaan yang sangat istimewa bagi orang yang menjalaninya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengubah cara kita memahami makna kebahagiaan.
Puasa memang menahan. Namun di balik penahanan itu, Rasulullah ﷺ justru berbicara tentang kegembiraan.
Ini menunjukkan bahwa dalam perspektif Islam, kebahagiaan tidak selalu lahir dari pemenuhan keinginan, tetapi sering justru lahir dari ketaatan dan pengendalian diri.
Kebahagiaan saat Berbuka
Kebahagiaan pertama adalah ketika berbuka.
Ini bukan sekadar rasa lega setelah lapar dan haus. Ia adalah kegembiraan karena berhasil menyelesaikan ketaatan yang Allah perintahkan.
Dalam syarah hadisnya, An-Nawawi menjelaskan bahwa kegembiraan ini adalah kegembiraan ibadah yang telah ditunaikan dengan baik.
Ada rasa syukur kepada Allah. Ada rasa berhasil menjaga amanah. Ada rasa kedekatan spiritual setelah seharian menahan diri.
Berbuka bukan hanya mengakhiri lapar.
Ia adalah perayaan kecil dari ketaatan.
Kebahagiaan saat Bertemu Allah
Kebahagiaan kedua jauh lebih besar:
وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.”
Menurut penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani, kebahagiaan ini terjadi ketika seorang hamba melihat pahala puasanya di akhirat.
Puasa adalah ibadah yang pahalanya tidak dihitung dengan ukuran biasa.
Dalam hadis qudsi disebutkan:
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa pahala puasa memiliki dimensi yang sangat istimewa di sisi Allah.
Ada kebahagiaan yang tidak terlihat di dunia, tetapi menunggu di akhirat.
Puasa dan Paradigma Kebahagiaan
Dunia modern sering mengajarkan bahwa kebahagiaan berasal dari pemenuhan keinginan.
Makan ketika ingin makan.
Minum ketika ingin minum.
Memiliki ketika ingin memiliki.
Namun puasa mengajarkan paradigma yang berbeda.
Kebahagiaan tidak selalu berada pada pemenuhan keinginan, tetapi pada kemampuan mengendalikan keinginan demi Allah.
Di sinilah puasa menjadi latihan kebebasan sejati. Manusia tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsunya, tetapi mampu mengendalikannya.
Momentum Hari Ke-16
Memasuki hari ke-16, Ramadan telah melewati pertengahan fase awal.
Energi fisik mungkin mulai menurun. Rutinitas puasa terasa panjang. Namun hadis ini mengingatkan bahwa setiap hari puasa membawa dua kebahagiaan.
Setiap magrib adalah tanda keberhasilan.
Jika puasa hanya dipandang sebagai penahanan lapar, ia terasa berat. Namun jika dipahami sebagai jalan menuju kebahagiaan, ia terasa manis.
Refleksi
Ramadan bukan bulan penderitaan. Ia bulan kebahagiaan yang tertunda.
Ada kebahagiaan kecil setiap hari saat berbuka. Dan ada kebahagiaan besar saat bertemu Allah.
Pertanyaannya hari ini:
Apakah kita merasakan kebahagiaan dalam ketaatan?
Ataukah kita hanya menghitung menit menuju waktu berbuka?
Karena bagi orang yang berpuasa dengan kesadaran, setiap hari Ramadan adalah perjalanan menuju kebahagiaan yang lebih besar. []
Penulis : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani
