March 17, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kerugian Terbesar Ramadan: Tidak Peduli pada Lailatulqadar

3 min read

JAKARTA – Ramadan adalah musim kemuliaan yang dipenuhi rahmat dan ampunan. Di dalamnya tersimpan satu malam yang nilainya melampaui ribuan bulan. Namun betapa meruginya manusia jika hatinya tidak tergerak untuk meraihnya.

Ketika banyak orang bersungguh-sungguh mencari Lailatulqadar, ada pula yang justru lengah, seolah malam agung itu tidak memiliki arti bagi kehidupannya di dunia maupun akhirat.

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang datang setiap tahun lalu berlalu begitu saja. Ia adalah panggilan langit bagi manusia agar kembali mendekat kepada Allah. Di dalamnya terdapat malam yang begitu agung, malam yang dijanjikan Allah sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatulqadar.

Betapa besar karunia ini bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Namun karunia besar itu bisa saja terlewat jika manusia tidak memiliki kerinduan untuk meraihnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1–5)

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya kemuliaan malam tersebut. Seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam Lailatulqadar lebih bernilai daripada umur panjang manusia yang dipenuhi ibadah.

Bayangkan jika seseorang diberi kesempatan beribadah pada malam itu dengan penuh keimanan dan harapan pahala, maka seolah ia beribadah selama puluhan tahun. Namun kesempatan itu hanya diraih oleh mereka yang hatinya hidup.

Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh mencari malam ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

“Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberi gambaran bagaimana Nabi tidak ingin melewatkan kesempatan besar itu. Beliau tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak keluarganya agar ikut meraih keberkahan malam tersebut. Ini menjadi pelajaran penting bahwa Lailatulqadar bukan hanya untuk para ulama atau orang yang sangat saleh, tetapi untuk setiap muslim yang mau berusaha.

Namun yang patut dikhawatirkan adalah ketika seseorang justru tidak memiliki keinginan untuk mencarinya. Malam-malam Ramadan berlalu dengan kesibukan dunia, dengan tidur yang panjang, atau dengan hiburan yang tidak bermanfaat, sementara kesempatan meraih pahala besar justru diabaikan. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatulqadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dan Muslim)

Betapa besar janji ini. Hanya dengan satu malam yang diisi dengan ibadah, dosa-dosa yang lalu bisa diampuni oleh Allah. Namun syaratnya adalah iman dan keikhlasan. Artinya, ibadah itu dilakukan dengan keyakinan kepada Allah dan harapan akan pahala-Nya, bukan sekadar rutinitas atau mengikuti orang lain.

Para ulama menjelaskan bahwa Lailatulqadar biasanya berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Karena itu umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada malam-malam tersebut: salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan memohon ampun kepada Allah. Inilah waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika bertemu Lailatulqadar. Rasulullah menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (Tirmizi)

Doa ini begitu singkat, tetapi maknanya sangat dalam. Ia mengajarkan kerendahan hati seorang hamba yang menyadari betapa banyak dosa yang telah dilakukan. Pada malam yang penuh kemuliaan itu, seorang mukmin memohon agar Allah menghapus segala kesalahan dan membuka lembaran baru kehidupannya.

Karena itu, kekhawatiran terbesar bukanlah ketika kita tidak tahu secara pasti kapan Lailatulqadar terjadi. Kekhawatiran yang sesungguhnya adalah ketika hati kita tidak lagi merasa perlu mencarinya—ketika jiwa tidak tergerak untuk bangun malam, tidak rindu untuk berdoa, dan tidak merasa kehilangan jika malam itu berlalu begitu saja.

Ramadan sejatinya adalah kesempatan yang Allah berikan agar manusia memperbaiki dirinya. Lailatulqadar adalah puncak dari kesempatan itu. Siapa yang bersungguh-sungguh mencarinya akan merasakan kedamaian dalam ibadah, sementara siapa yang lalai akan menyesal ketika Ramadan telah pergi.

Maka selama pintu kesempatan masih terbuka, bangkitkanlah hati untuk mendekat kepada Allah. Hidupkan malam dengan salat, basahi lisan dengan zikir, dan tundukkan hati dengan doa. Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi, yang melewatkan malam kemuliaan tanpa usaha untuk meraihnya.

Sebab boleh jadi Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhir dalam hidup kita. Jika malam Lailatulqadar datang dan kita berada dalam ibadah, maka itu adalah karunia yang tak ternilai. Namun jika ia datang sementara kita lalai, penyesalan itu mungkin akan terasa sepanjang kehidupan. []

Penulis :  Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply