January 21, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kesurupan, Kenapa Sering Terjadi Pada Kaum Perempuan (?)

5 min read

JAKARTA – Kerasukan atau kesurupan adalah keadaan kesadaran yang tidak biasa atau berubah. Perubahan perilaku konon disebabkan oleh pengendalian tubuh manusia oleh roh, hantu, setan, atau dewa.

Konsep kerasukan roh atau entitas gaib dijumpai dalam banyak budaya dan agama, termasuk Buddha, Kristen, Vodou Haiti, Hindu, Islam, Wicca, dan kepercayaan tradisional di Asia Tenggara serta Afrika.

Tergantung pada konteks budaya di mana ia ditemukan, kerasukan dapat berupa sukarela atau tidak sukarela dan dapat dianggap memiliki efek menguntungkan atau merugikan pada individu yang mengalaminya.

Mengutip dari kompas.com, kesurupan adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi seseorang atau sekelompok orang yang mengekspresikan perilaku di luar kesadaran mereka. Kesurupan disebut juga dengan kerasukan.

Ternyata, walaupun sering dikaitkan dengan masuknya roh atau makhluk halus, kesurupan bisa dijelaskan secara ilmiah. Begini penjelasan ilmiah kesurupan.

 

Jenis-jenis kesurupan

Dalam dunia psikiatri, kesurupan dibagi menjadi dua jenis:

  1. Munculnya keyakinan adanya kekuatan lain yang menguasai diri seseorang

Gejala ini muncul akibat terbaginya isi pikiran seseorang. Gejala ini merupakan gejala yang dialami juga oleh pasien skizofrenia dan waham.

 

  1. Metaformosis total

Pada jenis yang kedua, orang yang kesurupan meyakini dirinya berubah menjadi orang lain atau menjadi benda tertentu. Dalam dunia psikiatri, gejala ini disebut juga sebagai gangguan disosiasi yang merupakan bagian dari neorosa histerik.

Umumnya kesurupan dipicu oleh stres psikologis berat. Kondisi ini, memicu ia beralih menjadi pribadi yang lain.

 

Apa yang terjadi pada orang yang kesurupan?

Kondisi mental orang yang kesurupan serupa dengan orang yang dihipnotis dan kondisi pilot di pesawat udara. Pasien yang mengalami disosiasi, sangat mudah dihipnotis.

Kondisi ini muncul ketika seseorang menghindari stres dengan menciptakan kondisi disosiatif untuk mencegah munculnya ingatan traumatis akan terjadinya sesuatu hal yang buruk. Jadi, kondisi ini merupakan mekanisme seseorang untuk bertahan terhadap stres yang ia alami.

Kesurupan sebenarnya hanya salah satu bentuk gangguan disosiasi. Bentuk lain, dari gangguan ini adalah amnesia. Amnesia di sini, adalah hilangnya memori disertai terciptanya identitas baru. Kondisi ini juga disebut dengan kepribadian ganda.

 

Penyebab kesurupan

Kesurupan bukanlah disebabkan kemasukan roh atau jin. Penyebab utama kesurupan adalah stres akibat tekanan mental. Tekanan mental yang terjadi bisa akibat hal yang terjadi di rumah, sekolah, atau tempat kerja.

Contoh tekanan mental yang terjadi antara lain perundungan, penyiksaan fisik, penyiksaan seksual, sering dimarahi orang tua, atau bertengkar dengan teman.

Melansir dari republika.co.id, kesurupan banyak terjadi atau menimpa wanita, karena wanita pada dasarnya mudah mengalami ketakutan. Belum lagi persepsi yang salah tentang setan yang bentuknya seperti kuntilanak, jin, genderuwo. Sudah ketakutan, membayangkan yang mengerikan, ya sudah, setannya lebih mudah masuk.

 

Bagaimana Islam menjelaskan fenomena kesurupan?

Dalam Al-Qur’an surah Al-Falaq ayat 4 disebutkan soal keberadaan tukang sihir yang menghembuskan kejahatannya pada uqod atau buhul atau simpul/sarang setan. Nah, pada saat di dalam tubuh ada sarang setan, mereka bisa masuk. Mereka bisa masuk, melalui pembuluh darah karena disitulah letak simpul-simpul setan. Namun, tidak semua pembuluh darah bisa dimasuki setan, kecuali tiga yang sangat sensitif.

Rasulullah SAW pernah menyatakan, bahwa tiga titik itu adalah pembuluh darah yang menghidupkan potensi otak kecil manusia. Di titik itu, jika kita sering berpikir berlebihan sehingga tidak kuat menahan, hal itu bisa menimbulkan depresi.

Ketika terjadi penegangan dalam pembuluh darah kita, maka melemahlah potensi elektro kita sehingga ada arus listrik dari golongan jin masuk dan mempengaruhi sehingga terjadi kesurupan.

Yang kedua, terletak di pembuluh darah yang menghidupkan potensi khayalan. Sama halnya dengan yang pertama, jika itu menegang karena kita terlalu sering mengkhayal maka setan kemungkinan besar bisa masuk.

Yang ketiga, di pembuluh yang terletak di bawah telinga. Ini bisa menimpa mereka yang malas, kurang kreatif, tidak punya semangat hidup, cemas, dan putus asa.

 

Selain orang yang stres, siapa lagi yang berpotensi kesurupan?

Mereka adalah ahlul bid’ah. Orang yang fisiknya sehat namun akidahnya rusak. Mereka inilah orang-orang yang menyenangi ajaran-ajaran yang dicampuradukkan seperti ajaran Islam dengan ajaran tradisi seperti kejawen dan sebagainya. Karena, itu banyak kiai atau ustaz yang mengajarkan ilmu kekebalan, atau ilmu mengobati dengan memindahkan penyakit ke kambing, ada juga yang mengobati namun bekerja sama dengan jin.

Orang-orang seperti ini ketika mencari ilmu dengan cara tidak syar’i, seperti puasa mutih 40 hari 40 malam, zikir yang bid’ah, mandi air kembang, minta wangsit ke kuburan, dan sebagainya. Mereka yang melakukan hal ini juga mudah kemasukan dan dikuasai setan. Inilah, kalangan ahlul bid’ah dalam Islam.

 

Bagaimana menghindari agar tidak kesurupan?

Allah SWT menyatakan dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 99 bahwa “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” Jadi sebenarnya mudah saja, selama kita beriman dan bertawakal, setan tidak akan menguasai manusia.

Jika, imannya kuat dan bertawakal, mereka akan optimis, bersemangat, tenang, tentram, dan tahan banting terhadap semua masalah.

 

Bagaimana dengan membaca ayat atau zikir untuk mengusir jin?

Kalau kita menjadikan ayat sebagai jimat, ini juga tidak boleh. Ini yang sering terjadi di masyarakat di mana ayat menjadi jimat. Padahal yang paling penting adalah ayat Al-Qur’an ini menjadi motivasi tauhid kita. Ayat ini, jauh lebih bermakna jika diamalkan daripada sekedar dilafalkan saja. Misalnya kita baca ayat kursi ribuan kali tapi masih takut sama setan, berarti tidak mengamalkan ayat kursi. Setan juga tidak bakalan takut. Intinya, bukan hanya melafalkan tapi bertauhid.

 

Bagaimana caranya mengusir jin?

Yang pertama, kita harus menanganinya dengan cara ruqyah. Hal ini juga dicontohkan Rasulullah SAW. Memang, ada ayat-ayat tertentu yang dibaca dan itu diajarkan Rasulullah SAW. Namun, seorang pe-ruqyah harus mendalami betul ayat-ayat itu, apa maksud Rasulullah SAW membacakan ayat itu kepada orang yang kerasukan setan, jadi bukan hanya semata-mata ayat itu dibaca.

Dia juga harus punya mental pemberani dalam mengalahkan setan. Selain itu, juga tidak boleh percaya dengan apa yang diomongkan setan. Dalam hadis dinyatakan bahwa ayat-ayat yang boleh dibacakan untuk mengusir setan adalah Surah Al-Fatihah, Al-Baqarah 1-5; 163-164; 255-257; 284-286, Ali Imran 18, Al ‘Araf 54, Al Hasyr 1-3, Ash Ahoffat 1-10, Al mu’minun 97-98; 115-116, Al Jin 1-3, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas.

Jika, dibaca berulang-ulang oleh pe-ruqyah ditambah dengan tekanan di pembuluh darah tertentu, insya Allah setannya bisa keluar. Asal jangan pernah diikuti apapun yang diinginkan setan dan jangan pernah dipercaya apa yang mereka katakan.

 

Adakah waktu atau tempat tertentu yang disenangi setan?

Ada tempat-tempat setan itu, di antara hawa panas dan dingin, misalnya waktu di antara terbit matahari ke pagi hari, atau dari sore hari ke malam hari. Mereka juga menyenangi tempat pengap yang hampir hampa udara seperti gudang atau rumah kosong, atau di tempat yang dikeramatkan, misal di bawah pohon besar, atau di kuburan keramat, atau di masjid yang jemaah masjidnya senang dengan amalan bid’ah.

Dalam Islam, setan itu bukan makhluk, tapi nama sifat. Jadi, semua sifat buruk yang terdapat dalam jin dan manusia yang ingkar pada Allah SWT dan Rasul-Nya itu adalah sifat setan. Dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 112, dijelaskan soal keberadaan setan dari jenis manusia dan jin. Hanya saja istilah ini tidak lazim digunakan. []

Advertisement
Advertisement