March 28, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ketika Tidak Disukai, Jangan Membenci

3 min read

JAKARTA – Kita tidak pernah benar-benar memiliki kuasa atas cara orang lain menilai kita. Seikhlas apa pun niat, sehalus apa pun tutur kata, selalu ada ruang bagi kesalahpahaman, kecurigaan, bahkan kebencian.

Pada titik inilah sebuah kalimat sederhana menemukan kedalaman maknanya: kita mungkin tidak mampu membuat semua orang menyukai kita, tetapi kita selalu mampu mendidik hati kita agar tidak membenci siapa pun.

Kalimat itu terdengar klise, tetapi justru di zaman inilah—zaman media sosial, polarisasi opini, dan budaya saling menghakimi—pesannya terasa semakin mendesak. Banyak orang hari ini kelelahan bukan semata karena beban hidup, melainkan karena terlalu sibuk mengejar pengakuan dari luar dirinya.

Di ruang digital, nilai diri kerap dipersempit menjadi angka: jumlah likes, komentar, dan pengikut. Ketika apresiasi itu tidak kunjung datang, sebagian orang mulai meragukan dirinya sendiri. Dari sana muncul rasa kesal, iri, bahkan kebencian kepada mereka yang tampak lebih diterima. Padahal persoalan utamanya bukan terletak pada orang lain, melainkan pada hati yang belum sepenuhnya berdamai dengan kenyataan.

Islam sejak awal telah menanamkan satu prinsip mendasar: rida manusia adalah tujuan yang tak pernah benar-benar tercapai. Imam Asy-Syafi’i mengingatkan dengan jernih, “Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah sampai.”

Karena itu, energi hidup seorang mukmin tidak semestinya dihabiskan untuk mengejar penilaian manusia, melainkan diarahkan untuk merawat kebersihan hati dan keikhlasan niat.

Al-Qur’an pun memberikan rambu yang tegas sekaligus menenangkan:

“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (Fushshilat: 34).

Ayat ini tidak menjanjikan bahwa semua orang akan menyukai kita. Namun ia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: bahwa kebencian tidak boleh dibalas dengan kebencian. Yang perlu kita didik bukan reaksi orang lain, melainkan respons batin kita sendiri.

Di sinilah pendidikan hati sering terabaikan. Kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter. Lebih tekun melatih keterampilan berbicara di depan publik daripada melatih kesabaran saat disalahpahami.

Padahal, membenci orang lain hanya akan menggerogoti jiwa kita sendiri. Kebencian jarang melukai sasarannya, tetapi perlahan menghabiskan ketenangan pemiliknya.

Bagi generasi muda, pesan ini menjadi semakin penting. Hidup di tengah kompetisi ketat dan ekspektasi sosial yang tinggi membuat banyak anak muda mudah merasa “kurang” ketika tidak diterima. Di sinilah nilai spiritual dan kematangan emosional menjadi penyangga yang tak tergantikan. Tidak disukai bukan berarti gagal. Tidak dipuji bukan berarti tidak berharga.

K.H. Ahmad Dahlan memberi teladan berharga tentang kelapangan dada dalam menghadapi penolakan dan cemoohan. Beliau tidak membalas kebencian dengan amarah, tetapi dengan kerja nyata dan keteladanan yang konsisten. Sejarah menunjukkan, ketulusan yang bertahan lama jauh lebih kuat daripada popularitas yang datang sekejap.

Mendidik hati agar tidak membenci bukan berarti menjadi lemah atau permisif terhadap ketidakadilan. Kita tetap boleh berbeda pendapat, bersikap tegas, dan memperjuangkan kebenaran. Namun semua itu dilakukan tanpa dendam, tanpa kebencian, dan tanpa kehilangan adab.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang membuat semua orang bertepuk tangan untuk kita. Hidup adalah tentang menjaga hati agar tetap jernih di tengah riuhnya penilaian. Jika hati telah terdidik dengan baik, kita tidak lagi sibuk bertanya, “Mengapa mereka tidak menyukaiku?” melainkan mulai bertanya lebih dalam, “Apakah aku telah jujur pada nilai yang kupegang?”

Dan mungkin, di situlah kemerdekaan batin itu bermula. []

Penulis : Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply