July 3, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Keumalahayati dan Ikrar Para Janda Perang Sampai Memenangkan Peperangan

6 min read

JAKARTA – Suatu hari pada abad ke-17, Teluk Haru yang berada di perairan Selat Malaka mendadak menjadi area pertempuran paling berdarah di Pulau Sumatra.

Intrik perdagangan rempah yang sudah terjadi di Bumi Serambi Mekkah sejak abad ke-16 akhirnya pecah menjadi perang terbuka antara Armada Laut Kesultanan Aceh dan pasukan Portugis.

Pekik takbir saling bersahutan saat pasukan Kesultanan Aceh secara serentak menyerang kapal-kapal milik Portugis. Dalam peperangan tersebut, Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil sebagai panglima tertinggi memimpin langsung didampingi oleh dua orang Laksamana atau yang saat itu dikenal dengan sebutan admiral (Panglima Laut).

Dalam pertempuran sengit itu, ribuan orang dari kedua belah pihak tewas. Sayangnya dua orang laksamana juga turut menjadi korban. Salah satunya adalah Laksamana Zainal Abidin yang tidak lain adalah suami dari Keumalahayati—seorang putri berdarah kerajaan yang memiliki jiwa militer laut dalam dirinya.

Melihat suaminya tewas bersimbah darah, Keumalahayati pun menyimpan dendam. Dalam kesedihan, darahnya seakan mendidih dan berniat untuk menghancurkan Portugis dan penjajah lainnya dari Aceh. Baginya, perjuangan sang suami bersama nyawa korban rakyat Aceh lainnya harus terus dilanjutkan sampai titik darah penghabisan.

Meskipun pada pertempuran hari itu rakyat Aceh menang, Keumalahayati tidak puas. Dia ingin seluruh penjajah pergi. Langkah tidak terduga pun ia lakukan ketika menghadap Sultan Alauddin Riayat.

Dia terang berujar, akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya yang telah gugur.

 

Menyatukan Janda Perang

Sebagai bentuk perlawanan, Keumalahayati meminta izin kepada Sultan untuk membentuk sebuah pasukan khusus. Pasukan ini beranggotakan para janda dari prajurit Aceh yang gugur. Kematian syahid para suami tidak ada artinya jika perjuangan berhenti begitu saja.

Atas dasar itulah pasukan janda berikrar siap mati ini akan menumpahkan segala kemampuan di medan peperangan.

“Paduka Sultan, lebih dari seribu prajurit Aceh gugur sebagai syuhada dalam pertempuran melawan Portugis. Dan sekarang ada seribu perempuan Aceh yang menjadi janda para syuhada. Mereka meminta izin untuk bergabung menjadi prajurit Aceh dan ikut membela negara jika musuh menyerang,” kata Keumalahayati di depan Sultan Alaudin.

Mengutip laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sultan Alauddin pun menyetujui permintaan Keumalahayati. Perempuan ini bukanlah orang sembarangan.

Lahir dari keluarga dan memiliki latar pendidikan militer membuat Sultan Alauddin memberikan izin. Mendapatkan restu tersebut, Keumalahayati semringah, karena sudah saatnya rakyat Aceh bersatu tanpa melihat gender.

Ada hal lain membuat Sultan mengizinkan dibentuknya pasukan khusus ini. Pada saat pertemuan, Keumalahayati bersumpah atas nama Tuhan akan berjuang sampai titik darah penghabisan melawan musuh-musuh Kesultanan Aceh.

Berdasar segala faktor tersebut, Sultan Alauddin tidak segan memberikan pangkat Laksamana kepada Keumalayahati. Di sisi lain, Sultan pun sedang kurang percaya dengan laki-laki sebagai pemegang jabatan tinggi.

Selepas pertemuan, Keumalahayati mulai menyiapkan pasukan. Para petempur ini disebutnya sebagai Armada Inong Balee, atau memiliki arti Pasukan Wanita Janda.

Pembentukan pasukan ini bisa mengumpulkan tiga ribu janda untuk bergabung.

Untuk kepentingan pasukan, dia lantas mendirikan sebuah benteng yang diberi nama Kuta Inong Balee atau Benteng Wanita Janda.

Dalam riset yang berjudul “Laksamana Keumalahayati Simbol Perlawanan Aceh (Peranan dan Perjuangan Dalam Lintasan Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam (1589-1604)”, Cut Rizka Al Usrah dari Universitas Negeri Medan menjelaskan, Kuta Inong Balee didirikan di Teluk Krueng Raya atau persis di bibir laut menghadap langsung ke Teluk Haru.

Benteng ini dibangun  dengan tinggi 100 meter dari permukaan laut. Tembok benteng setebal dua meter dibuat dengan tinggi tiga meter dan lubang-lubang Meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk.

Teluk Krueng Raya dipilih karena menghadap ke Selat Malaka dengan tujuan bisa mengawasi kapal-kapal Eropa yang datang ke Aceh.

Tidak hanya itu, Keumalahayati juga membuat pangkalan militer yang lokasinya tidak jauh dari benteng.

Dia juga melatih langsung para janda ini sebagai prajurit yang tangguh dalam berperang. Bekal di Akademi Angkatan Besenjata Kesultanan Ma’had Baitul Maqdis mendasari pendidikannya. Di akademi tersebut, Keumalayahati dididik langsung oleh para perwira perang dari Kesultanan Turki Usmani.

Para wanita itu harus bisa berdiplomasi, membuat taktik perang, dan cara menggunakan senjata sebagai alat pelindung diri. Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan kemampuan terdasar bagi seorang prajurit.

Di sisi lain, menjadi seorang laksamana membuat Keumalahayati juga harus mengoordinasi sejumlah pasukan laut lainnya.

Di bawah kepemimpinannya, ia harus mengawasai pelabuhan yang berada di bawah syahbandar dan juga kapal-kapal jenis galley (kapal perang) milik Kesultanan Aceh.

Perlu diketahui, pada saat itu Armada Laut Kesultanan Aceh menjadi salah satu pasukan paling ditakuti oleh bangsa Eropa.

Nakhoda kapal Belanda John Davis berujar, pada saat itu Kesultanan Aceh memiliki armada laut yang terdiri dari 100 kapal perang dengan muatan sampai 500 orang. Di bawah pimpinan Keumalahayati pasukan ini disebut menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Kapal-kapal galley ini ditempatkan di pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah kuasa kesultanan seperti di Daya dan Pedit. Yang membuatnya mereka menakutkan karena adanya kapal-kapal besar yang muatannya lebih banyak dari kapal yang dibuat oleh bangsa Eropa pada kurun waktu yang sama.

 

Inong Balee Disegani

Setelah dibentuk dan berhasil beberapa kali mengintervensi gesekan dengan Portugis dan Belanda, Keumalahayati dan pasukan para janda mendapat predikat serius di mata para pedagang Eropa.

Salah satu aksi yang paling diingat adalah bagaimana mereka berhasil mengusir dua kapal dagang belanda sekaligus membunuh pemimpinnya, Cornelis de Houtman.

Dibentengi para pasukannya, Keumalahayati berhasil mencapai geladak kapal dan berduel sengit satu lawan satu dengan Cornelis de Houtman. Bersenjatakan rencong, Keumalahayati tak gentar menghadapi pedang panjang Cornelis.

Lincah dan berhasil membunuh Cornelis dalam satu tikaman, menyurutkan perlawanan para pedagang Belanda yang berlabuh namun membuat gaduh di Aceh tersebut.

Menyandera adik Cornelis, Frederick de Houtman, membuat Kerajaan Belanda secara santun mengirimkan utusan untuk bernegosiasi dengan Kesultanan Aceh.

Cerita Keumalahayati dan Inong Balee-nya dengan mudah tersebar dalam lingkungan penjelajah-penjelajah Eropa. Kerajaan Inggris yang ingin berdagang pun cenderung memilih jalur diplomasi meminta izin pada Kesultanan Aceh untuk melintas di Selat Malaka.

Statusnya sebagai laksamana yang memimpin pasukan perempuan penuh dendam benar-benar berarti sesuatu bagi para penjelajah yang ingin mencari rempah melalui Selat Malaka.

Aksinya membunuh Cornelis de Houtman juga memberikan pesan tersendiri bagi Kerajaan Belanda. Cornelis adalah seorang penjelajah ulung yang cukup disegani di antara para pelaut Belanda. Lewat Cornelis juga akhirnya Belanda bisa menemukan jalur rempah yang telah lama diincar oleh para penjelajah Eropa.

 

Mengakar kuat di Aceh

Selepas dari Keumalahayati, semangat Inong Balee juga kembali muncul di abad ke-19. Saat itu Cut Nyak Dhien yang kehilangan suami pertamanya, Teuku Ibrahim Lamnga akibat perang, memberanikan diri untuk menikah lagi dengan Teuku Umar.

Langkah ini diambil agar dirinya bisa berperang melawan Belanda yang telah membunuh suaminya. Teuku Umar sendiri dikenal sudah terlibat dengan perang melawan penjajah di usia yang masih sangat muda, 19 tahun.

Pernikahan keduanya berlatar politis dan dibumbui dengan perjanjian unik. Teuku Umar yang awalnya ditolak, akhirnya berhasil menikahi Cut Nyak Dhien setelah ia mengizinkan sang istri  berperang bersama. Pola balas dendam janda ini terasa cukup akrab dengan pola yang dilakukan Keumalahayati dengan pasukannya.

Istilah Inong Balee ini pun sempat digunakan sebagai bentuk propaganda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1989. Branding yang digunakan saat itu adalah Inong Balee menjadi sebutan untuk para perempuan dan istri-istri yang bersuamikan anggota GAM.

Didengungkan oleh pemimpin GAM saat itu sebagai bentuk pembakar semangat bagi para perempuan yang mendukung atau bersuamikan anggota GAM, Inong Balee pun mengalami pergeseran makna walau tetap didasari dengan filosofi perjuangan.

Namun, terlepas dari salah satu bagian gelap sejarah Aceh itu sendiri, Inong Balee tetap paling dikenal sebagai karya terbaik Laksamana Keumalahayati selama hidupnya.

Semangat membalas dendam atas kematian suami dan berjuang dengan berani tanpa takut ajal menjadi inti yang menggetarkan siapapun. Selayaknya berhadapan dengan pasukan berani mati, tak ada lagi hal yang mereka takutkan dalam sebuah pertempuran.

Sepak terjang dan statusnya sebagai perempuan pertama di dunia yang menjabat posisi panglima laut, menjadikan Keumalahayati peroleh julukan khusus dari Kepala Badan Rahasia Kerajaan Inggris. Dia disebut sebagai Guardian of the Aceh Kingdom.

Perjuangan Laksamana Keumalahayati harus terhenti bersama Inong Balee pada tahun 1615 setelah tewas dalam sebuah pertempuran melawan Portugis. Pertempuran terjadi saat mempertahankan Teluk Krueng Raya. Ia dimakamkan di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Atas jasa-jasanya, Laksamana Keumalahayati dianugerahkan gelar pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 6 November 2017. Keputusan itu tertuang dalam Kepres RI No. 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. []

Penulis: Dwi Herlambang, Penelisi Visi Teliti Saksama

Advertisement
Advertisement