Kisah Sukses Anik, Petelur Asin Asal Magetan yang Sukses Menembus Pasar Hong Kong dan Taiwan

Prime Banner

MAGETAN – Di tangan pengusaha perempuan di Magetan, Jawa Timur ini, telur asin tak hanya melulu terasa asin. Anda akan mendapatkan beberapa varian rasa seperti rasa bawang pedas, rasa strowberi, rasa sirsak serta telur asin bakar yang dikombinasi dari rasa yang ada.

Usaha telur asin yang digeluti Anik Darwati (36), warga Desa Dung Panji berawal dari minimnya keuntungan yang didapat orang tuanya dari memelihara bebek. Untuk meningkatkan harga jual telur bebek tersebut, dosen Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Ponorogo tersebut mengolah telur tersebut menjadi telur asin.

“Dari 100 ekor bebek, peternak hanya punya keuntungan Rp 50 ribu. Sangat tipis untungnya dibanding dengan harga pakan,” ujarnya dilansir dari Harian Kompas, Senin (09/04/2019).

Namun usaha untuk mendapatkan nilai lebih dari telur bebek tidak semudah membalik telapak tangan. Ternyata membuat telur asin yang disukai oleh pembeli tidak semudah yang dibayangkan.Usaha pembuatan telur asin yang dirintis sejak tahun 2014 tersebut harus jatuh bangun selama 2 tahun.

Pada tahun pertama, Anik harus bolak balik menerima kenyataan pahit, di mana dari 100 butir telur asin yang dibuatnya, lebih dari separuhnya selalu dikembalikan oleh pemilik toko tempat menitipkan hasil telur asin olahannya.

“Ya rugi. Banyak nggak kembali modal. Kalau dikembalikan seperti itu,” katanya.

Meski sering dikembalikan, beruntungnya pembeli memberitahukan kekurangan dari telur asin bikinannya. Salah satu keluhan pembeli adalah tidak tahan lama.Mengetahui kekurangan dari produknya, Anik berburu ilmu, dari media sosial hingga berguru kepada para pembuat telur asin di Magetan dan Ponorogo.

Meski masih terus merugi, namun dengan seiring upaya perbaikan di produksi telur asinnya, perlahan lahan semua telur asinnya kemudian diterima pasar.

Berbekal telur asin yang awet sampai 4 hari ternyata tak memuaskan rasa penasaran Anik. Dia mencari tahu selain awet apa yang diinginkan pelanggan dari mengonsumsi telur asin.Dari sejumlah pelanggan, Anik tahu jika telur asin yang masir saat dimakan adalah telur asin yang diburu penyuka telur asin.

“Masir itu telur asin saat dibuka terasa lembut dan tidak menggumpal. Saat masuk mulut itu seperti pecah. Itu yang disukai pembeli,” katanya.

Lagi-lagi dibutuhkan waktu hingga setahun untuk berburu tips agar bisa membuat telur asin produknya bisa menjadi masir seperti keinginan pelanggan. Anik mengaku dibutuhkan takaran yang pas antara campuran garam, rempah-rempah serta adonan pembalut telur untuk membuat asin serta lamanya waktu pemeraman yang akan mempengaruhi kualitas dari telur asin tersebut.

“Butuh waktu lama untuk mencari takaran bumbu dan waktu lamanya pemeraman agar telur asin itu bisa masir,” ucap perempuan penyuka warna merah tersebut.

 

 

Membuat Varian Rasa dari Coba-coba

Seiring keberhasilannya membuat telur asin yang masir, usahanya mulai berkembang dengan banyaknya permintaan pasar. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Anik mengaku melebarkan jaringan penyuplai telur bebek untuk dijadikan telur asin yang masir.Tetangga rumah yang memiliki bebek direkrut untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok telur bebek.

“Kalau tetangga kan kita tahu kualitas telurnya dan dijamin telur yang fresh,” katanya

Peningkatan penjualan olahan telur asin miliknya tak cukup memuaskan rasa keinginan Anik untuk membuat sesuatu yang baru dari produk telur asinnya. Kalau telur asin rasanya asin itu adalah hal biasa.Pada tahun 2016, penyuka lagu pop jazz ini mencoba coba dengan membuat telur asin rasa bawang pedas.

“Percobaan pertama itu untuk mengurangi bau amis dari telur. Kalau rasa pedas itu karena ada permintaan dari pembeli. Kita tes pasar dan ternyata banyak yang suka,” jelasnya.

Lagi-lagi untuk bisa menghadirkan rasa telur asin yang memiliki aroma harum bawang dengan rasa pedas tidak semudah membalik halaman buku. Dibutuhkan teknik agar bumbu dan rempah pedas dari cabai bisa masuk ke dalam telur bebek.Untuk menghasilkan asinan telur bebek dengan rasa bawang pedas, menurut Anik, harus dimulai dari proses pembersihan telur bebek.

“Harus bersih membersihkan telurnya. Proses awal ini sangat penting karena mempengaruhi bukaan pori pori telur,” katanya.

Dia memaparkan, pembukaan pori-pori telur sangat menentukan keberhasilan pembuatan telus asin rasa bawang pedas. Melalui pembukaan tersebut rempah-rempah yang akan mempengaruhi rasa telur dimasukkan terlebih dahulu sebelum cangkang kulit telur dibaluri adonan dari serbuk arang, garam serta campuran dari tumbukan batu bata halus untuk memproses menjadi asinan telur.

Berawal dari telur asin bawang pedas tersebut Anik Darwati kemudian mengembangkan asinan telur buatannya menjadi telur asin dengan berbagai macam rasa. Bahkan pelanggan bisa memesan telur asin dengan rasa yang diinginkan selagi bahan untuk membuat rasa tersebut tersedia.

Untuk memaksimalkan pemasaran, selain membuat berbagai varian rasa telur asin produknya, Anik juga berinovasi degan memaksimalkan daya tahan asinan telur buatannya. Dari sejumpah percobaan yang dia lakukan, akhirnya Anik mampu membuat telur asinnya bertahan hingga 12 hari di suhu ruangan.

 

Dari Jualan Titip di Toko hingga Jualan Sampai Hongkong

Memiliki produk yang disukai oleh pembeli tak serta merta membuat langkah Anik berhenti berinovasi. Setelah mampu memenuhi permintaan toko-toko di sekitar rumahnya dan reseller yang tersebar di Kabupaten Magetan, Ponorogo dan Kota Madiun, Anik membidik pasar on line dan pemasaran sistem pesan antar dari ojek daring.

“Reseller ada 15,2 hari sekali mereka mengambil sesuai jadwal. Penjualan online ada di Bukalapak, olx dan rencananya mau ke Go Food dan Go Grab, tapi masih terkendala untuk titik penjemputan. Masih nyari lahan di kota,” ucapnya.

Mampu menghasilkan asinan telur yang bisa bertahan 12 hari membuat Anik Darwati mulai membidik pasar internasional. Para pekerja migran di luar negeri menjadi target pemasarannya.

Berkat upayanya tersebut saat ini setiap seminggu sekali Anik mampu mengirimkan telur asin dengan berbagai varian rasa tersebut ke Taipei dan Hongkong.

“Tiap minggu ada permintaan kiriman 400 butir telur ke Taipei. Waktu pengiriman kebetulan hanya 2 hari sudah sampai,” katanya.

 

Sebulan Raup Laba Rp 15 Juta

Dalam sehari, usaha telur asin yang digeluti di sela-sela kesibukanya sebagai Dosen bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Ponorogo tersebut membutuhkan 1.000 hingga 2.000 butir per hari. Anik sendiri dibantu oelh 5 karyawan dari panti asuhan yang tak jauh dari rumahnya.

Dari menggeluti bisnis telur asin tersebut, Anik mengaku mampu mengumpulkan laba bersih setiap bulan tak kurang dari Rp 15 juta. Untuk menularkan ilmunya dalam pembuatan telur asin tersebut, Anik aktif di berbagai kegiatan motivator bagi pengusaha milenial. Sejumlah undangan dari lembaga pemerintah dan organisasi pegiat enterpreneur juga sering mengundang Anik sebagai pembicara.[KCP]

You may also like...