March 26, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kunci Ketenangan itu Bernama Ridha dan Memaafkan

3 min read

JAKARTA – Di tengah perjalanan hidup yang penuh ujian, ada dua sikap hati yang menjadi benteng paling kokoh dari kerusakan batin: ridha terhadap ketentuan Allah dan kemampuan memaafkan kesalahan sesama.

Keduanya bukan sekadar akhlak mulia, melainkan sumber ketenangan jiwa, penguat iman, dan kunci lahirnya kehidupan yang damai di dunia serta keselamatan di akhirat.

Hidup manusia tidak pernah lepas dari dua kenyataan: takdir yang datang dari Allah dan interaksi dengan sesama yang kerap menimbulkan luka. Ada saatnya seseorang menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan; ada pula saat ia disakiti oleh orang lain.

Dalam dua kondisi itulah kualitas iman diuji: mampukah ia menerima ketentuan Allah dengan lapang dada, dan mampukah ia memaafkan kesalahan manusia dengan hati yang bersih?

Rida terhadap ketentuan Allah merupakan tanda kedewasaan iman. Rida bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima dengan tenang apa yang terjadi setelah ikhtiar dilakukan.

Hati yang rida meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, meskipun manusia sering kali tidak memahami hikmahnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan bahwa pandangan manusia terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Ketika seseorang mampu rida terhadap ketentuan-Nya, ia tidak mudah hancur oleh kegagalan, tidak larut dalam penyesalan, dan tidak diliputi kemarahan terhadap keadaan.

Allah juga berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”

(At-Taghabun: 11)

Para ulama menafsirkan bahwa petunjuk hati dalam ayat ini adalah kemampuan menerima takdir dengan lapang dada serta keyakinan bahwa di balik setiap peristiwa terdapat hikmah yang Allah siapkan.

Adapun kebaikan kedua adalah memaafkan kesalahan manusia. Dalam kehidupan sosial, setiap orang pasti pernah berbuat salah, menyakiti, atau mengecewakan orang lain. Jika setiap kesalahan dibalas dengan dendam, kehidupan akan dipenuhi pertengkaran dan kebencian. Karena itu, Islam menempatkan sikap memaafkan sebagai akhlak yang luhur.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)

Ayat ini menunjukkan hubungan yang indah antara memaafkan sesama dan memperoleh ampunan Allah. Siapa yang ingin diampuni, hendaknya belajar mengampuni.

Rasulullah ﷺ adalah teladan agung dalam memaafkan. Dalam banyak peristiwa, beliau memilih memaafkan meskipun mampu membalas. Hal ini menunjukkan keluasan hati seorang nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Beliau bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah tidak menambah kepada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.” (Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan sumber kemuliaan. Orang yang memaafkan justru ditinggikan derajatnya, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah.

Jika dua sikap ini bersatu dalam hati seorang mukmin, yaitu rida kepada takdir Allah dan memaafkan kesalahan manusia, maka hidupnya akan dipenuhi ketenangan. Ia tidak mudah kecewa terhadap keadaan dan tidak memelihara kebencian terhadap sesama. Hatinya menjadi lapang, pikirannya jernih, dan langkah hidupnya terasa ringan.

Ridha membuat seseorang berdamai dengan kehidupan, sedangkan memaafkan membuatnya berdamai dengan manusia. Kedua sikap ini membebaskan hati dari beban dendam, iri, dan amarah yang sering kali menjadi sumber kegelisahan jiwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap rida dapat dilatih dengan menyadari bahwa setiap peristiwa berada dalam rencana Allah. Sementara itu, sikap memaafkan dapat dilatih dengan mengingat bahwa kita sendiri adalah manusia yang penuh kesalahan dan sangat membutuhkan ampunan-Nya.

Para ulama sering mengatakan bahwa hati yang bersih adalah hati yang tidak memprotes takdir Allah dan tidak menyimpan dendam terhadap manusia.

Pada akhirnya, dua sikap ini menjadi pelajaran penting bagi setiap muslim: menerima apa yang Allah tetapkan dan memaafkan apa yang manusia lakukan. Rida menjaga hubungan kita dengan Allah, sedangkan memaafkan menjaga hubungan kita dengan sesama manusia.

Jika keduanya terjaga, kehidupan akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, serta harapan akan rahmat Allah pada hari ketika setiap amal diperhitungkan. []

Penulis :  Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply