June 12, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Larangan Dicabut, Ratusan PMI Berangkat ke Inggris

2 min read

JAKARTA – Inggris kembali mengambil pekerja musiman asal Indonesia tahun ini. Sekitar 500 pekerja migran Indonesia (PMI) diberangkatkan ke Inggris pada Rabu (8/5/2024).

Dalam acara pelepasan pemberangkatan yang digelar di Rumah Sate Haji Subeki, Bekasi, Jawa Barat, para PMI tersebut nantinya ditempatkan di sektor perkebunan melalui skema pekerja musiman (seasonal worker scheme) pada musim petik 2024.

Mereka diberangkatkan secara bergelombang sesuai permintaan perkebunan Inggris. Rombongan pertama terdiri dari 19 orang dan dijadwalkan diberangkatkan pada Senin (13/5/2024) mendatang.

Para PMI tahun ini diberangkatkan oleh PT Mardel Anugerah Internasional, Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang berkantor di Jakarta

Ini adalah kali pertama PT Mardel mengirim PMI ke Inggris dan penempatan tersebut terwujud berkat kerja sama dengan AGRI-HR, salah salah satu perusahaan Inggris yang ditetapkan Kementerian Dalam Negeri negara itu sebagai operator untuk mendatangkan pekerja musiman sektor perkebunan tahun 2024.

Direktur Utama PT Mardel, Delif Subeki, mengatakan keterlibatan perusahaannya dalam pengiriman pekerja musiman Indonesia ke Inggris tidak melihat sisi bisnis semata, melainkan menempatkannya sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“Faktor ini sesungguhnya salah satu yang menjadi pemicu dan mendorong kami untuk dapat mengirim pekerja migran Indonesia SWS UK (skema pekerja musiman Inggris),” jelasnya, seperti dikutip detikNews.

Keberangkatan tenaga kerja Indonesia itu merupakan yang pertama sejak Inggris memutuskan tidak mempekerjakan tenaga kerja dari Indonesia pada 2023 lantaran banyak PMI yang dikirim pada 2022 memutuskan kabur.

Para PMI yang kabur dilaporkan tidak pulang ke Indonesia meskipun masa berlaku visa bekerja sudah berakhir.

Dalam penempatan perdana pada 2022, sekitar 250 PMI kabur. Beberapa di antara mereka sudah pulang ke Indonesia, baik atas keinginan sendiri maupun karena dideportasi. Namun mayoritas masih tetap tinggal di Inggris. []

 

Advertisement
Advertisement