June 13, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Lebih dari Separo Penduduk Hong Kong Tak Mau Divaksin

3 min read
Hong Kong during pandemic (Foto HK01)

Hong Kong during pandemic (Foto HK01)

HONG KONG – Sebuah survei menemukan, lebih dari setengah penduduk Hong Kong tak mau divaksinasi Covid-19, naik 17 poin persentase selama dua bulan terakhir.

Survei yang dilakuan Universitas Hong Kong (HKU) itu juga mengungkapkan, hanya kurang dari tiga dari 10 penduduk siap disuntik menggunakan vaksin yang dikembangkan perusahaan China daratan, Sinovac Biotech di tengah kekhawatiran terkait efektivitasnya yang rendah.

Hasil survei ini muncul saat Hong Kong melaporkan 39 kasus baru virus corona pada Kamis. Hong Kong mencatat 10.321 kasus infeksi, dan 176 kematian.

Dekan Fakultas Kedokteran HKU, Profesor Gabriel Leung, yang terlibat dalam penelitian itu mengatakan pemerintah, komunitas ilmiah, dan WHO perlu menyiapkan “bukti ilmiah yang kuat” untuk menghilangkan kekhawatiran penduduk terkait vaksin.

“Membangun kepercayaan dengan menjadi jujur, terbuka, dan transparan serta keyakinan ilmiah,” ujar Leung pada Kamis, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (29/01/2021).

Survei tersebut terdiri dari dua cabang penelitian independen. Berdasarkan serangkaian survei, bagian pertama – yang melibatkan lebih dari 1.000 responden yang disurvei antara 6 dan 17 Januari – menunjukkan penurunan jumlah penduduk yang ingin divaksin, dari 63,2 persen pada November menjadi 45,9 pada Januari.

Bagian kedua – survei telepon mingguan terhadap 500 hingga 1.000 orang dewasa – menemukan persentase penduduk yang mau divaksin turun dari 67,4 persen menjadi 50,2 pada periode yang sama.

“Menariknya, hasil dari dua survei tersebut sangat cocok, meskipun mereka menggunakan metode pengambilan sampel dan kumpulan responden yang berbeda, yang menunjukkan bahwa temuan tersebut sangat akurat dan mewakili sains,” jelas Leung.

Dia menekankan, proporsi penduduk di China daratan yang disurvei untuk pertanyaan yang sama pada Juni 2020 adalah 88,6 persen, 79,8 persen di Afrika Selatan dan 67,9 di Singapura. Tetapi Leung mengatakan kepercayaan global terhadap suntikan vaksin secara luas menurun karena informasi yang salah dan kebingungan terkait vaksin yang meningkat.

 

Tingkat Penerimaan Vaksin

Di antara tiga merek vaksin yang dibeli pemerintah Hong Kong, vaksin Pfizer-BioNTech memiliki tingkat penerimaan tertinggi, yaitu 55,9 persen, sedangkan vaksin AstraZeneca memiliki tingkat penerimaan terendah, yaitu 35,3 persen. Kepercayaan publik terhadap vaksin Sinovac turun dari 38,2 persen menjadi 29,5 persen setelah data dirilis oleh Butantan Institute di Brasil yang menunjukkan tingkat kemanjuran yang sangat rendah, yaitu 50,4 persen.

Hong Kong sepakat membeli 22,5 juta dosis vaksin Covid-19, dengan 7,5 juta suntikan masing-masing berasal dari tiga pemasok: Sinovac Biotech; Fosun Pharma yang menawarkan vaksin yang dikembangkan bersama oleh BioNTech Jerman dan Pfizer yang berbasis di AS; dan perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca.

Sebelumnya Kepala Eksekutif Carrie Lam Cheng Yuet-ngor mengatakan warga tidak akan diizinkan untuk memilih vaksin yang akan mereka terima, namun kemudian diklarifikasi di mana warga boleh memilih.

Vaksinasi juga mengalami penundaan setelah Sinovac tidak mengirimkan dosisnya pada Januari seperti yang dijanjikan dan gagal mempublikasikan data uji coba tahap akhir yang komprehensif. Vaksin BioNTech diperkirakan menjadi yang pertama tiba pada akhir Februari setelah Tahun Baru Imlek.

 

Hilang Kepercayaan

Penelitian HKU menunjukkan masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap keamanan dan efektivitas vaksin Covid-19, dengan hanya 45,3 persen responden yang masih percaya bahwa mereka akan aman, turun dari 59,6 persen dua bulan lalu, sementara 54 persen menganggap suntikan vaksin efektif, turun dari 67,1 persen pada November.

Leung mengakui masalah keamanan telah merusak kepercayaan publik terhadap vaksin, tetapi menekankan bahwa keraguan atas prosedur eksperimental bukanlah hal yang aneh.

“Itu tidak mengherankan,” cetusnya.

“Ketika dokter memberikan obat atau jarum baru, pasien sering bertanya tentang efek samping dan apakah mereka benar-benar perlu meminumnya. Hal ini terjadi setiap hari di rumah sakit. Hal terpenting adalah bagaimana kita membangun kepercayaan di antara masyarakat untuk menggunakan vaksin. ”

Kepala divisi epidemiologi dan biostatistik fakultas kesehatan masyarakat HKU, Profesor Benjamin Cowling mengatakan pola survei konsisten dengan tren di luar negeri, tetapi diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan alasan di balik perbedaan tersebut.

Leung juga mengungkapkan HKU akan mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menjalankan salah satu dari 18 pusat vaksinasi komunitasnya dan menyediakan tenaga ahli dari bangsal kecelakaan dan gawat darurat, trauma dan anestesiologi yang berpengalaman dalam menangani keadaan darurat medis yang timbul dari efek samping vaksin. []

Advertisement
Advertisement