May 26, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Lennon Wall, Cara Warga Hong Kong Sampaikan Aspirasi

3 min read

HONG KONG – Demo Hong Kong yang berlarut-larut tak hanya membuat masyarakat negara semiotonomi China itu resah dan terbelah. Aparatus Sipil Negara (ASN) atau pegawai negeri Hong Kong pun ikut resah dengan ketidakpastian politik Hong Kong tersebut. Apalagi, aksi demo Hong Kong akhir-akhir ini mulai anarkis dan diwarnai sejumlah bentrokan.

Suasana semakin tak menentu karena ada desakan dari masyarakat China agar Beijing mengerahkan militer untuk mengambil-alih situasi keamanan. Hal ini merebak di media sosial China setelah pada pendemo merusak kantor perwakilan China di Hong Kong, Minggu lalu.

Berbeda dengan masyarakat sipil yang menyampaikan keluhan secara terbuka, PNS Hong Kong menuliskan kerisauan mereka melalui tulisan di kertas warna-warni yang ditempel di Lennon Wall.

Lennon Wall adalah jalur atau lorong pejalan kaki dari jalan raya menuju Admiralty tempat pemerintah eksekutif Hong Kong berkantor.  Setiap hari, Lennon Wall ini dilalui oleh pejabat dan pegawai pemerintahan, termasuk Kepala Eksekutif Carrie Lam.

Lennon Wall merujuk nama dinding yang sama di Praha, ibukota Repiublik Ceska, tempat para penggemar penyanyi pop legendaris John Lennon, bisa mengungkapkan rasa kekaguman mereka di dinding tersebut. Lennon Wall ini muncul di Praha pada 1980-an, setelah kematian John Lennon, pentolan The Beatles yang tewas ditembak oleh penggemarnya.

Dilansir dari South China Morning Post, PNS Hong Kong secara anonim menyuarakan rasa frustrasinya terhadap pemerintah dan polisi dalam menangani kerusuhan baru-baru ini.

Namun, lima pimpinan pemerintahan dan keamanan, Rabu (24/7/2019) berjanji, mereka akan tetap bersatu untuk menegakkan aturan hukum kota dan memberikan “dukungan tak tergoyahkan” kepada kepala eksekutif Hong Kong yangt diperangi oleh pendemo.

Dari tulisan yang dilansir SCMP, para pegawai mendesak atasan mereka untuk menyelesaikan kebuntuan politik saat ini. Pesan-pesan itu juga menyerukan penarikan lengkap rancangan undang-undang ekstradisi yang sekarang ditangguhkan, serta penyelidikan independen terhadap bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa.

Tidak hanya PNS, Lennon Wall menjadi tempat curhat masyarakat yang menentang RUU dalam beberapa pekan terakhir.

“Apakah Anda mendengar orang-orang bernyanyi?” Tulis seorang pegawai negeri di papan tulis. “Apa yang kamu inginkan, Carrie Lam?”

Ada juga gambar-gambar di dinding yang memperlihatkan para pemrotes memegang plakat bertuliskan “Pulihkan Hong Kong”.

Pemerintahan Carrie Lam sudah membentuk semacam badan peneliti yang diisi oleh sekitar 250 anak-anak muda untuk meneliti suara masyarakat, terutama kaum muda, terhadap berbagai kebijakan pemerintahan.

Anggota Pico ini juga termasuk mengumpulkan informasi dari Lennon Wall ini. Tak hanya koridor menuju Admiralty, sejumlah Lennon Wall bermunculan di sudut kota. Misalnya dekat pintu masuk stasiun MTR Pasar Tai Po dan lokasi bublik lainnya. Orang-orang menulis slogan-slogan pro-demokrasi menggunakan kertas berwarna-warni.

Secara terpisah, Rabu malam, lebih dari 300 pejabat eksekutif pemerintah menyatakan penyesalannya terhadap administrasi melalui email yang dikeluarkan ke berbagai outlet berita dengan melampirkan foto-foto kartu staf mereka.

Kelompok itu menggemakan tuntutan yang diajukan oleh pengunjuk rasa, menyerukan penarikan penuh RUU dan penyelidikan independen terhadap tindakan polisi.

“Menembaki pengunjuk rasa, memukuli warga dengan tongkat, meninggalkan mereka di rumah sakit … Apakah polisi –bahkan secara profesional– melindungi orang-orang?” Tanya mereka.

“Sebagai pelayan publik, kami mengutuk keras tindakan kepolisian.”

 

Pasukan Putih Melabrak

Namun, kelompok pasukan putih pro-Beijing dua kali merusak Lennon Wall. Ratusan orang berbaju putih, sebagian besar mengenakan topeng, berkumpul di Hong Kong utara untuk merusak Lennon Wall dan menggantinya dengan poster pro-pemerintah.

Kelompok ini sudah dua kali melakukan perusakan ini, pada Selasa dan Jumat pekan lalu. Kelompok ini diduga juga yang menyerang para demonstran, Minggu malam.

Menurut anggota dewan distrik Tai Po, Au Chun-wah, enam kelompok yang membawa sekitar 60 orang, tiba di dekat stasiun MTR sekitar pukul 02.00 dinihari. Enam hingga tujuh mobil pribadi dan sebuah truk tiba pada saat bersamaan, katanya.

Au memperkirakan ada sekitar 300 orang, mereka mengenakan topeng dan pakaian hitam atau putih. Dia yakin sebagian besar warga Hong Kong karena dia mendengar mereka berbicara dalam bahasa Kanton (bahasa sehari-hari warga Hong Kong) dan Mandarin (bahasa China daratan).

Mereka menghapus banyak pesan dan menempelkan poster untuk rapat umum pro-pembentukan yang dijadwalkan pada hari Sabtu, di Taman Tamar di Admiralty.

Dalu Lin Kok-cheung, seorang penduduk Tai Po yang berusaha menjaga dinding ketika kelompok itu tiba mengatakan, ia dan yang lainnya terpaksa mundur karena jumlah mereka terlalu banyak.

“Kami tidak memiliki banyak orang. Bahkan jika kami bisa melawan, kami tidak ingin ada bentrokan di sini,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Dia percaya kelompok itu juga berada di belakang serangan terhadap Lennon Wall, Selasa lalu dan penyerangan di stasiun, Minggu malam.

Meskipun dirusak, aksi mural Lennon Wall ini terus berlanjut hingga saat ini. []

Advertisement
Advertisement