Limbah Tulang Sapi yang Berubah Menjadi Benda Seni Bernilai Ekonomi
7 min read
JAKARTA – Berkecimpung dengan dunia kerajinan berbahan dasar tulang, seolah menjadi takdir bagi Putu Evan (28). Lahir di dari sebuah keluarga perajin ukiran tulang di Tampaksiring, Gianyar, Bali, Evan kemudian meneruskan bisnis yang sudah melekat erat dengan leluhurnya itu. Padahal, dia tak pernah menyangka akan kecemplung juga di bisnis ini.
Evan menceritakan, awalnya ia mencoba-coba untuk melanjutkan kerajinan bone carving yang sudah digeluti generasi kakeknya di tahun 1980-an. Pada masa kakek dan orang tuanya, kerajinan ukir tulang ini masih didominasi bahan dasar gading gajah, dan menjadi salah satu mata pencarian andalan bagi masyarakat Tampaksiring. Tak heran banyak pengrajin ukir tulang berada di sini.
“Almarhum kakek dulu pengrajin dan masih pakai gading gajah yang dapat dari jenderal-jenderal atau traveler yang high end gitu. Biasanya mereka pesan untuk dibuat jadi tongkat komando atau penyangga keris. Karena sudah dilarang, jadi dicarilah alternatif bahan baku yang tidak merusak ekosistem,” tutur Evan dinukil dari Valid, Selasa (3/3/2026).
Berbagai tulang binatang ia coba untuk diukir. Mulai dari tulang kambing, tulang babi, hingga tulang ayam, semua dicobanya. Penemuannya bermuara pada tulang kerbau maupun sapi. Keduanya dinilai tak terkendala dari suplai bahan baku yang cukup tinggi dan struktur tulang yang cenderung kuat dan tebal.
Evan yang merupakan lulusan Manajemen dari Universitas Atmajaya Yogyakarta ini pun mencoba mengaplikasikan ilmunya dengan membuat brand atau merek untuk produk bone carving miliknya sendiri, dengan jenama Wasana Bali pada tahun 2024.
Ide membuat brand sendiri bisa disebut sebagai terobosan baru. Alasannya, meski Tampaksiring yang menjadi kampung halamannya dikenal memiliki banyak pengrajin ukir tulang, namun seluruhnya hanya sebagai pengrajin dan supplier saja. Ayahnya pun demikian.
“Kebanyakan pengrajin di Tampaksiring itu mainnya ya mereka jadi pengrajin, terus ketemu partner misalnya dari luar negeri. Nah mereka langsung ekspor. Makanya orang Bali sendiri sedikit industrinya karena mereka memang tidak dikemas sebagai brand sendiri. Saya melihat ada gap itu. Kalau nggak dikemas sendiri, mungkin orang akan jarang tahu edukasi kerajinan ini,” ungkap Evan.
Wasana Bali bukan sekadar nama. Evan meyakini nama tersebut memiliki arti yang baik, yakni Wasana Karma yang artinya sisa perbuatan seseorang di kehidupan lampau dan dinikmati saat ini dan kehidupan berikutnya.
Hal ini selaras dengan keyakinan Hindu yang mempercayai adanya reinkarnasi dalam kehidupan. Dia merasa yakin dengan nama yang dipilihnya.
“Sama dengan tulang yang kami gunakan. Cara kami memuliakan limbah tulang yang dulunya sudah tidak terpakai lalu kita upcycle lagi jadi barang kerajinan yang mempunyai nilai tambah, baik untuk lingkungan maupun sosialnya,” jelas dia.
Sejauh ini, Evan mengaku masih berfokus untuk memproduksi kerajinan ukir tulang dalam bentuk gelang saja. Keputusan ini menurut dia, sebagai cara untuk memfokuskan lebih dulu target pasar yang ia geluti sekaligus mempelajari selera pasar.
Beberapa simbol aksesori gelang yang ia produksi antara lain; tema laut, mulai dari kura-kura hingga ikan yang umumnya digemari wisatawan yang aktif di dunia laut, seperti peselancar dan penyelam. Kemudian, tema tumbuhan dengan bentuk bunga kamboja Jepun dan beberapa bunga khas Bali, serta tema hewan-hewan yang dilindungi, seperti gajah.
Nekat Seleksi Inkubasi yang Berbuah Manis
Pertama kali Evan memutuskan mulai fokus mengembangkan Wasana Bali, adalah pada medio 2024. Saat itu, Evan mengikuti seleksi untuk inkubasi bisnis yang digelar Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar. Saat seleksi itu, ia hanya bermodalkan ide dan produk pinjaman dari pamannya.
Evan mengaku persaingan cukup ketat dalam seleksi itu. Saat itu sudah banyak pengrajin aksesori yang mendaftarkan ide bisnis mereka, termasuk bisnis aksesori berbahan dasar perak dan kuningan. Namun, ia tetap pede dengan ide bisnis perhiasan bone carving. Evan mengandalkan pada visi yang ia miliki, yakni memperkenalkan kerajinan lokal, sekaligus menyelamatkan alam dengan mendaur ulang limbah tulang.
Berkat ide dan kisah di baliknya, Evan berhasil lolos inkubasi dan bersaing dari ratusan peserta ide bisnis lainnya di Bali.
“Kalau visinya kita hanya berjualan produk, kita kalah karena sudah banyak pemain dalam dan produknya juga nggak apple to apple. Banyak produsen yang buat souvenir kerajinan mirip begini tapi bahannya kan beda, mereka dijual Rp15 ribuan per buah,” jelas Evan.
Selama masa inkubasi tersebut, Evan yang masih sangat pemula di dunia bisnis mengaku banyak terbantu dari binaan BDI Denpasar. Ia mendapat pengajaran dalam membangun profil usaha, menata soul produk dan brand agar lebih menarik, dan terus memberikan dukungan.
“Saya diajarkan untuk mempelajari benar soul dari brand yang mau dibikin itu apa. Itu menurut saya fundamental yang dibutuhkan banget, karena kalau kita nggak ngerti tujuan awal kenapa bikin produk ini, pasti bakal goyah begitu lihat pesaing bikin hal yang baru,” tutur Evan.
Saat awal memproduksi, Evan hanya bermodalkan sekitar Rp1 hingga Rp2 juta dengan jumlah produksi hanya 10 item dengan harga dibanderol sekitar Rp50 ribu. Lambat laun, ia mulai memperbaiki kualitas produknya dan menyesuaikan biaya produksi, sehingga per item aksesori saat ini dijual Rp100 ribu.
Produksi Ukir Tulang
Usaha in terus berkembang. Saat ini, Evan sudah dibantu sekitar sekitar 6-7 orang pekerja, termasuk para pengrajin. Dalam memproduksi satu charm atau aksesori, Evan mengungkapkan perlu 4 hingga 5 orang. Masing-masing memiliki peran yang berbeda karena setiap gelang melewati beberapa proses produksi, mulai dari pemotongan tulang, mengukir, hingga finishing, dan pembuatan tali gelang. Dengan kerja bersama ini, satu gelang rata-rata dibuat hanya membutuhkan 30 menit hingga 1 jam.
Melalui Wasana Bali ini, Evan berhasil melibatkan para pengrajin ukir tulang di sekitarnya. Untuk bapak-bapak kata Evan, mereka akan terlibat dalam proses pemotongan dan pengukiran tulang. Sedangkan para ibu akan terlibat dalam proses pengamplasan dan merajut tali gelang.
Mengingat skala bisnis yang Evan bangun masih kecil, maka proses pembuatan aksesori gelang Wasana Bali tak berjalan setiap hari. Produksi, menurut cerita Evan, hanya berlangsung setiap dua pekan sekali, dengan produksi sekitar 50-100 item. Apalagi Bali dikenal memiliki banyak upacara keagamaan, sehingga proses produksi pun hanya dikerjakan di sela-sela upacara tersebut.
Rata-rata ia mampu memproduksi sekitar 250 hingga 300 item per bulannya. Jumlah tersebut bisa lebih pada musim liburan.
Dalam memproduksi Wasana Bali, Evan hanya menggunakan tulang bagian kaki sapi atau kerbau. Tulang kaki dipilih karena memiliki bentuk yang paling keras dan mudah diolah. Dari satu tulang itu, biasanya ia memproduksi sebanyak 4 hingga 5 charm atau keping aksesori. Sementara itu, bahan baku tulang didatangkan dari Jawa.
Adapun asal bahan baku, disesuaikan dengan keberadaannya. Evan bercerita, tingkat konsumsi sapi dan kerbau sangat rendah di Bali. Suplai tulang sapi dan kerbau dari Jawa ini juga sudah lumrah, karena selama ini sudah banyak distributor tulang yang memasok ke kawasan Tampaksiring untuk diolah menjadi kerajinan.
Meski dominan menggunakan tulang sapi atau kerbau bagian kaki, tak jarang Evan juga menggunakan tanduk sapi maupun kerbau untuk memperoleh aksesori berwarna hitam. Dengan demikian, produksi yang ia hasilkan murni tanpa pewarna maupun bahan kimia apapun.
Pemasaran Via Jalur Pertemanan
Untuk penjualan, mayoritas Evan masih mengandalkan jejaring pertemanan yang berujung partner business to business (B2B). Misalnya saja untuk penjualan di Bali, ia memasarkan melalui temannya yang berada di Canggu, Sanur, Ubud, Denpasar, dan lainnya.
Konsep B2B yang ia jajaki juga tak sembarangan. Evan lebih memilih bekerja sama dengan toko yang mengusung konsep berkelanjutan atau dikenal eco-store, sehingga produk-produk yang dijual di toko tersebut memang seluruhnya produk ramah lingkungan. Hingga saat ini sudah ada sekitar 7 rekanan bisnis atau B2B yang bekerja sama dengan Wasana Bali.
Cara kolaborasi ini menurut dia cukup ampuh dilakukan bagi pelaku UMKM yang masih skala mikro, karena ia yang berperan sebagai produsen belum mampu mengeluarkan modal lebih besar untuk pemasaran produk. Sedangkan toko-toko eco-store juga tak memiliki banyak sumber daya dan modal untuk memproduksi produk yang akan mereka jual. Keduanya saling melengkapi.
Namun, jangan anggap remeh, produk Evan rupanya sudah menembus lintas negara. Beberapa kali gelang Wasana Bali laku terjual kepada turis asing, yang kemudian mereka pasarkan lagi ke negara asal masing-masing, seperti Jepang, Korea, hingga Belanda. Tak tanggung-tanggung, aksesori yang mereka bawa di kisaran 50 hingga 100 item.
“Awalnya ada turis yang cuma beli satu, terus mereka kepikiran ‘Bisa nggak aku beli sekian banyak, aku coba bawa ke negara aku?’. Jadi bisa dibilang kita sudah ekspor tapi jalur pertemanan itu sih. Ada juga yang ke Korea itu dapat dari hashtag di Instagram,” ungkapnya.
Selain melalui pertemanan, Evan juga rutin menjajakan produknya melalui berbagai pameran atau pop-up market di Bali. Cara ini dinilai Evan punya keunggulan lantaran ia bisa langsung bertukar pendapat dengan para calon pelanggannya. Mengingat bisnisnya berada di Bali, maka pameran pun sering digelar dan mayoritas pelanggan produknya merupakan wisatawan mancanegara.
“Bisa dibilang 80% pembeli Wasana Bali itu memang wisatawan asing, karena mereka suka kerajinan-kerajinan begini apalagi ada behind story-nya. Tapi belakangan saya juga baru tahu kalau orang Jakarta juga banyak yang suka barang antik dan handmade begini,” lanjut Evan.
Sampai saat ini, untuk penjualan secara daring atau online, Evan baru membuka melalui iklan di media sosial Instagram dengan pemesanan melalui Direct Message (DM) dan pemesanan di website.
Sementara itu, untuk penjualan melalui e-commerce, Evan mengaku belum mulai menjalankannya. Evan juga tak memilih bekerja sama dengan toko oleh-oleh. Pasalnya, produk Wasana Bali bukanlah aksesori yang diproduksi untuk penjualan secara masif.
Tantangan Wasana Bali
Hingga kini, tantangan terberat yang Evan hadapi selama menjalankan Wasana Bali yaitu, permasalahan waktu. Keseharian warga Bali yang masih menjunjung adat dan budaya, tak lepas dari banyaknya upacara keagamaan maupun upacara adat. Oleh karena itu, ia kerap kali memperhitungkan waktu produksi dengan tanggal-tanggal upacara agar waktu para pengrajin tidak saling bentrok.
Tantangan kedua adalah, meski menerima pesanan sesuai permintaan atau by request, tak jarang Evan masih merasa kesulitan untuk membuat aksesori yang sama persis dengan permintaan pembeli yang sering memesan berdasarkan gambar di internet atau di Pinterest. Menurut dia, pasti akan ada perbedaan antara gambar dua dimensi di internet dengan tiga dimensi yang ia buat.
Meski begitu, Evan mengaku sangat senang menjalankan bisnis kecilnya ini, lantaran ia bisa mengedukasi calon pelanggannya mengenai seni ukir tulang yang menjadi salah satu ciri khas Tampaksiring. Ia juga kerap kali mengajak beberapa pelanggan dekatnya yang penasaran untuk melihat proses produksi aksesori Wasana Bali.
“Beberapa teman atau pembeli itu yang penasaran sama gimana sih cara bikinnya, itu saya ajak main ke workshop langsung. Jadi mereka lihat dan bisa ikut membuat langsung produk yang mereka pesan,” kata Evan.
Tak muluk-muluk, target ke depan yang Evan harapkan adalah Wasana Bali memiliki data base produk yang sesuai dengan target market pilihannya. Apalagi Evan melihat masih banyak produk yang bisa ia hasilkan untuk Wasana Bali ini, seperti tulang yang diukir menjadi mainan, contohnya domino dan catur. Ada juga aksesori kalung dan anting. []
