March 31, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Literasi Digital dan Kebutuhan Zaman: Menyelamatkan Generasi Bangsa di Era Layar Gadget

3 min read

JAKARTA – Coba perhatikan kehidupan sehari-hari kita saat ini. Di ruang kelas, ruang tunggu rumah sakit, hingga ruang keluarga, banyak individu duduk berdekatan tetapi tidak saling terhubung.

Kepala sering tertunduk, mata terpaku pada layar, dan jempol bergerak terus-menerus. Teknologi digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat modern.

Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita yang menguasai teknologi, atau justru teknologi yang mulai mendominasi kita?

Kemajuan digital memberikan berbagai keuntungan. Informasi dapat diperoleh dalam waktu singkat, pembelajaran menjadi lebih fleksibel, dan kesempatan ekonomi semakin luas melalui platform digital.

Namun, bersamaan dengan itu, muncul fenomena baru: penyebaran informasi palsu yang cepat, pertikaian di media sosial, budaya saling serang, serta meningkatnya kecanduan perangkat elektronik di kalangan anak-anak dan remaja.

Jadi, apakah masyarakat kita sudah siap menghadapi banjir informasi yang tidak terbatas ini?

Literasi digital kini menjadi hal yang tidak bisa ditunda-tunda. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi atau internet, melainkan juga kemampuan berpikir kritis, memahami dampak dari informasi, serta menjaga etika komunikasi di dunia maya.

Tanpa keterampilan tersebut, masyarakat akan mudah terjebak dalam manipulasi algoritma dan provokasi informasi.

Nilai-nilai dasar dalam kehidupan bangsa kita sudah lama menekankan pentingnya tanggung jawab moral, rasa hormat terhadap sesama, serta menjaga persatuan dalam keberagaman.

Prinsip-prinsip ini seharusnya tetap relevan di dunia digital. Namun kenyataan menunjukkan bahwa media sosial sering Kali menjadi tempat pertengkaran. Apakah kebebasan berbicara harus selalu mengorbankan rasa empati?

Di sisi lain, setiap individu memiliki hak untuk mendapatkan dan berbagi informasi. Namun, hak ini seharusnya selalu disertai dengan tanggung jawab sosial.

Kebebasan berpendapat di dunia digital seharusnya digunakan untuk memperluas pengetahuan, bukan untuk memperburuk suasana publik.

Gangguan Kesehatan Mental

Dari perspektif medis, fenomena ini bahkan lebih mengkhawatirkan. Otak manusia terutama bagian prefrontal cortex yang berfungsi mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya matang saat remaja.

Paparan konstan terhadap konten digital dapat memicu lonjakan dopamin dan menyebabkan efek adiktif. Tidak mengherankan jika banyak anak mengalami masalah dengan fokus, kecemasan, gangguan tidur, hingga kelelahan mental.

Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), penggunaan media digital yang berlebihan berkaitan erat dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja.

Sementara itu, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pembatasan waktu layar serta dukungan orang tua untuk menjaga perkembangan psikologis anak tetap sehat.

Jika dampaknya sudah berpengaruh pada kesehatan mental generasi muda, bukankah literasi digital seharusnya dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan hanya sebagai pilihan?

Tanggung jawab untuk membangun masyarakat digital yang sehat tidak bisa hanya diletakkan pada satu pihak saja.

Negara dapat mengatur regulasi, sekolah bisa mengajarkan etika digital, tetapi keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk kebiasaan penggunaan teknologi. Tanpa peran bersama, ruang digital akan terus menjadi tempat yang tidak bersahabat bagi generasi muda.

Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Namun, pertanyaan terpenting adalah: Apakah kita ingin menjadi generasi yang bijak dalam menggunakan teknologi, atau generasi yang dikendalikan oleh algoritma?

Akhirnya, masa depan bangsa tidak tergantung pada seberapa maju teknologi yang kita miliki, melainkan pada sejauh mana masyarakat mampu memahami dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis, melainkan juga tentang menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang semakin digital. []

Penulis : Marsha Diva Damayanti, mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply