Loker untuk PMI Mulai Bergeser dari Low Skill ke High Skill
2 min read
JAKARTA – Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Abri Danar Prabawa, mengatakan, saat ini telah terjadi pergeseran permintaan pekerja migran, dari yang low skill menjadi high skill.
“Maka dari itu sekarang sudah saatnya kita bicara kalau bekerja di luar negeri itu akan menjadi bagian dari proses yang bisa disiapkan melalui lembaga pendidikan,” ungkapnya dalam forum diskusi dan sosialisasi bertajuk Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri melalui Penguatan di Perguruan Tinggi di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4).
Lebih lanjut, menurutnya saat ini baru 3,1 persen lulusan perguruan tinggi yang mengisi pasar kerja global. “Untuk itu banyak yang harus kita kerja samakan. Kita harus memastikan yang bekerja ke luar negeri levelnya naik dan juga perlindungannya meningkat,” ujar Abri.
“Pada dasarnya di masing-masing perguruan tinggi pengelolaan CDC ini berfungsi untuk pengembangan karier mahasiswa, karier ekspo, serta konsultasi dan konseling karier mahasiswa,” jelasnya.
“Kami hadirkan CDC internasional atau CDC-MC. Ini upgarding dari CDC yang sudah dilaksanakan di perguruan tinggi. Nantinya di sini akan ada penguatan kompetensi global baik itu pembuatan CV internasional, pelatihan bahasa asing, dan sertifikasi kompetensi. Selanjutnya yang penting juga ialah jejaring lulusan nasional dan internasional sebagai mentoring lintas negara,” lanjut Anggun.
Di lain pihak, Staf Khusus Menteri Bidang Jejaring Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno, mengatakan bahwa data pekerja terampil Indonesia terus bertambah, tapi tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.
“Jadi kebutuhannya tidak pernah bisa terpenuhi. Ada 36 persen defisit. Menurut BPS tingkat pengangguran di Indonesia 7,4 juta. Filipina dan India kirimkan tenaga kerja ke luar negeri tinggi dengan jumlah luar biasa. Tapi kita hanya 200-300 ribu orang per tahun. Ekosistem harus kita bangun untuk long term. Belajar dari Filipina dari 2020 hanya 550 ribu menjadi 3,1 juta pada 2023. Ada ekosistem yang dibangun dengan sistem insentif. Targetnya ada 100 ribu tenaga kerja terampil yang akan bekerja di luar negeri,” ujar Oki.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, Said Saleh Alwaini, menegaskan bahwa sebenarnya permintaan pekerja migran Indonesia dari luar negeri selalu banyak untuk perguruan tinggi.
“Ekosistem untuk merekrut non perguruan tinggi sudah terbangun sejak lama. Jadi lebih mudah. Sayangnya hubungan dengan perguruan tinggi belum terbangun. Dengan kondisi ini, kalau ada permintaan dengan kompetensi tinggi enggak kebayang harus mencari ke mana. Jadi permintaan high level tadi jadinya terabaikan,” tuturnya.
Dengan kegiatan ini, diharapkan terjalin kerja sama yang berlangsung secara berkelanjutan sehingga pekerja migran Indonesia terampil dari perguruan tinggi dapat memenuhi permintaan dari luar negeri. []
