January 28, 2023

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Makna dan Tujuan dari Peringatan Hari Migran Internasional Setiap 18 Desember

2 min read

JAKARTA – Hari Migran Internasional diperingati setiap tanggal 18 Desember, berikut tujuan di balik peringatan tahunan ini.

Migrasi telah menjadi keberanian dari keinginan individu untuk mengatasi kesulitan dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Saat ini, globalisasi bersama dengan kemajuan komunikasi dan transportasi, telah sangat meningkatkan jumlah orang yang memiliki keinginan dan kemampuan untuk pindah ke tempat lain.

Era baru ini telah menciptakan tantangan dan peluang bagi masyarakat di seluruh dunia.

Hal ini juga berfungsi untuk menggarisbawahi keterkaitan yang jelas antara migrasi dan pembangunan, serta peluang yang diberikannya untuk pembangunan bersama, yaitu, peningkatan bersama kondisi ekonomi dan sosial baik di tempat asal maupun di tempat tujuan.

Hari Migran Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 4 Desember 2000, setelah memperhitungkan jumlah migran yang besar dan terus meningkat di dunia.

Pada tanggal 18 Desember 1990, Majelis Umum PBB mengadakan konvensi internasional tentang perlindungan hak-hak pekerja migran dan anggota keluarganya.

Hari Migran Internasional diamati di banyak negara serta organisasi antar pemerintah dan non-pemerintah melalui penyebaran informasi tentang HAM, kebebasan politik fundamental para migran, dan pengalaman serta rancangan tindakan untuk memastikan perlindungan para migran.

Migrasi, dalam hal manusia adalah tindakan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Terutama pindah dari negara asal ke negara baru untuk memulai hidup baru sebagai penduduk tetap di rumah barunya.

Saat ini, pergerakan nomaden biasanya tidak dianggap sebagai migrasi karena tidak ada niat untuk menetap di tempat baru dan karena pergerakan tersebut umumnya bersifat musiman.

Hanya beberapa orang nomaden yang mempertahankan bentuk gaya hidup ini di zaman modern.

Juga, perpindahan sementara orang untuk tujuan perjalanan, pariwisata, ziarah, atau perjalanan tidak dianggap sebagai migrasi, jika tidak ada niat untuk tinggal dan menetap di tempat yang dikunjungi. []

Advertisement
Advertisement