August 11, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

“Membicarakan” Dosa Orang Lain itu Dosanya Lebih Besar

1 min read

JAKARTA – Dosa membicarakan aib seseorang lebih besar dari dosa yang dilakukan orang tersebut. Kita pasti pernah berada dalam situasi ini. Mendengar kabar bahwa seorang teman berselingkuh atau berzina. Membohongi pasangannya. Dan kita lantas mencapnya dengan berbagai label yang jelek. Tanpa sadar, ada setitik rasa sombong yang menyeruak saat kita mengatakan, “Kok, bisa sih, dia tega mengkhianati suaminya seperti itu? Perempuan macam apa seperti itu?!”

Membicarakan aib saudara kita sesama muslim, ternyata membuahkan dosa yang lebih besar bagi kita (yang membicarakannya) daripada dosa yang dilakukan saudara kita tersebut. Karena dalam pembicaraan kita, terkandung rasa sombong (kita merasa memiliki iman yang kuat hingga tidak terjerumus dalam dosa tersebut), suudzan(berburuk sangka) terhadap orang lain, juga ghibah.

Terlebih lagi, kita tidak mengetahui jika ternyata pelaku dosa tersebut sudah bertobat. Taubat nasuha dengan sedalam-dalamnya penyesalan. Dengan sepenuh jiwa raganya, memohon pengampunan Allah. Dan itu terlihat pula dalam kesehariannya. Ia menjadi orang yang lebih tawadhu dan kian dekat kepada Allah.

Sedangkan kita, justru semakin berburuk sangka. Dengan santai, kita mengatakan “sudah berdosa baru deh berubah..tapi kalau asalnya punya akhlak buruk ya tetap buruk.” Naudzubillah…lisan kita ini jauh lebih berbahaya dari perbuatan selingkuh teman kita.

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. Tirmidzi). []

Sumber : muslimah.co.id

Advertisement
Advertisement