May 31, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mengenal Sifilis, Penyakit yang Disebabkan Oleh Bakteri Menular

2 min read

JAKARTA – Kasus infeksi menular seksual merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih terjadi hingga saat ini. Apalagi infeksi menular seksual juga sangat mudah tersebar sehingga sulit untuk dihindari, terutama bagi mereka yang aktif secara seksual. Salah satunya adalah sifilis.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menunjukkan kasus sifilis mengalami lonjakan hingga 70% dalam lima tahun terakhir. Hal ini bisa menjadi sumber masalah baru dalam masyarakat apabila tidak dicegah sejak dini. Namun, apa itu sifilis?

Sifilis merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum. Bakteri ini menular melalui kontak fisik pada saat seseorang berhubungan seksual yang melakukan penetrasi, baik secara oral, vaginal, hingga anal, dengan orang yang terinfeksi penyakit ini. Tidak hanya itu saja, penyakit ini juga bisa menular dari ibu hamil.

“Sifilis dapat pula ditularkan secara vertikal dari ibu hamil kepada janinnya melalui plasenta atau pada saat melahirkan dan kontak langsung dengan lesi sifilis. Tanpa pengobatan yang adekuat, sifilis bisa merusak jantung, otak, atau organ tubuh lainnya, sehingga mengancam jiwa,” tutur Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Eka Hospital Cibubur, dr. Nadia Akita Dewi, Sp.DV dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Untuk gejalanya sendiri, biasanya pada tahap awal seseorang tidak terlalu mengganggu meskipun bisa tetap dilihat dan patut diwaspadai. Pada tahap awal, gejala yang timbul berupa luka yang terkadang tidak menimbulkan rasa sakit. Luka ini bisa terjadi 2-3 minggu setelah terinfeksi. Area luka pun terjadi di sekitar alat kelamin, dubur, rektum, dan mulut.

Setelah 1-6 bulan, sifilis baru akan mulai berkembang ke tahap kedua dan mulai muncul ruam-ruam merah.

Ruam tersebut biasanya tidak menyebabkan rasa gatal, tetapi bisa menyebar hingga ke seluruh tubuh dan diikuti gejala lainnya, seperti demam, kelelahan, kutil, rambut rontok, nyeri otot, penurunan berat badan, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

“Apabila tidak segera mendapatkan penanganan sifilis pada tahap-tahap awal dan kedua, maka sifilis bisa berkembang ke tahap lanjut dan menyebabkan masalah serius pada organ tubuh lainnya, seperti jantung, otak, sistem saraf, hingga tulang,” timpal dr. Nadia.

Sifilis sendiri bisa disembuhkan melalui pengobatan intensif. Jika masih berada pada tahap awal dan belum merusak organ tubuh lainnya, sifilis bisa ditangani dengan obat antibiotik yang diberikan secara rutin oleh dokter.

Namun, jika sifilis telah menyerang organ tubuh lainnya, maka diperlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut untuk bisa menangani kerusakan organ tersebut.

Maka dari itu, dr. Nadia mengatakan pentingnya bagi masyarakat untuk terus sadar akan aktivitas seksual yang dilakukan.

Supaya bisa terhindar dari sifilis, ia menyarankan agar masyarakat selalu menggunakan pengaman atau kondom saat melakukan aktivitas seksual, tidak berganti-ganti pasangan seksual, melakukan pemeriksaan infeksi menular seksual secara rutin, mengetahui riwayat seksual pasangan sebelum melakukan kontak fisik, hingga menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril. []

Advertisement
Advertisement