November 25, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Saat Menghadapi Persoalan Rumah Tangga, Pilih Mencari Solusi apa Melarikan Diri ?

2 min read
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Problematika pasti pernah hinggap dalam kehidupan berumah tangga. Tiap pasangan pun memiliki cara sendiri-sendiri dalam menghadapi dan menyelesaikannya. Nah, sayangnya… ada tipe pribadi tertentu yang memang tidak menyukai konfrontasi dan pada dasarnya menyukai ketenangan atau kedamaian, cenderung melarikan diri atau membiarkan suatu masalah “hilang dengan sendirinya tertelan waktu“. Banyak kita dapatkan orang dengan berkepribadian seperti ini, jika diajak berdiskusi membicarakan solusi sebuah masalah, dia malah tidak mau berlama-lama dan menghindar seraya beranggapan “Sudahlah…lupakan saja…”. Ada masalah yang tidak bermasalah jika diterapkan prinsip “Sudahlah.. lupakan saja“, namun banyak pula masalah krusial yang tidak mempan disikapi seperti ini. Justru sikap menimbun masalah tanpa solusi pemecah persoalan seperti ini malah menimbulkan ledakan bom masalah yang dahsyat di kemudian hari.

 

Pentingnya komunikasi efektif

Komunikasi yang terjalin secara efektif antara pasutri merupakan satu langkah jitu yang bisa diambil sebagai sarana awal pemecahan masalah In syaa Allaah. Secara global, langkah-langkah yang bisa ditempuh adalah:

 

  • Ikhlaskan niat memperbaiki dan mencari solusi hanya karena Allah. Duduklah pasutri bersama-sama dengan tenang, kepala dingin, pengendalian diri dan hati yang menginginkan pemecahan masalah. Kalau di awal saja memang tidak ada niatan untuk melakukan perbaikan dan mencari solusi, bagaimana mungkin seseorang itu sudi duduk meluangkan waktu dan berbicara dari hati ke hati?
  • Pilihlah waktu dan kondisi yang tepat untuk membicarakannya.
  • Sikapilah perbedaan pendapat dengan bijaksana. Kita tidak perlu memaksakan pendapat dan ingin memenangkan pendapat sendiri. Pahami dan hargailah keinginan pasangan meskipun berbeda dengan keinginan kita.
  • Kendalikan emosi ketika terjadi perbedaan pendapat. Hendaknya kedua belah pihak selalu mengedepankan menggunakan bahasa yang santun, halus dan lembut dalam berdiskusi.
  • Hindarilah sikap “sok tahu”.
  • Jadilah pendengar yang “budiman”. Tidak hanya mau didengar saja kata-katanya, namun juga mau mendengar perkataan orang lain dengan seksama dan sabar. Jikalau masalah itu berkaitan dengan kemauan individual, pertimbangkanlah kompromi kemauan kedua belah pihak, meskipun bisa jadi pada akhirnya nanti kemauan masing-masing pihak tidak dapat terpenjuhi seluruhnya “Apa maumu? Ini mauku…mari kita sama-sama mencari jalan tengah dan win-win solution. Kita kompromikan saja kemauan kita jika memang itu masih bisa dilakukan”.
  • Satu hal yang harus diingat mengenai kompromi: kompromi terkadang mengharuskan lahirnya sikap “pengorbanan”.
  • Menjaga komitmen dalam menaati kesepakatan yang telah dibuat, tidak lalu bersikap seenak sendiri. []

Penulis: Ummu Yazid Fatihdaya Khoirani

Advertisement

Leave a Reply