Menghidupkan Lailatul Qadar Setiap Saat, Supaya Beribadah Tidak Musiman
2 min read
JAKARTA – Sepuluh hari terakhir Ramadan kaum muslim menghadang kedatangan lailatulqadar. Malam penuh kemuliaan dan kualitasnya lebih baik daripada seribu bulan.
Mereka beriktikaf di masjid saat larut malam. Bertafakur, merenung, berzikir, dan muhasabah. Masjid ramai jemaah, tapi suasana tetap hening.
Di malam lailatulqadar teringat dengan firman Allah di surah Al-Qadar.
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Para ulama memberikan pesan hikmah. Ada esensi spiritualitas yang lebih dalam dengan memiliki spirit ibadah setiap hari. Jadikan setiap harimu seperti malam lailatulqadar ini.
Pesan ini adalah sebuah metafora. Menjadi motivasi agar seorang muslim tidak hanya giat beribadah pada malam tertentu saja.
Hal ini menggambarkan bahwa seluruh waktu yang Allah berikan adalah kesempatan berharga untuk mengumpulkan pahala. Allah mengingatkan manusia pada surat Al-Ashr ayat 1-3.
Demi masa. sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.
Lailatulqadar hanya terjadi di bulan Ramadan, karena itu jadikan spirit beribadahnya mewarnai setiap hari di kehidupan kita. Kualitas ibadah yang sama seperti di malam kemuliaan secara istikamah.
Rasulullah bersabda: Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim.
Istikamah adalah karamah yang sesungguhnya. Jika lailatulqadar menawarkan pahala seribu bulan dalam satu malam, maka istikamah menawarkan kehadiran Allah di setiap detik kehidupan. Artinya seluruh umur ini adalah waktu mulia yang harus diisi dengan kesadaran penuh kepada sang Pencipta.
Mengapa kita harus menganggap setiap hari adalah lailatul qadar? Inilah keuntungan menghidupkan lailatulqadar setiap hari pada diri kita.
Pertama, menghindari ibadah musiman
Banyak orang menjadi seperti malaikat di bulan Ramadan. Santun dan suka berbagi. Namun kembali menjadi preman setelahnya.
Dengan menganggap setiap hari itu berkualitas, maka berusaha untuk konsisten, sehingga kita menjaga stabilitas iman.
Kedua, kesadaran pada maut
Kita tidak pernah tahu kapan malam terakhir hidup akan tiba. Jika menganggap malam ini adalah lailatulqadar, kita akan ibadah dengan khusyuk dan meminta ampunan dosa-dosa, seolah-olah ini ibadah perpisahan.
Ketiga, keagungan Allah dalam rutinitas.
Ibadah bukan hanya rukuk dan sujud di atas sajadah. Bekerja mencari nafkah, tersenyum dengan tetangga, dan menahan marah adalah manifestasi dari spirit lailatulqadar.
Kita tidak harus menunggu setahun sekali untuk menjadi baik. Ibadah sejati adalah mengubah karakter bukan sekadar mengejar pahala di kalender. Tiap hari akan selalu bernilai di sisi Allah.
Walaupun kita tidak tahu pasti kapan turunnya lailatulqadar, dengan menghidupkan lailatulqadar kita tetap mendapatkan keberkahan karena setiap hari kita jalani ketaatan kepadaNya. []
Penulis : Sutikno, Wakil Ketua PCM Krembangan Surabaya.
