May 31, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Menjadikan Pernikahan Sebagai Kunci Kebahagian

4 min read

JAKARTA – Seringkali, beberapa orang berpikir, menikah akan menyelesaikan segala problem kehidupan. Menikah dianggap sebagai sebuah kunci untuk meraih kebahagiaan. Namun, apakah dunia selinear itu?

Sebuah penelitian yang terbit di Jurnal Social Science & Medicine pada Juli 2023 berjudul “The Socio Political Demography of Happiness”, ditulis profesor emeritus bidang ekonomi dari University of Chicago, Sam Peltzman menemukan, orang yang menikah jauh lebih bahagia dibandingkan dengan yang belum menikah.

Riset itu melibatkan 10.000 responden di Amerika Serikat. Menanyakan tingkat kebahagiaan mereka, lalu menganalisis berbagai faktor, termasuk status hubungan, usia, jenis kelamin, ideologi politik, dan sebagainya.

Peltzman lalu menyusun jawaban survei ke dalam skala -100 hingga 100, dengan -100 mewakili tanggapan orang yang tidak terlalu bahagia, 0 mewakili mereka yang cukup bahagia, dan 100 mewakili orang yang mengklaim sangat bahagia.

Hasilnya, orang yang menikah konsisten mencatat skor 30 poin lebih tinggi pada skala kebahagiaan ketimbang orang yang belum menikah, selama 50 tahun terakhir. Menurut Peltzman, mereka percaya pernikahan memberi sejumlah manfaat yang dapat meningkatkan kebahagiaan, termasuk keamanan keuangan, dukungan sosial, dan tujuan hidup.

“Namun, penting untuk dicatat bahwa pernikahan bukan jaminan kebahagiaan,” tulis Relevant Magazine, 8 Agustus 2023.

“Studi ini menemukan adanya variasi yang signifikan dalam tingkat kebahagiaan di antara orang-orang yang menikah. Beberapa orang yang menikah sangat bahagia, sementara yang lain hanya cukup bahagia atau bahkan tidak bahagia.”

 

 

Lajang vs menikah

Menurut penulis Cristen Conger di How Stuff Works, usia rata-rata perempuan Amerika untuk menikah naik dari 20,8 menjadi 25,3 sejak 1970 hingga 2003. Akan tetapi, lebih banyak pula orang dewasa yang memilih melajang, terutama karena tingginya tingkat perceraian.

Conger menulis, riset telah menunjukkan, orang yang menikah cenderung mendapatkan lebih banyak uang dan hidup bahagia daripada yang belum menikah. Pernikahan juga mempromosikan kesehatan yang lebih baik.

“Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menemukan bahwa suami dan istri lebih sedikit kemungkinan merokok atau minum minuman keras, mengalami sakit kepala yang sering, dan menderita masalah psikologis dibandingkan dengan orang yang tidak menikah,” kata Conger.

Namun, ia mengingatkan, bertaruh pada pernikahan untuk membawa kebahagiaan menjadi perjudian yang berisiko. Ia melanjutkan, dengan melacak tingkat kebahagiaan pasangan selama 15 tahun, seorang profesor psikologi dari Michigan State University menemukan, pasangan menunjukkan peningkatan kebahagiaan segera setelah menikah. Kemudian, tingkat kebahagiaan itu secara perlahan kembali ke kondisi sebelum menikah.

“Polanya mirip dengan efek perbaikan keuangan tiba-tiba terhadap kebahagiaan seseorang,” ujar Conger.

“Bagi orang yang hidup dengan pendapatan yang relatif rendah, uang dapat membeli kebahagiaan untuk sementara waktu. Namun, semakin lama seseorang terbiasa memiliki lebih banyak uang, semakin pudar kebahagiaannya.”

Profesor psikologi di Michigan State University, Richard Lucas mengatakan kepada jurnalis Carolyn Abraham dari The Global and Mail, orang yang menikah cenderung bahagia sebelum pernikahan terjadi.

“Jika Anda sudah bahagia sejak awal, Anda lebih cenderung memilih menikah, tetapi Anda punya sedikit keuntungan dalam hal kebahagiaan,” ujar Lucas.

Lucas mengatakan, orang punya tingkat kebahagiaan dasar. Sementara, kebahagiaan dari menikah hanya dapat memberikan dorongan singkat, sehingga kembali lagi ke tingkat dasar tadi.

“Bagi orang yang masih lajang, ini mungkin memberikan sedikit rasa lega,” kata Lucas.

“(Sedangkan) bagi orang yang akan menikah, mereka harus menyadari bahwa pernikahan tak akan membawa pada peningkatan kebahagiaan menyeluruh. Orang tak boleh punya ekspektasi palsu. Secara rata-rata, orang tak lebih bahagia setelah menikah daripada sebelumnya.”

Penulis buku Single at Heart sekaligus akademikus ilmu psikologi dan otak di University of California Santa Barbara, Bella DePaulo mengatakan, orang yang menikah dan lajang berbeda dalam berbagai hal. Di Amerika Serikat contohnya, orang menikah secara sistematis diuntungkan oleh ratusan undang-undang yang melindungi mereka.

“Orang lajang sebaliknya, sering mendapat stereotip, stigmatisasi, dan marjinalisasi,” tulis DePaulo dalam Psychology Today, 14 April 2023.

“Mereka menjadi sasaran diskriminasi, beberapa di antaranya cukup serius. Mungkin ketidaksetaraan sistematis itulah yang menjadi faktor perbedaan kebahagiaan, bukan karena orang yang menikah ‘punya seseorang’ dan orang lajang tidak.”

DePaulo menjelaskan, pada 2012 sudah ada 18 riset yang menunjukkan, orang yang menikah tak menjadi lebih tahan lama dalam hal kebahagiaan dibandingkan ketika mereka masih lajang. DePaulo menambahkan, intinya orang yang menikah mengalami peningkatan kebahagiaan yang singkat. Kemudian, terkait kesehatan, dari riset yang ia temukan, juga menentang klaim kalau menikah membuat orang lebih sehat.

“Klaim bahwa orang yang menikah lebih bahagia daripada yang lajang sering kali disalahpahami,” tulis DePaulo.

“Seseorang yang lajang kadang-kadang menganggap jika mereka menikah, mereka akan menjadi lebih bahagia, dan orang yang menikah dan bahagia kadang-kadang mengira mereka bahagia karena mereka menikah.”

DePaulo mengusulkan, klaim itu sebaiknya diganti dengan orang yang menikah rata-rata tak menjadi lebih bahagia secara tahan lama dibandingkan ketika mereka masih lajang. “Klaim yang lebih populer, orang yang menikah lebih bahagia daripada lajang, mendorong untuk mengabaikan semua orang yang menikah dan kemudian bercerai atau menjadi duda/janda dan akhirnya kurang bahagia daripada saat mereka masih lajang,” kata DePaulo.

Di sisi lain, DePaulo menerangkan, hal ini juga mendorong narasi yang merendahkan terkait lajang yang bahagia. “Tentu orang lajang mengatakan mereka bahagia, tapi mungkin itu hanya karena mereka menerima kenyataan bahwa mereka ingin menikah tapi itu tak terjadi,” kata DePaulo.

“Tentu mereka memiliki kemandirian, tapi mungkin mereka punya masalah kelekatan (hubungan).”[]

Advertisement
Advertisement