September 27, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Menko Luhut : Ini Penyebab Semakin Bengkaknya Anggaran Subsidi BBM

3 min read

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan soal penyebab terus membengkaknya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) RI, terutama dalam satu dekade terakhir.

Luhut mengatakan, penyebab subsidi BBM yang semakin membengkak setiap tahunnya yakni tak lain karena pesatnya penggunaan kendaraan bermotor di Tanah Air. Luhut membeberkan, setiap satu unit mobil mengonsumsi hingga 1.500 liter per tahun dan untuk setiap satu unit motor mengisi sekitar 305 liter per tahun.

Adapun mayoritas kendaraan di Indonesia menurutnya memilih “menelan” BBM bersubsidi. Akibatnya, subsidi BBM pasti akan terus membengkak.

“Selama 1 dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat mengalami kenaikan yang cukup pesat. Hal ini tentunya berpengaruh pada kenaikan jumlah penggunaan kendaraan bermotor, yang berimplikasi kepada kenaikan subsidi BBM. Saya menemukan data yang dihitung oleh Industri Kendaraan Bermotor bahwa secara rata-rata konsumsi BBM untuk satu unit mobil mencapai 1.500 liter/ tahun dan 305 liter/tahun untuk motor. Bisa kita semua bayangkan ketika dua jenis kendaraan ini kebanyakan menggunakan BBM bersubsidi, maka sudah pasti yang terjadi adalah membengkaknya subsidi BBM,” paparnya, dikutip dari akun Instagramnya, Jumat (09/09/2022).

Guna meredam anggaran subsidi BBM setiap tahunnya, maka menurutnya pemerintah menyiapkan sejumlah strategi dalam meredam kenaikan anggaran subsidi BBM. Salah satunya yaitu dengan percepatan adopsi penggunaan kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) di Indonesia.

“Saya melihat tujuan besar selain untuk mengurangi ketergantungan pemakaian BBM bersubsidi, juga untuk mengurangi emisi CO2 yang ditargetkan dapat turun sebesar 40 juta ton pada 2030 mendatang hanya dari program ini. Anggaran subsidi BBM pada akhirnya bisa dialihkan ke sektor-sektor yang lebih bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Namun demikian, dirinya menyadari bahwa upaya ini memiliki beragam tantangan, mulai dari masalah perbedaan harga, regulasi hingga ketersediaan pilihan kendaraan.

“Untuk itu, pemerintah saat ini sedang merumuskan berbagai kebijakan mengenai pemberian insentif bagi kendaaran EV roda dua dan roda empat. Skema insentif yang akan diberikan masih dihitung bersama agar kita dapat menemukan rumusan yang terbaik demi mendorong pertumbuhan pangsa pasar yang besar bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di tanah air,” paparnya.

Tak hanya itu, dirinya pun meminta tim teknis lintas Kementerian/Lembaga (K/L) agar menerapkan kebijakan yang setara atau lebih baik dari negara lain, di antara yaitu menerapkan kebijakan pembatasan penjualan kendaraan berbahan bakar fosil. Menurutnya, pembatasan penjualan kendaraan berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) ini bisa mendorong percepatan adaptasi penggunaan EV.

“Selain itu, saya juga meminta tim teknis yang terdiri dari lintas K/L agar menerapkan kebijakan yang setara atau lebih baik dari negara lain, yang sudah lebih dahulu menerapkan kebijakan pembatasan penjualan kendaraan berbahan bakar fosil demi mendorong percepatan adaptasi penggunaan EV sehingga kebijakan tersebut bisa cepat kita adopsi di sini,” paparnya.

“Tak lupa saya juga ingatkan agar aturan yang dibuat nanti harus relevan pelaksanaannya karena program percepatan EV ini adalah komitmen bangsa untuk mengurangi subsidi dan juga tentunya menurunkan emisi karbon lewat transisi energi yang ramah lingkungan,” tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut meski pemerintah telah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Pertalite, Solar, hingga Pertamax, pada 3 September 2022, namun tetap saja anggaran subsidi energi di tahun ini bakal boncos.

Adapun subsidi energi yang bakal digelontorkan pemerintah sampai akhir tahun ini diperkirakan tembus Rp 650 triliun. Angka tersebut tentunya jauh lebih besar dibandingkan anggaran subsidi energi tahun ini yang sempat direvisi menjadi sebesar Rp 502,4 triliun.

Bahkan, sebelum adanya keputusan penyesuaian harga Pertalite, Solar subsidi hingga Pertamax per 3 Septemebr 2022 lalu, subsidi energi hingga akhir tahun ini diperkirakan bisa tembus hingga Rp 698-700 triliun.

“Nah saat ini Rp 502 triliun itu sudah bengkak sampai Rp 698-700 triliun. Dengan kenaikan (harga BBM) kemarin, maka kita perkirakan hanya Rp 648-650 triliun. Jadi subsidinya masih besar sekali meskipun kita sudah melakukan peningkatan harga,” ungkapnya dalam acara ‘Energy Corner’ CNBC Indonesia, Senin (05/09/2022).

Dia memaparkan, kenaikan harga BBM per 3 September 2022 lalu dipicu oleh tiga faktor utama, yaitu peningkatan konsumsi BBM, lonjakan harga minyak dunia, dan nilai tukar (kurs).

Harga BBM Pertalite pada 3 September 2022 dinaikkan menjadi Rp 10.000 per liter dari Rp 7.650 per liter, lalu Solar subsidi naik menjadi Rp 6.800 per liter dari Rp 5.150 per liter, dan harga Pertamax naik menjadi Rp 14.500 dari Rp 12.500 per liter. []

 

Advertisement
Advertisement