December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Modal Skill dan Setrum, Eks BMI Ini Sukses Di Kampung

2 min read
-

LAMPUNG TIMUR – Lasmawati, eks BMI asal Desa Lebung, Kecamatan Mataram Baru,  Kabupaten Lampung Timur ini layak diberi apresiasi. Pasalnya, sepulang dari bekerja di luar negeri, tekadnya bulat untuk tidak kembali lagi bekerja menjadi BMI. Berwirausaha mandiri di kampung halaman menjadi tekadnya sejak lama.

Bermodalkan tabungan hasil kerja selama di Timur Tengah, perempuan kelahiran 45 tahun silam ini menekuni dan mengembangkan usaha terapi tradisional dengan   menggunakan metode setruman listrik.

“Berbekal modal hasil dari kerja di Arab akhirnya saya memutuskan pulang kampung. Profesi ini tidak selama nya akan menjadi pekerjaan tetap, jadi ada batasan umur, ” kata Lasmanawati sebagaimana diberitakan teraslampung.com.

Apa yang didapatkan dirinya di Arab itu okeh Lasmanawati dijadikan modal untuk mengembangkan usaha di Desa Lebung. Sebagai Terapis listrik , Lasmanawati sudah banyak menyembuhkan para pasien nya, mulai dari anak muda sampai lanjut usia.

“Metode pengobatan nya sangat mudah, pasien kita baringkan di tempat tidur dan dialiri alat yang mengandung listrik, “katanya.

Bergelut selama tujuh tahun sebagai terapis,  membuat Lasmanawati mantab dengan usaha nya tersebut. Profesi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya ini justru membuat dirinya banyak dikenal orang.

“Pasien saya datang dari berbagai penjuru Lampung, mungkin beberapa pasien yang datang memberitahu kepada warga lainnya sehingga pada datang kesini, ” ujarnya.

Menurut Lasmanawati sejumlah wilayah di Lampung Timur merupakan kampungnya para BMI. Bagi eks-BMI  yang sukses, tentunya bukan perkara yang sulit untuk memulai suatu usaha,  namun bagi yang kurang beruntung, hal itu memerlukan perhatian pemerintah.

“Kasihan sama mereka yang tidak ada modal dan tidak beruntung semasa bekerja di luar negeri. Ini perlu upaya dan campur tangan pemerintah, jangan dibiarkan warga menderita hanya karena mereka pulang membawa kegagalan,” kata dia.

Jika ada asumsi bahwa menjadi BMI itu enak,  kata Lasmanawati, mungkin benar,  karena bayaran di luar negeri sangat menggiurkan.  Namun ada faktor non teknis yang membuat hasil yang didapatkan para BMI justru membuat hudup mereka berbanding terbalik dari situasi yang sesungguhnya.

Bekerja menjadi BMI menurut Lasmanawati ibarat terperangkap di tengah situasi perang. Perang dalam hal ini yakni perang melawan ketertinggalan di negeri sendiri.

“Saya sebagai mantan BMI dan kawan kawan kainnya ini mengadu nasib di negeri orang untuk memperbaiki perekonomian keluarga kami. Hasil yang kami dapat memang menggiurkan, namun siapa yang bisa menebak dibalik apa yang kami dapatkan ada hal yang sangat mengenaskan dan susah utuk diungkapkan ke publik, ” pungkasnya. [Asa/TL]

Advertisement
Advertisement