December 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mompreneur; Solusi Ibu Rumah Tangga Atasi Krisis Ekonomi Karena Pandemi dan WFH

7 min read

JAKARTA – “Kalau enggak kerja, nanti mau ngapain?” Pertanyaan ini akrab didengar di kalangan perempuan, terutama mereka yang hendak menikah dan berpotensi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Jawaban yang umumnya belakangan terdengar adalah, “gampang, nanti juga bisa jualan online. Atau bikin usaha kecil-kecilan”.

Ya, kian hari memang kian banyak ibu rumah tangga merangkap kerja sebagai pebisnis kecil. Berbisnis merupakan opsi termudah yang tersedia bagi kaum perempuan yang harus ikut menopang perekonomian keluarga. Buat mereka yang butuh kegiatan produktif pengisi waktu luang selepas berhenti bekerja kantoran, ini juga jadi pilihan menjanjikan.

Jangan heran saat mendapati ibu rumah tangga yang tidak ngantor, justru punya kocek lebih besar dari karyawan kantoran. Tak sedikit yang justru sukses berbisnis lebih besar, punya pegawai.

Juga, jangan kaget pula melihat barang yang diproduksi dan dijual. Apa saja bisa diperdagangkan dan laku terjual. Sayuran segar, bumbu dapur, popok bayi, makanan beku siap masak, beragam jenis kue, bahkan jamu, semuanya bisa jadi barang dagangan yang laris manis.

Pandemi covid-19 yang berlangsung selama beberapa bulan belakangan, membuktikan betapa penting peranan para ibu rumah tangga yang juga berbisnis. Saat perekonomian goyah dan sumber penghasilan utama—dari kepala keluarga—terancam mampat, usaha kecil sang ibu menjadi pundi-pundi alternatif yang menyelamatkan perekonomian rumah tangga.

Namun, meski kini lebih mudah merintis usaha berdagang online, keberlangsungan dan peningkatan usaha tetaplah membutuhkan perencanaan dan permodalan yang kuat. Ini tantangan para ibu rumah tangga di dunia UMKM. Sebab, tak semuanya dibekali support system yang kuat, atau mengantongi modal besar.

Perlu Bantuan

Endah Pratiwi, ibu hamil dengan usia kandungan enam minggu, adalah salah satu dari mereka. Dia merintis usaha masker kain bermotif setelah kontrak kerjanya sebagai wardrobe stylist usai.

Perempuan yang akrab disapa Tiwi ini mengaku mulai jual masker pada April 2020, saat pandemi baru berlangsung. Omzet yang ia peroleh tergolong lumayan. Dia bisa mengantungi Rp1,3 juta hanya dalam kurun waktu tiga hari.

Tiwi menjual masker dengan harga Rp10.000 per item. Ia menjahit sendiri barang dagangannya. Dia mengaku jika diserahkan kepada tukang jahit, harga jualnya akan jauh lebih mahal.

Sayangnya, pendapatan kian menurun secara drastis. Sekitar 60% belakangan merosot. Ia hanya dapat mengantongi omzet Rp700.000 dalam tiga hari. Itupun kalau peminatnya banyak. Saingan kini lebih banyak.

Kondisi keuangan pasangannya terbilang pas-pasan. Terlebih saat suami Tiwi juga terkena pemutusan hubungan kerja di perusahaannya akibat pagebluk.

Pada masa mendatang, Tiwi berencana untuk mencoba usaha lain. Ia ingin membuka bisnis desain baju dengan jumlah yang lumayan banyak. Dia berharap mengembangkan open reseller, agar dapat membantu orang lain.

“Aku ada planning buat usaha lain yang memang aku fokusin untuk ke depannya. Aku mau fokus ke usaha desain baju yang aku buat sendiri dengan jumlah yang lumayan banyak dan open reseller,” kata Tiwi dikutip dari  Validnews, Sabtu (25/07/2020).

Namun, Tiwi mengaku tak dapat berdiri sendiri. Ia berharap pemerintah membantu pengusaha lokal seperti dirinya dengan pelatihan secara cuma-cuma alias gratis. Sekaligus mempromosikan hasil produksinya melalui media sosial atau dari mulut ke mulut.

Devi Herliani, mompreneur lainnya mengaku memulai usaha kecil-kecilan dengan memanfaatkan peluang usaha makanan kecil di tengah pandemi. Devi menjual beraneka ragam makanan kecil. Mulai dari risoles, salad buah, puding kelapa, donat mini, kolang kaling, sosis bakar, bawang goreng, hingga kerupuk kulit. Makanan-makanan konsumsi rumah tangga sehari-hari.

“Saya memanfaatkan peluang aja. Melihat banyak yang jualan dan ada aja yang beli, saya coba peruntungan itu. Eh, alhamdulillah bisa nambahin buat kebutuhan dapur,” turut  perempuan berusia 33 tahun yang memulai usahanya setelah lebaran kemarin.

Dia mengaku senang dengan omzet Rp3 juta, dan laba bersih sebesar Rp1,7–2 juta per bulan. Pemasukannya itu dia gunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Meskipun bermula iseng, Devi berniat untuk mengembangkan usaha kecilnya. Sama seperti Tiwi, Devi juga menghadapi tantangan lain, yakni modal.

Dalam kasus ini, pelaku UMKM perempuan, baik Tiwi maupun Devi membutuhkan peran pemerintah untuk mengembangkan usahanya.

Mereka bisa saja bertahan. Namun kualitas produksi tak meningkat, penjualan tak meluas, dan pemasukan tak kunjung bertambah.

Stimulus Untuk UMKM Perempuan

Ketika sektor ekonomi formal banyak mendapat tekanan akibat pandemi covid-19, UMKM ada yang mampu bertahan. Pandemi mendorong tren ekonomi bergerak ke arah ekonomi domestik, dimana peran ibu rumah tangga atau para mompreneur makin dominan.

Perkembangan teknologi digital saat ini pun memberikan kesempatan yang sama bagi para ibu rumah tangga untuk bersaing di dunia usaha.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa 99% pelaku usaha di Indonesia bergerak dalam skala UMKM. Sektor ini mampu menyerap 97% tenaga kerja. BPS juga mencatatkan, pada 2018, persentase pengusaha UMKM perempuan mencapai sekitar 43%. Cukup banyak, kan.

Kementerian ini mendata, UMKM tidak terlepas dari peran perempuan, baik sebagai pengusaha maupun tenaga kerja.

Perkembangan mompreneur di Indonesia yang besar, diakui Kemenkop menjadi potensi penggerak perekonomian yang diperhitungkan. Dan, secara keseluruhan, menurut Indonesian E-Commerce Association (idEA) ada penambahan sebanyak 1.069.016 unit UMKM yang tercatat masuk ke ekosistem digital selama periode 14 Mei–15 Juli 2020.

Sayangnya, hingga kini, belum ada program khusus pemerintah untuk mompreneur. Yang disediakan Kemenkop bersifat umum. Adapun program-program yang ditawarkan oleh Kemenkop antara lain pra koperasi, pelatihan-pelatihan, wirausaha pemula, dan koperasi wanita.

Terhadap pengembangan mompreneur dan UMKM, peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development di Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Mirah Midadan mengatakan bahwa tidak semua pelaku usaha atau UMKM bankable. Banyak dari mereka kesulitan berhubungan dengan bank.

Maka dari itu, Mirah berpendapat mestinya skema pinjaman peer to peer lending yang kini digagas fintech dapat menjadi permodalan alternatif.  Namun, hal ini juga memerlukan pengawasan pemerintah.

“Kalau di desa-desa atau UMKM yang dijalankan oleh orang-orang yang belum paham, itu kan susah ya. Harusnya peer to peer lending itu masuknya di situ,” katanya kepada Validnews, Rabu (22/7).

Salah satu yang melakukan ini adalah Amartha. Berdiri pada 2010, sebagai microfinance dan menjadi peer to peer lending pada 2016, Amartha membuka akses permodalan untuk Perempuan Tangguh, pengusaha kecil dan mikro di pelosok desa. Amartha melayani pendanaan bagi pengusaha mikro yang tidak memiliki akses layanan keuangan di pedesaan.

Mitra usaha terpilih Amartha adalah pengusaha mikro perempuan dengan kebutuhan modal mulai dari Rp1,5 juta. Pendanaan Amartha disalurkan untuk usaha produktif di tempat tinggal nasabahnya, yang saat ini tersebar di berbagai pedesaan di Indonesia.

Proses seleksi calon penerima pinjaman dilakukan dengan algoritma skor kredit untuk menilai kelayakan berdasarkan analisis usaha dan kepribadian. Grade A, A- hingga E, merepresentasikan kemungkinan kemampuan bayar dan potensi risiko atau kemungkinan gagal bayar. Amartha mengklaim pendapatan mitranya yang mendapat pendanaan untuk usaha, rata-rata mengalami peningkatan 59,5%.

Pada semester I/2020, peer to peer lending yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pengusaha mikro di desa ini, telah mencatatkan penyaluran sebesar Rp645 miliar kepada 168.125 pengusaha mikro, dengan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB 90) mencapai 98,97%.

“Penyaluran Amartha pada Semester I/2020 tumbuh 43,87% dibandingkan dengan penyaluran pada Semester I/2019, karena dipengaruhi oleh ekspansi bisnis Amartha ke wilayah Sumatera dan Sulawesi. Secara general, terjadi penurunan pendanaan hingga 60% pada April hingga Mei 2020 akibat pandemi covid-19. Namun, telah meningkat signifikan pada Juni hingga saat ini,” kata Pendiri dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra dalam keterangan resminya.

Sektor perdagangan yang dijalankan Mitra Amartha di desa, kata dia, menjadi sektor yang tangguh selama pandemi covid-19 karena menjajakan dagangan yang bersifat primer dengan jangkauan usaha dalam lingkup kecil pedesaan.

Selain Amartha, ada pula Permodalan Nasional Madani atau PNM yang telah meluncurkan layanan pinjam modal untuk perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro dalam program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar) sejak 2015 silam.

PNM Mekaar dikuatkan melalui aktivitas pendampingan usaha yang dilakukan secara berkelompok. Adapun manfaat yang ditawarkan, antara lain peningkatan pengelolaan keuangan, pembiayaan modal tanpa agunan, penanaman budaya menabung, hingga kompetensi kewirausahaan dan pengembangan bisnis.

Program tersebut memiliki beberapa kriteria yang memudahkan. Selain khusus diperuntukkan bagi perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro, PNM Mekaar juga tidak mensyaratkan agunan fisik, melainkan tanggung renteng kelompok dengan syarat kedisiplinan mengikuti proses persiapan pembiayaan dan pertemuan kelompok mingguan, serta membatasi satu kelompok minimal 10 orang.

PNM juga menyediakan layanan Mekaar Syariah yang memberdayakan basis kelompok sesuai ketentuan hukum Islam yang berdasarkan fatwa dan pernyataan kesesuaian dari Dewan Syariah Nasional MUI bagi perempuan prasejahtera.

Kedua lembaga pembiayaan ini dapat menjadi solusi bagi para ibu rumah tangga pelaku UMKM yang membutuhkan modal usaha tanpa beban berlebihan.

Sukses Berbisnis

Di sisi lain, meski banyak usaha para ibu rumah tangga yang tergolong sukses, Mirah menyayangkan skala usaha yang digeluti masih sangat kecil. Jenis usahanya pun monoton.

Dengan demikian, kata dia, turnover atau timbal balik hasil yang diperoleh masih lebih kecil jika dibandingkan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh laki-laki. Ada limitasi atau keterbatasan waktu, terutama bagi perempuan yang sudah punya momongan.

Selain keterbatasan waktu, perempuan juga memiliki keterbatasan dalam aspek manajemen, terutama urusan promosi dan metode pengiriman barang. Jika dulu pembeli bisa datang ke warung atau ke tempat makan, sekarang pergerakan konsumen tak lagi leluasa karena anjuran physical distancing. Kini, pembelian barang dominan dilakukan dengan memanfaatkan internet melalui media sosial.

Selain keterbatasan gerak, Mirah juga menekankan pentingnya kualitas pengemasan produk. Saat ini packaging yang higienis dan kualitas rasa sangat menentukan kesetiaan konsumen. 

Pada aspek inilah, perempuan pelaku UMKM memerlukan asistensi untuk menjaga keberlangsungan usahanya dari pemerintah. Kemampuan dan pemahaman mengenai pengemasan barang sesuai standar mutu, pengelolaan modal, hingga pemasaran yang tepat sasaran, perlu dilatih secara serius.

Terlepas dari segala tantangan yang mesti dihadapi para mompreneur, peneliti Indef ini tetap meyakini bahwa usaha yang dijalankan oleh perempuan bakal lebih bergairah. Karena selama pandemi berlangsung, banyak pengusaha perempuan kreatif berinovasi.

Larinya produk rumahan, seperti aneka jenis panganan, dan masker wajah trendi yang matching dengan pakaian pengguna, bahkan APD adalah indikator jelas masih berlanjutnya bisnis ini. Dan, perkembangan dunia digital dengan e-commerce dan kebiasaan warga yang berubah, lebih menjamin perkembangan ini. [Fitriana/Rheza/Zsasya/Yoseph]

Advertisement
Advertisement