September 26, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Niatnya Hanya Cuti, PMI Hong Kong Asal Karanganyar Terdampar Menjadi Pedagang Pasar

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

KARANGANYAR – Dengan mengenakan jaket bermerk tertentu yang familiar beredar di Hong Kong, pagi itu, Senin, 6 September 2021,  Nurul Khoiri menjalani rutinitasnya berjualan sayur mayur di lapak yang sebelumnya dirintis dan dijalankan oleh ibunya di pasar Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar.

Nurul Khori, sejatinya tidak memiliki niatan ingin menjadi pedagang pasar, minimal untuk saat ini. Pasalnya, gadis lajang yang kini telah menapaki usianya yang ke 26, mengaku menjalani profesi sebagai pedagang sayunr di pasar Ngargoyoso awalnya hanya sekedar untuk mengisi waktu kosong saja, ditengah angan-angannnya ingin kembali bekerja ke Hong Kong.

Nurul sejatinya belum berniat benar-benar mengakhiri masa kerjanya di Hong Kong. Bahkan, terhitung pada bulan Juni 2020 kemarin, Nurul pulang ke Karanganyar hanyalah untuk menjalani hak cutinya saja, menebus kerinduan akan orang-orang tersayang serta segarnya udara kampung halaman.

Namun siapa sangka, niat Nurul cuti dan akan terbang kembali pada Agustus 2020, ternyata terhalang dinamika pandemi dan membuatnya berjibaku dengan dagangan sayur mayur hingga kini.

“Lumayanlah mas, daripada tidak ada pemasukan. Saya menjalani ini sudah sejak awal 2021 kemarin.” Tuturnya.

Awalnya, lapak tersebut sebenarnya dijalankan oleh Mariyatun ibunya Nurul. Namun karena kondisi kesehatan bapaknya, Mariyatun terpaksa harus lebih banyak di rumah untuk merawat Syamsuri ayahanda Nurul.

“Jadi sejak bapak kena stroke, ibu tidak bisa fokus jualan. Ibu lebih banyak di rumah merawat bapak. Bahkan selama bulan November 2020 kemarin, ibu praktis tidak berjualan ke pasar karena bapak belum membaik seperti sekarang. “ tuturnya.

“Pas bulan Desember , ibu mencoba jualan lagi, tapi tidak bisa fokus karena harus terbagi dengan mengurusi bapak yang belum bisa turun dari tempat tidur” lanjutnya.

Melihat hal tersebut, sejak Januari 2021 kemarin Nurul memutuskan untuk menggantikan ibunya berjualan di Pasar.

“Ya minimal sampai saya dapat jalan kembali ke Hong Kong” tuturnya.

Kasat mata, berjualan sayur di pasar kelihatannya sederhana dan mudah. Namun setelah dilakoni, ternyata Nurul menjumpai banyak hal yang sebelumnya tidak dia pahami hingga mengakibatkan jualannya merugi di bulan pertama.

“Saya kan tidak tahu mas, bulan pertama jualan dimarah-marahi ibu, karena antara uang yang dikeluarkan untuk belanja dagangan, dengan pemasukan jumlahnya tidak imbang, alias rugi” aku nurul sembari terkekeh-kekeh.

Setelah banyak-banyak belajar dari pengalaman ibunya, akhirnya pelan-pelan Nurul mulai mengerti, bagaimana mensiasati berjualan sayur mayur agar tidak merugi dan bisa pulang membawa rejeki.

“Keuntungannya sehari bersih sekitar 50-100 ribu saja mas. Kadang gak nyampe 50 ribu. Tak kuat-kuatkan jualan disini, semoga tahun ini saya bisa ke Hong Kong lagi. Data sudah saya masukan ke PT, jadi tinggal nunggu panggilan, karena menurut orang PT saya ini eks, yang tidak perlu terlalu lama menunggu di penampungan. Bisa menunggu dari rumah” pungkas Nurul penuh harapan.[]

 

Advertisement
Advertisement